Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Deret

Jumlah kata: 3.526 kata

Aku tidak punya orangtua. Aku tidak punya kakak dan adik. Aku tidak punya kakek, nenek, dan paman. Aku punya bibi. Bibiku ada lima. Aku tinggal dengan empat bibiku. Bibi yang satu tidak tinggal bersama kami, hanya datang sekali-sekali. Biasanya ketika hari besar atau ada perayaan.

Bibi sulung dan kedua tidak akur. Mereka bertengkar setiap hari. Bibi ketiga sudah berusaha melerai mereka, tapi tak berhasil. Seringnya, bibi ketiga ikut gusar dan akhirnya ikut bertengkar. Tak pernah ada yang menang dalam pertengkaran itu. Hanya kekalahan dan energi habis terkuras. Mungkin karena tak pernah ada yang menang, jadi mereka ribut-ribut tiap hari.

Bibi keempat adalah bibi yang paling sabar di antara bibi yang lain. Bibi kelima juga sabar, tapi mungkin itu karena aku jarang bertemu dengan bibi kelima dan aku tidak tahu apakah dia pernah marah-marah. Rumahku selalu ramai karena pertengkaran mereka.

Temanku pernah berkata kalau aku beruntung tidak punya orangtua. “Tidak ada yang mengomelimu kalau nilaimu jelek.” Dia benar. Bibi-bibiku tak pernah mengomel kalau nilai ulanganku jelek, tapi aku diomeli karena hal lain. Misal, karena bangun kesiangan, main hujan-hujanan, tidak makan sayur yang disediakan, kamar yang berantakan. Dan aku tidak diomeli satu kali. Paling tidak aku kena omel dua kali. Oleh bibi sulung dan kedua. Bibi ketiga mengomel kadang-kadang, kalau pekerjaannya di kantor sedang tidak lancar. Bibi keempat tidak mengomel. Alih-alih, dia menyuruhku membereskan pekerjaan rumah agar tidak kena omel bibi-bibi yang lain. Bibi kelima? Yah, sebelum dia datang, bibi-bibi yang lain sudah mengomeliku duluan kalau menurut mereka aku membuat rumah berantakan. Jadi, ketika dia datang, kamarku selalu dalam keadaan rapi.

Bibi sulung meninggal tadi pagi. Bibi ketiga dan keempat sibuk menyiapkan pemakaman untuk bibi sulung. Bibi kedua bersiap di teras rumah untuk menyambut orang yang datang untuk melayat. Bibi ketiga menyuruhku tidak masuk sekolah untuk membantu di pemakaman. Bibi kelima sudah menelepon dan bilang dirinya tidak bisa pulang mendadak hari ini juga. Dia baru bisa pulang besok dan tiba di rumah lusa nanti.

Ini pertama kalinya aku melihat pemakaman secara langsung. Bukan di televisi atau internet. Ternyata banyak yang perlu dilakukan ketika seseorang meninggal. Tak bisa langsung dikubur begitu saja. Pertama-tama menentukan bagaimana jenazah itu dimakamkan tentu saja. Jenazah tak bisa terus-menerus disimpan di rumah, kan?

Aku bolak-balik mengantar makanan yang disediakan bibi ketiga ke depan rumah. Tamu-tamu duduk di luar karena rumah kami tak cukup menampung mereka. Biasanya bibi sulung yang bertugas memasak di rumah ini. Entah siapa yang akan melanjutkan tugas bibi pertama.

Ketika aku hendak mengantar makanan untuk kesekian kalinya, aku mendengar bibi keempat berkata pada bibi ketiga.

“Aku serius! Dia terlihat ceria di depan tamu-tamu! Bayangkan! Yang meninggal kakaknya sendiri!”

Aku tak tahu apakah bibi ketiga mendengar. Dia fokus menuang air panas dari ceret ke gelas-gelas. Dia melihatku dan menyuruhku membawa nampan itu ke depan dan jangan lupa membawa gelas-gelas yang sudah kosong.

Beberapa temanku datang bersama wali kelas kami. Aku memberi tahu bibi keempat kalau wali kelasku datang. Bibi keempat yang biasa datang ke sekolah tiap pembagian rapor. Bibi keempat menyambut wali kelas. Wali kelasku bertanya kapan bibi sulung akan dimakamkan dan apa ada yang bisa mereka bantu. Bibi keempat menjawab tetangga di sini sudah cukup memberi bantuan. Wali kelasku bilang dia akan menunggu sampai pemakaman selesai. Bibi keempat berterima kasih dan meninggalkannya sambil berkata masih ada yang perlu dia urus. Wali kelas lalu menyuruh teman-temanku ikut membantu menyajikan suguhan dan mencuci wadah makanan.

Satu jam kemudian makin ramai orang yang datang ke rumah. Mereka mengangkat bibi sulung dari kamarnya. Bibi ketiga dan keempat berdiri di sampingku tanpa bicara. Bibi kedua bersiap di depan rumah. Bibi sulung diletakkan di dalam mobil ambulans. Orang-orang beranjak menuju kendaraan masing-masing. Kami tak punya kendaraan, tapi sudah ada tetangga yang menawarkan kendaraannya pada kami. Bibi keempat menggandeng tanganku.

Pertama kalinya aku menghadiri pemakaman. Ketika melihat bibi sulung diturunkan yang kupikirkan adalah paling tidak ada empat pemakaman lagi yang akan kuhadiri.

Itu kalau aku tidak dimakamkan lebih dulu.

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Sudah satu tahun bibi sulung meninggal. Selama satu tahun pula bibi kedua tetap tidak akur dengan bibi ketiga. Ribut-ribut bibi pertama dan bibi kedua sekarang jadi antara bibi kedua dan bibi ketiga. Dulu mereka ribut, tapi jarang-jarang karena bibi ketiga pergi bekerja. Ribut dengan bibi kedua paling sebelum berangkat ke kantor dan sepulang dari kantor dan akhir minggu.

Bibi ketiga satu bulan ini sering di rumah. Kalau kutanya jawabnya sedang libur. Jadi, kalau aku pulang sekolah yang ada di rumah adalah bibi kedua dan bibi ketiga. Bibi keempat pulang sore-sore.

Bibi ketiga menggantikan tugas bibi pertama memasak. Namun, masakan bibi ketiga sering keasinan. Bibi kedua sering protes tentang masakan yang keasinan. Jika ditegur bibi kedua, bibi ketiga tidak membalas, tapi mengoceh sendiri. Kadang-kadang dalam hati, kadang-kadang dengan suara keras.

Satu minggu yang lalu, bibi kedua dan ketiga ribut besar. Aku tak mengerti apa yang mereka ributkan. Aku yakin bukan karena telur dadar yang keasinan. Ketika itu aku berada di kamarku dan mendengar keduanya menjerit-jerit. Tak ada yang mengungkit-ungkit masakan yang asin.

“Panggil! Panggil kalau berani!”

“Berisik! Berisik! Diam kamu!”

Tubuh keduanya lebih besar dariku. Aku berusaha melerai, tapi satu kursi di meja makan keburu melayang. Patah jadi dua. Untungnya tidak kena siapa-siapa. Ada tetangga yang mendengar suara kursi patah itu dan masuk ke dalam rumah kami. Aku terselamatkan olehnya, dan kami bisa melerai keduanya ke kamar yang berbeda.

Tetangga itu memanggil tetangga yang lain dan mereka menemaniku di rumah sampai bibi keempat pulang. Aku menceritakan yang kutahu. Mereka bertengkar dan aku tak tahu apa yang mereka tengkarkan. Bibi keempat berterima kasih pada tetangga yang sudah membantu melerai.

Malam itu aku belajar kata baru. Biasanya aku mendapat kata-kata baru dari membaca buku, tapi aku mendapat kata itu dari bibi keempat. ‘Pensiun’. Bibi ketiga baru saja pensiun dan masih belum terbiasa di rumah. “Kau tahu, kan, dia dulu sering pulang malam? Sekarang dia bingung karena siang-siang sudah ada di rumah,” ujar bibi keempat.

Aku bertanya arti pensiun pada bibi keempat. Setelahnya aku mengecek kamus untuk lebih memperjelas. Aku tak mengerti apa yang begitu menakutkan dari tidak lagi bekerja dan berada di rumah seharian sampai bibi ketiga begitu cemas dan sering marah-marah. Namun, bibi keempat bilang sebisa mungkin aku tidak nakal dan mengganggu bibi kedua dan ketiga. “Kalau mereka ribut-ribut seperti kemarin lagi, kau pergilah ke rumah temanmu lalu telepon aku. Mengerti?”

Kuharap aku tak perlu menelepon bibi keempat di kantor. Aku tak suka mengganggu pekerjaannya.

Minggu depan bibi kelima akan pulang. Kata bibi keempat, bibi kelima kemungkinan akan cukup lama berada di sini. Biasanya bibi kelima tinggal paling lama satu minggu di rumah. Walau bibi keempat belum tahu berapa lama bibi kelima tinggal di sini. Aku diberi tugas menemani bibi ketiga menjemput bibi kelima di stasiun. Biasanya bibi kelima langsung pulang sendiri ke rumah. Entah kenapa kali ini perlu dijemput. Aku senang saja karena ini pertama kalinya aku pergi ke stasiun. Lihat kereta.

Sebelum sampai di stasiun aku melihat kereta melintas tinggi di atas. Aku bertanya pada bibi ketiga apa itu kereta yang dinaiki bibi kelima. “Mungkin,” jawab bibi kelima. Kami masuk ke dalam stasiun. Bibi ketiga mengajakku duduk di ruang tunggu di lantai dasar. Aku tak bisa duduk. Penasaran ingin melihat kereta yang melintas di atas kepala. Aku berkeliling lantai dasar itu. Dari buku-buku yang kubaca, ada yang menyebut tempat menunggu seperti ini sebagai lobi.

Aku menemukan tangga menuju ke lantai atas. Aku hendak naik, tapi seorang wanita berseragam mencegahku. “Adik punya tiket? Di sini sama siapa? Ayah? Ibu?”

Aku panik. Rasanya ingin lari. Aku menoleh ke tempat bibi ketiga. Dia tidak ada! Ke mana dia? Wanita itu masih menunggu jawabanku.

“Maaf, ya. Dia sama saya. Tadi lari-larian.” Bibi ketiga tiba-tiba sudah di sampingku. Aku langsung memeluk pinggangnya.

“Tidak apa-apa, Bu. Hati-hati, ya.”

Bibi ketiga menggandeng tanganku dan kami kembali ke kursi tempatnya duduk tadi. Aku tidak keliru. Dia mendudukkanku di sampingnya. Dia merogoh isi tasnya dan mengeluarkan botol minum.

“Minum.”

Aku menerimanya tanpa bertanya. Membantah juga tidak. Aku tak berkeliaran lobi sampai bibi kelima datang setengah jam kemudian.

Bibi ketiga menceritakan kejadian di lobi stasiun tadi pada bibi kelima dalam perjalanan pulang. “Aku hampir kaget dia ditangkap petugas,” ujar bibi ketiga.

Bibi kelima tertawa. Dia bertanya padaku, “Kenapa kau mau naik ke atas?”

“Aku mau lihat kereta. Kereta ada di atas, kan?” Jariku menunjuk ke atas walau yang kutunjuk adalah langit-langit bus yang kami naiki.

Bibi kelima melirik bibi ketiga. Bibi ketiga mendengus dan memalingkan wajahnya ke jendela. “Libur sekolah nanti kau boleh ikut denganku. Naik kereta. Mau?”

Aku mengangguk-angguk girang.

Bibi kelima menepati janjinya. Libur sekolah berikutnya, dia datang lagi untuk menjemputku.

“Jangan merepotkan bibimu. Bantu-bantu pekerjaan rumah. Bibimu tinggal sendirian,” pesan bibi kedua.

“Jangan pilih-pilih makanan. Makan semua yang disediakan bibimu,” pesan bibi ketiga.

“Kau yakin tidak kewalahan mengawasi dia sendirian? Bagaimana kalau kau ke kantor?” bibi keempat bertanya pada bibi kelima.

Bibi kelima meyakinkan bibi-bibi yang lain kalau aku anak baik dan tidak akan merepotkannya. Bibi keempat berpesan lagi kalau terjadi sesuatu hubungi dia.

Selama tinggal bersama bibi kelima, aku tak pernah menelepon bibi keempat di kantornya. Tapi, bibi keempat menelepon kami lebih dulu. Bibi ketiga meninggal.

Seperti pemakaman bibi sulung, bibi kelima tak bisa meninggalkan kantornya secara mendadak.

Dugaanku keliru. Kupikir aku akan menghadiri pemakaman empat bibiku yang lain. Kupikir bibi kedua akan meninggal setelah bibi sulung.

Urutan kematian ternyata tidak sama dengan urutan kelahiran.

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Sudah lima tahun sejak bibi ketiga meninggal. Tahun depan aku sudah tidak sekolah. Selama lima tahun itu tidak ada bibiku yang meninggal. Mereka bertambah tua, tambah keriput, dan tetap hidup.

Sejak bibi ketiga meninggal, tiap liburan sekolah aku mengunjungi bibi kelima. Bibi kedua sering uring-uringan sendirian di rumah. Bibi keempat tidak mau aku mendengar uring-uringnya. Aku tak tahu apa yang perlu disembunyikan. Seringnya bibi kedua mengungkit masa lalu. Masa ketika kakek dan nenekku masih ada. Masa-masa mereka harus mengirit-irit makanan. Dan kadang-kadang dia mengungkit-ungkit ayah-ibuku. Kurasa bibi keempat tak mau aku mendengarnya.

“Tak perlu kauambil hati apa yang dikatakan bibimu,” ujar bibi keempat padaku.

Aku ingin mengabaikannya, tapi kadang-kadang aku penasaran dan memikirkan kata-kata bibi kedua. Rasanya di rumah ini tak ada yang akur dengan bibi kedua. Tak ada bibi sulung dan bibi ketiga, dia sering pergi ke rumah tetangga. Sekadar mencari teman mengobrol, tapi pulang-pulang dia lebih sering bersungut-sungut. Sering juga jadi ribut-ribut dengan tetangga. Tapi, besoknya dia kembali berkunjung ke rumah tetangga, minta maaf sambil membawa buah tangan.

Kemudian esoknya ribut lagi. Kadang-kadang aku merasa dia sengaja cari ribut agar tidak merasa sepi.

Beberapa teman-temanku mulai gelisah karena mulai tahun depan kami sudah tidak bersekolah. Ada yang berencana kuliah, ada yang bekerja, ada yang bingung-bingung. Aku termasuk yang bingung.

“Tapi, kau enak bibimu tidak memaksamu memilih!”

Tidak, itu tidak benar. Bibi keempat ingin aku kuliah di kota yang sama dengan bibi kelima. Aku ingin berkuliah, tapi inginku tetap di kota ini. Aku senang mengunjungi bibi kelima waktu liburan, tapi untuk menetap, aku masih lebih suka tempat ini.

“Kampus di sana lebih bagus.” Alasan bibi keempat.

Masih tahun depan. Aku belum perlu memutuskan.

Dan aku tak pernah belajar. Satu tahun adalah waktu yang sebentar. Tiba-tiba aku dihadapkan masalah yang serupa dengan teman-temanku. Keinginan, pilihan yang terbatas atau bahkan seadanya. Alias tak punya pilihan.

Sementara aku sibuk dengan ujian dan mencari-cari pilihan lain, bibi kedua makin sibuk ribut-ribut dengan tetangga. Bibi keempat berusaha menahannya tidak keluar rumah, tapi kami berdua tentu tak bisa mengawasi bibi kedua tiap saat. Makin dekat waktu ujian, aku lebih sering sampai di rumah sudah gelap. Beberapa kali bibi keempat bahkan sudah tiba di rumah lebih dulu.

Hari itu aku pulang larut sehabis mengikuti uji coba ujian. Matahari sudah terbenam, tapi udara masih terasa terik. Kepalaku masih berdenyut mengira-ngira mana jawaban yang benar dan salah.

Aku bisa mendengar suara teriakan dari depan pintu rumah. Alih-alih buru-buru, aku memilih berlama-lama di luar. Aku tahu apa yang menungguku di dalam. Bibi kedua sedang histeris, tapi aku tak tahu apa yang membuatnya menjerit sampai begitu.

“Pelacur! Pelacur! Anaknya ditinggal begitu saja! Dia pikir kita ini panti asuhan!”

Aku tidak mendengar bibi keempat menyahut jeritan bibi kedua. Yang kudengar bibi keempat berusaha mendudukkan bibi kedua di kursi. Walau tak berada di dalam, aku bisa membayangkan dua bibiku itu berdiri. Satu tangan bibi kedua bertolak pinggang, satu lagi menunjuk-nunjuk entah menunjuk apa. Bibi keempat di samping bibi kedua mengelus bahunya sambil berusaha menariknya untuk duduk.

Aku membuka lebar pintu dan masuk ke dalam. Bibi keempat terkejut. “Kau sudah pu—”

“Ibuku bukan pelacur!”

Aku tak ingat apalagi yang kukatakan setelah itu. Aku tahu aku telah merepotkan bibi keempat karena kini dia sendirian harus memisahkan aku dan bibi kedua.

Aku tak terima ibuku disebut pelacur oleh kakaknya sendiri.

Teriakan dan jeritan. Hanya itu yang mengisi kepalaku dan rumah ini selama satu jam berikutnya. Aku berteriak membela ibuku. Bibi kedua menjeritkan tuduhan-tuduhan pada ibu—adiknya—yang sudah tidak ada di rumah ini. Bibi keempat berteriak untuk memisahkan kami.

Aku tak ingat bagaimana aku masuk ke kamar, tak ingat bagaimana aku jatuh dalam tidur. Aku bangun di atas tempat tidurku. Matahari sudah tinggi. Kalau aku berangkat ke sekolah sekarang aku sudah terlambat. Bibi keempat tahu aku terlambat dan tidak membangunkanku. Itu artinya dia sengaja membiarkanku bangun kesiangan.

Kekonyolan apa yang kuperbuat semalam? Aku sudah merepotkan bibi keempat. Aku menutupi pandanganku dengan meletakkan tangan di atas mata. Rasanya aku tak akan sanggup menghadapi bibi kedua, bibi keempat, bahkan bibi kelima yang jarang kutemui.

“Sudah bangun?”

Aku mengangkat tanganku. Bibi keempat berdiri di pintu dengan sepiring pisang goreng. Bibi keempat tak biasa ada di rumah siang-siang begini.

Aku bangkit dan duduk sambil memeluk lutut. Bibi keempat meletakkan pisang goreng di kasurku, tapi tidak duduk.

“Masih hangat. Enak. Kalau kurang masih ada lagi di meja.” Bibi keempat berlalu dari kamarku tanpa mengungkit kejadian semalam.

Aku menatap empat biji pisang goreng di tempat tidurku. Kuambil satu dan kugigit. Mulutku kepanasan.

Tapi, apa enaknya pisang goreng yang sudah dingin?

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Sisa tahun itu kuhabiskan tanpa bicara dengan bibi kedua.

Aku tak mau merepotkan bibi-bibiku lagi. Tahun itu kuputuskan tinggal bersama bibi kelima. Bibi keempat mengantarku dan bibi kelima ke stasiun kereta. Bibi kedua tetap di rumah. Ini bukan perjalanan liburan singkat. Paling cepat aku pulang pada masa liburan nanti.

Tempat tinggal bibi kelima tidak sebesar rumah kami. Yang jelas tempat tinggalnya jauh lebih tenang. Tak ada ribut-ribut antarbibi atau bibi kedua dengan tetangga. Aku tak menyangka ketenangan seperti ini ada dalam jangkauan keluargaku sendiri.

Bibi kelima tidak seperti bibi-bibi yang lain. Dia sering menceritakan keluarga kami yang tak pernah kulihat. Dia paling sering menceritakan kakek dan nenekku, ayah dan ibunya. Cerita-cerita yang dia ceritakan juga kebanyakan cerita-cerita menyenangkan. Kelakuan bibi-bibiku waktu kecil yang membuat nenekku kewalahan. Kelakuan ibuku sampai sebelum dia meninggal.

Ibuku adalah anak bungsu di keluarga mereka. Kehamilanku tidak direncanakannya. Dia dinikahkan dengan ayahku, tapi bibi kelima tak pernah terang-terangan menjelaskan pernikahan mereka.

Ayah dan ibu meninggal ketika usiaku delapan bulan, ketika usia pernikahan mereka satu tahun. Ayahku tak punya keluarga. Jadilah aku diasuh kelima bibiku.

Seumur hidup, aku punya dugaan-dugaan tentang keluargaku. Empat bibiku yang lain tak pernah menceritakannya. Mungkin bibi kelima merasa sekarang aku sudah cukup dewasa dan mengerti, dan baru menceritakannya sekarang.

Tidak. Aku tidak pernah mengerti tentang keluargaku.

Jadi, yang paling pertama meninggal dalam keluarga ini bukan bibi sulung, melainkan ibuku, si anak bungsu.

Teman-temanku di sini tak ada yang tahu tentang bibi-bibiku selain bibi kelima. Kebanyakan dari mereka tinggal jauh dari orangtua. Mereka hanya tahu aku tinggal menumpang pada seorang bibi.

Aku menikmati hidupku bersama bibi kelima, jauh dari bibi kedua dan keempat, tanpa bibi sulung, bibi ketiga, dan ibuku.

Namun, waktu berlalu dan aku perlu memutuskan lagi sebelum kuliahku selesai. Apakah tetap di sini atau kembali ke rumah.

“Aku tak keberatan kau tinggal di sini. Tapi, kalau kau masih ragu, kau bisa tanya pada bibimu yang lain,” ujar bibi kelima.

Aku tak mau kembali. Aku berusaha mencari pekerjaan di kota ini, atau di kota lain. Selama bukan di kota asalku.

Datanglah telepon dari bibi keempat. Dia mengabarkan bibi kedua meninggal.

Tidak seperti kematian bibi-bibi yang lain, bibi kelima memutuskan pulang saat itu juga. Naik pesawat agar tiba pada hari yang sama. Dia menyuruhku memesankan tiket untuk kami berdua. “Bibimu sendirian. Aku mau menemaninya.”

Aku tak mau menghadiri pemakaman bibi kedua. Aku berbohong. Kukatakan hari itu ada wawancara kerja.

Bibi kelima hanya menatapku. Dia tidak mengeluarkan cerita-cerita masa kecilnya. “Baik. Carikan tiket untukku. Kalau sudah dapat antar aku ke bandara.”

Tidak sampai satu jam, aku mendapatkan tiket untuk bibi kelima. Tidak sampai dua jam, kami sudah di bandara.

“Maafkan aku…”

Bibi kelima memelukku. Aku sudah jauh lebih tinggi darinya, tapi perbedaan tinggi itu tidak membuatnya berhenti memelukku. “Jaga rumahku. Akan kukabari kalau sudah tiba di rumah.”

Aku mengangguk.

Dalam perjalanan pulang dari bandara, aku menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya, aku sendirian tanpa satu pun bibiku bersamaku.

Dua jam kemudian bibi kelima mengabarkan pesawatnya sudah mendarat. Satu jam kemudian dia mengabarkan sudah tiba di rumah. Aku memutuskan untuk meneleponnya. “Bagaimana di rumah?” tanyaku.

Bibi kelima menjawab semua baik-baik saja. Dia menanyakan wawancara kerjaku.

“Lancar.”

Satu minggu kemudian bibi kelima kembali, kali ini dia naik kereta. Ketika kujemput di stasiun, dia membawa tas kertas. Tanpa kutanya, dia berkata, “Isinya makanan dari bibimu.”

Aku membuka tas kertas itu. Isinya dua wadah makanan dengan isi berbeda. Yang satu berwarna cokelat dan kutebak adalah daging rendang, yang satu berisi tiga biji pisang goreng.

“Pisang goreng itu tadinya bekalku di jalan. Bibimu masak terlalu banyak.”

“Boleh kumakan?”

Bibi kelima menatapku heran. “Kau belum makan?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Kubuka wadah pisang goreng dan kumakan sisa pisang goreng itu.

Rasanya seperti menggigit es batu yang empuk, rasa pisang.

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Aku mendapat tawaran pekerjaan di kota tempat tinggal bibi kelima. Bibi kedua sudah tidak ada, tapi kuputuskan tetap mengambil pekerjaan itu.

Tak sampai satu tahun sejak kematian bibi kedua, bibi kelima memutuskan untuk pensiun. Dia kembali ke kota asalku.

“Aku tak mau bibimu sendirian.”

Aku tak keberatan tinggal sendirian.

Bekerja tidak sama seperti sekolah. Jarang ada libur, dan aku tak bisa pulang rutin mengunjungi kedua bibiku. Sama seperti bibi kelima dulu. Aku pulang ketika libur-libur tertentu.

Ketika aku pulang, tak ada lagi ribut-ribut yang kudengar antarbibiku. Keributan paling besar di rumah itu paling-paling menentukan makan siang dan makan malam mereka, dan apa saja bahan perlu dibeli di pasar. Untuk makan pagi, mereka cukup menghangatkan sisa makan hari sebelumnya. Kalau ada. Kalau tidak ada, pisang goreng sudah cukup memuaskan.

Aku tak suka menonton sinetron, tapi aku mengikuti ceritanya dari waktu ke waktu agar aku punya bahan pembicaraan dengan bibi-bibiku. Begitu pun dengan acara-acara pencarian bakat. Apa pun bakatnya. Menyanyi, memasak, komedi tunggal. Aku suka menonton film di bioskop, tapi bibi-bibiku tidak menonton film-film yang kutonton. Mereka menyimak ceritaku tentang film yang kutonton walau mereka tidak menontonnya. Kunjunganku setiap pulang ke rumah tak lebih untuk membicarakan sinetron bersama mereka.

Delapan tahun sejak aku mulai bekerja, aku mendapat kabar lagi dari bibi keempat. Bibi kelima meninggal.

Tak perlu dipikir berlama-lama. Hari itu juga aku minta izin pada atasanku untuk pulang lebih cepat. Kabar itu datang sore hari. Kalaupun aku naik pesawat, bibi kelima pasti sudah dimakamkan dan aku akan melewatkan pemakamannya. Aku tak peduli. Aku tak mau bibi keempat sendirian.

Aku tiba di rumah tengah malam. Ada dua tetangga di rumah yang menemani bibi keempat. Mereka bilang bibi keempat sudah tidur. “Dia memaksa menunggumu datang, tapi akhirnya tidur juga,” ujar salah satu tetanggaku. Mereka lalu menceritakan jalannya pemakaman. Bibi keempat tak kuat mengurus semuanya sendirian, tetangga-tetangga banyak membantu. Aku berterima kasih pada mereka dan berkata mereka bisa pulang.

Aku menyusuri kamar-kamar yang kosong. Bibi sulung dan bibi kedua masing-masing menempati satu kamar sendirian. Bibi ketiga berbagi kamar dengan bibi keempat. Dulu bibi kelima berbagi kamar dengan ibuku, tapi kamar mereka sudah sejak lama jadi kamarku. Sejak kamarnya jadi kamarku, bibi kelima berbagi kamar dengan bibi ketiga dan keempat kalau sedang pulang ke rumah ini. Begitu pun ketika dia pensiun. Dia tidur sekamar dengan bibi keempat.

Kini kamar di rumah ini lebih banyak dibandingkan penghuninya.

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Aku sudah memasang alarm, sudah sengaja minum air banyak-banyak sebelum tidur, tapi bibi keempat tetap bangun lebih dulu dariku. Walau sudah berusaha, aku selalu gagal bangun lebih cepat dari bibi keempat. Ketika aku bangun esok paginya, sudah tersaji pisang goreng di atas meja. Masih panas. Dan tetap kumakan panas-panas.

“Aku mau ke makam bibi kelima,” ujarku pada bibi keempat. Dia mengangguk.

Aku bisa ke makamnya sendirian. Bibi kelima dimakamkan bersama bibi-bibi, ibu dan ayahku, kakek dan nenekku. Aku tahu letak makam mereka. Namun, bibi keempat tetap menemaniku. Dari delapan orang yang dimakamkan di sini, pemakaman yang kuhadiri tak sampai separuhnya.

Aku tidak punya orangtua. Aku tidak punya kakak dan adik. Aku tidak punya kakek, nenek, dan paman. Aku punya bibi. Bibiku ada lima. Yang empat sudah meninggal, dan sekarang bibiku yang masih hidup tinggal satu.

Aku berjanji aku akan datang ke pemakaman bibiku yang terakhir. Aku tidak akan membiarkannya sendirian.

Itu kalau aku tidak dimakamkan duluan. Karena urutan kematian tidak sama dengan urutan kelahiran.

Februari 2023


Perjanjian dengan Penguasa Taman

Jan 2023

Kami tidak pernah membuat janji, tapi kami selalu datang ke taman yang sama pada waktu yang sama. Ada taman-taman lain dekat rumah kami, tapi hanya taman ini yang ada ayunan. Tak tentu siapa yang datang duluan antara kami, yang pasti dia selalu ada waktu aku ada di taman.

Koran Ini Berhenti Terbit Besok

Okt 2022

Sebuah koran ternama dengan reputasi baik mengumumkan besok mereka akan menerbitkan edisi terakhir koran mereka. Generasi sebelumnya, yang tumbuh besar membaca koran tersebut, menyayangkan keputusan ini. Koran ini bukan koran pertama yang berhenti cetak.

Cerita Jani_