Tentang proyek sulaman Kemurungan Taman. Saya menulis cerpen Kemurungan Taman sekitar akhir tahun 2025.
Deru kendaraan menemani hari-hari orang banyak setiap hari, beriringan dengan ketidaksabaran, kelelahan, dan segala kesusahan hidup. Tidak ditemukan ketenangan dalam deru kendaraan-kendaran itu. Tak ada orang dengan sukarela terjebak dalam kepenatan ini. Mereka yang ada di sini memaksakan diri saling berjejalan menuju pulang—menunda pulang hanya menumpuk kelelahan.
Linda mengintip dari jendela kamar. Sudah tiga hari terlihat ada orang di rumah depan yang kosong satu tahun terakhir. Orang-orang ini berbeda dengan orang-orang satu bulan lalu yang bolak-balik memakai kaos tipis, celana pendek, berlumuran cat seluruh badan. Orang yang terlihat tiga hari ini ada dua orang. Dua-duanya laki-laki. Yang satu muda—lebih muda dari Linda. Yang satu tua, rambutnya putih semua.
Dia berdiri di ujung lapangan. Aku berdiri di sisi berlawanan. Hujan. Tanah becek dan licin. Aku tak berani menyeberang. Dia berlari menerjang hujan. “Jangan!” aku berteriak. Petir menyambar. Pekak. Dia terpeleset. Aku mengejar. Terlambat. Dia tersungkur. Dia ditembak.
Ibu belum jadi ibu. Ibu masih anak. Ibu sekolah. Ibu main. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja.
“Siapa di sini yang belum makan sejak kemarin?”
Katanya tulisan seperti ini disebut pwisie. Saya nggak tahu tulisan yang saya bikin ngasal ini beneran pwisie atau bukan.
Sri sedang duduk di depan kertas kosong. Ia hendak menulis. Kertas catatan mengelilingi kertas kosong di tengah. Nanti, tulisannya akan mengisi kertas catatan kosong itu. Pertama-tama, ia perlu memilih kata-kata dari catatan yang sudah dibuatnya.
Aku tidak punya orangtua. Aku tidak punya kakak dan adik. Aku tidak punya kakek, nenek, dan paman. Aku punya bibi. Bibiku ada lima. Aku tinggal dengan empat bibiku. Bibi yang satu tidak tinggal bersama kami, hanya datang sekali-sekali. Biasanya ketika hari besar atau ada perayaan.
Kami tidak pernah membuat janji, tapi kami selalu datang ke taman yang sama pada waktu yang sama. Ada taman-taman lain dekat rumah kami, tapi hanya taman ini yang ada ayunan. Tak tentu siapa yang datang duluan antara kami, yang pasti dia selalu ada waktu aku ada di taman.
Sebuah koran ternama dengan reputasi baik mengumumkan besok mereka akan menerbitkan edisi terakhir koran mereka. Generasi sebelumnya, yang tumbuh besar membaca koran tersebut, menyayangkan keputusan ini. Koran ini bukan koran pertama yang berhenti cetak.
Nup melangkah keluar rumah. Langit berwarna biru cerah tanpa ada awan. Langit seperti inilah yang sudah ia tunggu-tunggu. Kemarin langit juga berwarna biru, namun masih ada semburat awan tipis di sana-sini. Nup mengangkat tangannya dan seketika itu juga langit runtuh. Warna biru digantikan oleh abu-abu gelap.
Sukria mewarnai pelangi setiap hari. Satu hari satu warna. Hari Senin warna merah, hari Selasa warna jingga, hari Rabu warna kuning, hari Kamis warna hijau, hari Jumat warna biru, hari Sabtu warna nila, hari Minggu warna ungu. Ia tidak bisa membolos satu hari pun mewarnai pelangi karena jika ia membolos warna pelangi jadi berbeda.
Keluargaku berbakti pada semut. Kami percaya dengan mengikuti mereka, maka hidup kami juga terjamin.
Kabel itu terhubung ke rumah kosong tepat di depan rumah kami. Warnanya abu-abu terang, lebih tipis dibandingkan kabel listrik yang berwarna hitam. Kata ibu itu kabel telepon lama.
Selalu ada satu raksasa di satu ujung jalan.
Jika kau ingin menjadi pahlawan, datanglah ke kota ini. Siapa pun yang bisa menerbangkan layangan di kota ini akan dielu-elukan sebagai pahlawan.
Ayahku adalah seorang penyair meski bukan penyair terkenal. Kau tidak akan menemukan syairnya dicetak dalam buku-buku bersampul mengilap. Ia juga bukan penyair dengan banyak pengikut di sosial media. Tapi dia penyair.
Seorang penyihir ingin membuat surat wasiat supaya dirinya tidak dilupakan ketika sudah tiada. Ia pun berusaha membuatnya dengan meminta saran dua orang temannya.
Setahu saya dalam literatur mana pun sembrani, unikorn, dan babi tidak pernah dipertemukan.
Wanita itu selalu pergi ke luar rumah tepat pukul tujuh pagi. Setiap kali itu juga ia baru sadar kalau engsel pagar rumahnya harus dilas, namun ia tidak pernah memperbaikinya.
Kamu ingin bertemu dengan seseorang yang sudah tidak ada di dunia ini? Kami bisa membantu kamu bertemu dengan orang itu.
Bagaimana kalau seluruh penghuni kompleks ini pindah ke rumah sakit? Lalu hanya tinggal dirinya sendiri yang masih sehat? Ia pasti akan kewalahan menjaga semua rumah dari ujung ke ujung.
Kosong.
Seorang manusia mendongak dan bertanya ke langit, “Wahai langit, apa yang lebih tinggi darimu?”
Pernahkah kamu membunuh semut? Aku yakin, walaupun kamu mengaku sebagai orang yang paling cinta damai sekali pun, kamu pasti pernah membunuh seekor semut. Tidak, aku tidak percaya kalaupun kamu jawab tidak pernah.
Situs ini dibuat dengan tujuan menampung karangan-karangan yang pernah pengarang kirimkan ke media massa. Namun, tidak dimuat entah karena tidak cocok dengan gaya media tersebut atau memang karangan pengarang saja yang jelek. Situs ini adalah situs pribadi yang tidak terkait dengan pihak mana pun. Karangan-karangan yang ada dibuat dengan mengutamakan kepuasan pribadi pengarang 🤪
Kenalan lebih lanjut dengan pengarang.
Pengarang membuka dukungan untuk memperpanjang napas pengarang dan situs ini 🌬. Terima kasih kepada semua pembaca: yang mampir untuk mencari bacaan, yang menyapa di twitter atau memberi dukungan. Apa pun bentuk dukungannya, kalian semua keren!
Mohon maaf kalau situs ini tidak terlihat profesional karena belum punya domain sendiri. Situs ini sudah punya domain! Selamat membaca!
Cerita Jani_