Jumlah kata: 1.118 kata
Sri sedang duduk di depan kertas kosong. Ia hendak menulis. Kertas catatan mengelilingi kertas kosong di tengah. Nanti, tulisannya akan mengisi kertas catatan kosong itu. Pertama-tama, ia perlu memilih kata-kata dari catatan yang sudah dibuatnya.
Catatan yang dibuat Sri sebenarnya acak-acakan. Ia mencatat ide setiap hari. Baik yang muncul ketika melamun atau ide yang dipikir baik-baik tapi tetap tidak matang-matang. Masih mentah padahal ia sudah duduk tiga jam. Posisi kertas catatan sudah ia tukar-tukar. Namun, kertas di tengah tetap kosong selama tiga jam terakhir. Sri menyerah. Ia butuh istirahat. Teringat bahan makanan di rumah sedang habis. Sri pergi ke pasar.
Di pasar ia justru menemukan sebuah los yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Los Katakata. Penjualnya menjajakan kata-kata dan ia mengklaim kata-kata yang dijualnya adalah kata-kata terbaik. “Diolah bagaimanapun, kata-kata ini pasti jadi tulisan yang menggiurkan untuk dibaca.”
Sri tertarik. Ia mengecek kata-kata yang dijajakan penjual. Menurut Sri, si penjual tidak bohong. Kata-kata yang dijualnya adalah kata-kata pilihan, disusun hati-hati menggunakan huruf-huruf yang tepat. Sri tidak jadi membeli bahan makanan. Tanpa ragu ia malah membeli kata-kata itu untuk diolah lagi.
Sambil memikirkan olahan apa yang akan ia buat, Si penjual menyarankan agar Sri menyimpan kata-kata di dalam kulkas untuk menjaga kesegarannya. Sri tidak melakukan seperti yang dikatakan si penjual. Ia kembali duduk di meja dengan kertas kosong di tengah. Sri menyingkirkan catatan-catatannya. Ia membuka bungkus kata-kata yang baru dibelinya dan menumpahkan isinya ke atas meja. Sri membongkar rak buku untuk mencari buku resep olahan kata-kata. Ia mendapati buku resep miliknya berdebu. Memang sudah lama Sri tidak membuka buku itu.
Sri menyusuri daftar isi. Ia sebenarnya sudah akrab dengan nama-nama resep yang tertera di sana, tapi Sri tetap membuka buku resep itu ketika hendak mengolah kata-kata. Takutnya ia keliru mengukur takaran atau ada langkah yang tertukar bahkan terlewat. Semua demi kata-kata yang ia beli tidak terbuang sia-sia. Pilihan Sri jatuh pada Kata Cincang Bumbu Jingga.
Langkah pertama berdasarkan buku resep adalah merebus kata-kata dalam air mendidih. Merebus kata-kata tidaklah seperti merebus kentang. Begitu Sri memasukkan kata-kata ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih, kata-kata saling berlompatan. Semakin sedikit huruf yang dikandungnya, semakin tinggi lompatannya. Kata ‘ia’ yang hanya terdiri dari dua huruf bisa melonjak hingga ketinggan satu meter dari pancinya. Pertama kali Sri merebus kata-kata, ia menggunakan panci seadanya dan banyak kata-kata berjatuhan keluar dari panci. Pengalaman pertama itu jadi pelajaran. Setelahnya, Sri selalu menyiapkan panci yang lebar. Kini ia sudah lihai. Tidak ada kata yang jatuh dari panci.
Rebus kata-kata selama delapan menit, lalu saring airnya. Sri menaburkan bumbu. Satu kata demi satu kata ia lumuri bumbu agar tiap kata mendapat takaran yang sama. Bumbu yang tidak seimbang antarkata bisa mengacaukan hasil jadinya. Kata-kata yang sudah dilumuri bumbu didiamkan selama setengah jam agar bumbu lebih meresap.
Setelah menunggu setengah jam Sri mencicipi olahannya yang masih setengah jadi. Rasanya sudah pas, tapi Sri kurang puas. Menurut Sri rasa yang dihasilkan masih kurang lezat untuk disajikan di hadapan orang lain. Sri memang berencana menyajikan olahannya tidak untuk ia nikmati sendiri, akan ia hidangkan untuk orang lain juga.
Sri memotong-motong kata-kata menjadi ukuran yang lebih kecil lalu kembali merebusnya di dalam air. Kali ini kata-kata yang sudah berlumur bumbu tidak meloncat-loncat sampai keluar panci. Rebusan itu diaduk sampai akhirnya air jadi larutan pekat dan memerangkap kata-kata di dasar panci. Sri mencicipinya lagi.
Namun, kata-kata yang baru ia masukkan langsung dilepeh ke luar. Rasanya sungguh tidak karuan. Sri mematikan api. Padahal hidangan di panci kelihatan menggiurkan di mata. Apa yang salah? Apa ada langkah yang terlewat olehnya? Di buku resep memang tidak ada instruksi untuk memotong kata-kata jadi lebih kecil. Apa itu penyebabnya?
Sri memindahkan kuah pekat itu ke wadah yang berbeda, tapi tidak membuangnya. Untunglah Sri tidak menggunakan sekaligus kata-kata yang ia beli. Sri mengulang lagi dari awal. Kali ini ia tidak mencincang kata-kata sebelum merebusnya.
Peh! Rasanya tetap tidak karuan. Apa si penjual berbohong padanya? Tidak, tidak. Kata-kata yang dibelinya masih segar.
Sri menyajikan kata-kata di atas tiga lembar kertas. Ia lalu membawanya pada Anik yang tinggal di kamar kontrakan sebelah.
Anik mencobai olahan kata Sri. Ia sudah sering jadi orang pertama yang mencoba olahan Sri. Anik mengunyah kata-kata buatan Sri. “Rasanya lumayan, kok. Masih bisa dimakan.”
“Yang benar? Tadi kucoba rasanya campur aduk.”
“Coba saja lagi.”
Sri mencoba lagi. Dilepeh lagi. “Apa yang salah, ya, Nik?”
Anik tertawa. “Mungkin yang salah bukan olahanmu ini, tapi indra perasamu.” Ia mengunyah lagi kata-kata di kertas. Matanya merem-melek penuh nikmat makin membuat Sri sebal. Tapi Anik kasihan pada temannya. Ia pun menyuruh Sri, “Yang mentah masih ada? Coba ambil bahan yang masih kaupunya dan resep yang kaupakai. Kita buat lagi sama-sama.”
Sri mengulang lagi mengolah kata-kata bersama Anik. Anik menyuruhnya juga membawa buku resep, tapi ia tidak menyentuh buku resep itu. Anik hanya melihatnya satu kali untuk mengetahui olahan seperti apa yang ingin dibuat Sri. Kata Anik, “Ikut resep terlalu kaku. Aku tidak suka.” Ia menggunakan semua kata-kata yang tersisa. Anik menggunakan jarinya untuk menakar bumbu. Sedikit-sedikit ia mencecap kata-kata. “Kurang manis. Kurang asam. Keasinan.” Ketika selesai Anik berseru, “Sudah jadi!”
Mereka mencicipinya bersama-sama. Sri berkata, “Aku lebih suka buatanmu.”
Anik berkata, “Aku malah suka buatanmu.”
Perdebatan yang tidak akan menemukan sepakat. Sri pun kembali ke kontrakannya sendiri dengan perut begah. Ia kenyang menyantap olahannya sendiri dan olahan Anik. Kata-kata yang dibelinya di pasar tadi sudah habis. Sri mencuci alat-alat masak dan makan. Pikirannya masih menerka apa yang salah dari olahannya. Semua sudah sesuai resep.
Selesai mencuci dan membereskan alat makan Sri kembali duduk di meja. Kertas kosong di hadapannya tadi sudah dijadikan alas untuk olahan kata-katanya. Kertas catatan masih tercecer di atas meja. Sri menguap. Sekarang entah sudah berapa jam berlalu, dan ia masih belum merangkai satu kalimat pun. Sri menyerah. Ia pindah berbaring ke tempat tidur.
❈❈❈
© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Sri bermimpi. Ia dikejar kata-kata sampai ujung dunia. Di dalam mimpinya, ujung dunia tidak seperti ujung dunia. Ujung dunia seperti lapangan luas yang tidak berujung. Di sana kata-kata menghardik Sri.
“Kau sia-siakan kata-kata mutiara demi kata-kata murahan!”
Sri hendak membantah. Ia tidak seperti itu. Ia memilih kata-kata dengan hati-hati, memastikan pesan yang ingin disampaikannya diterima dengan baik. Belum sempat berkata-kata, balok kata-kata raksasa terjun di tanah lapang ujung dunia yang luas. Balok-balok itu terbaca hardikan kata-kata yang ditujukan untuk Sri.
Sri lari menghindar agar tidak tertimpa balok kata-kata. Ia terbangun dari mimpinya dengan berkeringat. Ia melihat jam. Dirinya baru tertidur tiga puluh menit.
Sri duduk di meja. Di depannya kertas kosong. Ia mengambil pena, tapi tangannya tak bisa bergerak. Rasanya berat. Perutnya mulas. Lidahnya terasa pahit.
Sri tak bisa lagi menulis. Penjual kata-kata berbohong. Kata-kata yang dibelinya dari si penjual bukan kata-kata yang segar. Sri telah mencicipi kata-kata basi.
Juni 2023
Feb 2023
Aku tidak punya orangtua. Aku tidak punya kakak dan adik. Aku tidak punya kakek, nenek, dan paman. Aku punya bibi. Bibiku ada lima. Aku tinggal dengan empat bibiku. Bibi yang satu tidak tinggal bersama kami, hanya datang sekali-sekali. Biasanya ketika hari besar atau ada perayaan.
Jan 2023
Kami tidak pernah membuat janji, tapi kami selalu datang ke taman yang sama pada waktu yang sama. Ada taman-taman lain dekat rumah kami, tapi hanya taman ini yang ada ayunan. Tak tentu siapa yang datang duluan antara kami, yang pasti dia selalu ada waktu aku ada di taman.
Cerita Jani_