Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Koran Ini Berhenti Terbit Besok

Jumlah kata: 1.357 kata

Sebuah koran ternama dengan reputasi baik mengumumkan besok mereka akan menerbitkan edisi terakhir koran mereka. Generasi sebelumnya, yang tumbuh besar membaca koran tersebut, menyayangkan keputusan ini. Koran ini bukan koran pertama yang berhenti cetak. Sebelum-sebelumnya sudah ada majalah atau koran yang lebih dulu berhenti cetak. Namun, karena koran ini memiliki basis pelanggan di seluruh negeri, artikel-artikelnya sering dipercaya sebagai rujukan banyak pihak, kabar koran ini berhenti cetak jadi membuat gempar. Dengan basis pelanggan yang begitu banyak saja koran ini bisa berhenti, bagaimana dengan koran-koran yang dikelola kecil-kecilan? Pengumuman ini hanya ada di koran cetak. Namun, pelanggan koran cetak memotret pengumuman ini dan mengunggahnya ke akun-akun mereka sendiri. Jadilah pengumuman ini juga dibaca orang-orang yang tidak berlangganan koran cetak.

Generasi masa depan, yang tidak pernah melihat tukang koran melintas tiap pagi kecuali tanggal merah, penasaran mengapa generasi sebelumnya meributkan berhentinya koran ini. Ini bisa dimaklumi. Generasi masa depan bisa mendapat sumber informasi dari mana pun, kapan pun tanpa disaring lebih dulu. Siapa pun, pribadi atau perusahaan, bisa menyajikan kabar tentang diri mereka sendiri. Hingga sulit dibedakan mana kabar yang patut jadi konsumsi publik, mana yang disimpan sendiri. Generasi sebelumnya harus menunggu informasi disaring dan dianggap layak untuk disajikan ke khalayak. Hari ini semua generasi berbondong-bondong mencari koran.

Perusahaan koran ini berusaha meredakan kegaduhan akibat pengumuman tersebut. Mereka menjelaskan kalau yang berhenti terbit adalah koran yang dicetak menggunakan kertas. Media-media digital milik perusahaan koran ini akan tetap mengunggah beragam artikel ke jaringan internet. Pengumuman ini pun diumumkan lewat media-media digital milik perusahaan koran tersebut. Sudah tidak ada lagi yang mencetak koran sore-sore. Kalau dicetak besok bersama edisi terakhir mereka tentu sudah terlambat.

Gara-gara pengumuman edisi terakhir ini, banyak generasi masa depan jadi membaca koran untuk pertama kalinya sementara generasi sebelumnya bernostalgia membaca koran. Generasi masa depan pernah melihat koran, tapi melalui medium lain. Disebut dalam cerita-cerita fiksi, sebagai penghias foto. Paling jelas mungkin dalam adegan film atau serial televisi. Adegan membaca koran pagi-pagi dengan kopi, tukang koran mengantar koran-koran ke rumah, atau film bertema jurnalisme.

Generasi sebelumnya mengenang masa-masa bergantian membaca halaman-halaman koran bersama anggota keluarga yang lain. Ayah membaca kabar bisnis, ibu membaca artikel gaya hidup. Lalu saling menukar halaman yang sudah dibaca. Ibu membaca kabar bisnis, ayah membaca artikel gaya hidup. Kalau keluarganya tidak punya ayah dan ibu, mungkin bergantian membaca koran dengan kakek-nenek, paman-bibi, atau sepupu. Mungkin juga membaca koran di tempat-tempat umum. Generasi sebelumnya bisa menemukan koran dengan mudah di mana pun. Mereka pernah merasakan meminjam koran yang dibawa orang yang tidak mereka kenal untuk mengisi waktu sambil menunggu angkutan umum. Tentu pada masa itu belum ada media digital dan moda transportasi yang bisa dipesan melalui internet kapan saja, dari mana saja.

Ketika generasi masa depan mencoba membaca koran, mereka bingung karena berita di halaman pertama selalu bersambung ke halaman lain di belakangnya. Bukan ke halaman dua. Lanjutan berita di halaman satu bisa lompat ke halaman dua puluh dua misalnya. Mereka juga bingung urutan membaca berita yang disajikan. Generasi sebelumnya memberi saran baca apa saja yang judulnya menarik perhatian. Tidak perlu memusingkan urutan yang tepat. Mulai baca dari halaman tengah juga bisa. Namun, generasi sebelumnya tidak memungkiri bahwa ada orang-orang yang membaca koran secara runut, artikel demi artikel, mulai dari halaman pertama.

Apa koran isinya hanya berita? Tentu tidak. Selain berita, koran juga menayangkan iklan. Ada iklan baris, iklan kolom, sampai politisi pun bisa beriklan di koran. Ini paling sering dijumpai menjelang pemilihan umum. Koran-koran mana pun di penjuru negeri tidak ada yang luput memajang wajah politisi yang ingin popularitas mereka naik. Untunglah dihentikannya koran ini bukan ketika pemilihan umum. Kalau koran ini berhenti terbit pada musim pemilihan umum, mungkin banyak politisi yang berusaha menyelamatkan koran ini. Siapa tahu bisa mencitrakan dirinya sebagai politisi yang peduli pada kebebasan berpendapat. Siapa tahu.

Ada orang-orang yang hanya membaca koran hari Minggu. Alasannya karena koran hari Minggu biasanya memuat tulisan ringan. Lebih banyak berita menghibur. Artikel tentang tempat-tempat wisata, resensi buku atau film yang baru rilis, liputan tentang tokoh inspiratif. Ada komik baris dan teka-teki silang. Kalau bisa mengisi teka-teki silang sampai semua terjawab, bisa dikirim dan barangkali dapat hadiah. Sayang sekali, koran hari ini tidak memuat teka-teki silang. Mungkin karena koran ini berhenti terbit besok. Biasanya pemenang teka-teki silang diumumkan di edisi minggu depan. Sementara minggu depan koran ini sudah tidak ada.

Berita utama di halaman depan koran hari ini adalah kebocoran data dan kasus korupsi. Saat ini liga-liga sepakbola sedang masa rehat, jadi bagian olahraga memuat prediksi transfer pemain antarklub. Ada potret atlet penyandang disabilitas negeri ini yang baru meraih medali emas dalam pertandingan internasional. Bagian bisnis membahas beberapa negara yang sedang mengalami kenaikan inflasi paling tinggi dalam sejarah. Berita internasional membahas serangan pada satu negara yang masih belum berhenti. Di halaman empat belas ada berita duka cita yang memuat separuh halaman. Ada liputan tentang perubahan iklim yang ditakutkan mempengaruhi pemenuhan pangan secara global. Karena koran hari ini spesial, koran hari ini tidak hanya menyajikan isu-isu yang tersebut barusan.

Biasanya halaman dua banyak berisi iklan, tapi halaman dua koran hari ini menyajikan perjalanan sejak dimulainya koran ini berdiri. Mulai dari foto edisi pertama koran ini, cuplikan berita yang dimuat dalam koran edisi pertama, sampai foto pemimpin negara ini dari masa ke masa sedang membaca–memegang–koran ini. Juga ada foto pendiri koran ini naik sepeda mengangkut tumpukan koran di sadel belakang.

Koran ini sudah terbit selama delapan puluh dua tahun. Tiap koran ini berulang tahun selalu diterbitkan edisi khusus. Liputan mendalam tentang isu-isu yang dianggap penting. Edisi ulang tahun koran ini selalu lebih tebal dari edisi biasa. Mereka membagi-bagikan hadiah pada para pelanggan. Apalah koran tanpa pelanggan dan pembaca. Mulai tahun depan edisi khusus tidak akan terbit lagi. Tapi, mungkin jika media-media digital milik perusahaan koran ini ulang tahun, tetap ada bagi-bagi hadiah pada pembaca. Siapa yang tahu.

Generasi sebelumnya tahu pada masa lalu jumlah halaman koran ini lebih tebal dari sekarang. Generasi masa depan heran kenapa generasi sebelumnya tahan membaca koran berjam-jam. Generasi sebelumnya tertawa dan menjawab bukankah sama saja seperti membaca berita-berita di media internet? Orang-orang tahan berjam-jam di depan layar, apa bedanya dengan koran?

Foto-foto di koran tidak bergerak. Tidak ada video kucing tiba-tiba muncul entah dari mana. Koran berwarna buram. Halaman yang berwarna hanya halaman depan.

Koran tidak menarik. Koran ini menarik perhatian banyak orang ketika memutuskan besok adalah edisi terakhir mereka.

❈❈❈

© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Hari ini adalah hari yang tidak dinantikan. Tapi, apa boleh buat. Edisi terakhir koran ini terbit hari ini. Perusahaan koran ini mendistribusikan koran edisi terakhir kepada para pelanggan. Orang-orang yang ingin membeli secara eceran kesulitan mendapat edisi hari ini karena sudah jarang kios koran dan majalah di pojok-pojok jalan. Mencari edisi digital tidak tersedia. Generasi masa depan bingung disuruh mencarikan edisi terakhir koran ini oleh kerabat mereka yang termasuk dalam generasi sebelumnya. Karyawan perusahaan koran tidak mau mengungkapkan apa pun. Cari saja sendiri, nanti juga dapat, kata mereka.

Koran hari ini tidak memuat berita terbaru. Halaman pertama hanya diisi nama koran, tanggal terbit. Dua kata diletakkan di tengah halaman: terima kasih.

Halaman kedua berisi iklan mobil dalam satu halaman penuh. Halaman tiga ucapan duka cita, juga dalam satu halaman penuh. Halaman empat terdapat iklan partai politik disertai artikel pendek tentang partai politik tersebut. Halaman lima memuat grafis pergerakan saham, tapi siapa yang lihat. Ada banyak situs-situs web di internet yang memuat grafis saham yang lebih baru. Grafis di koran tidak bergerak, grafis di situs-situs itu bisa berputar atau naik-turun. Halaman enam dan tujuh memuat ucapan selamat dari dua perusahaan kepada atlet disabilitas yang kemarin baru menang medali. Halaman delapan ada info potongan harga produk-produk yang dijual sebuah jaringan ritel. Tentu satu halaman penuh. Halaman sembilan sampai satu halaman sebelum halaman terakhir adalah ucapan terima kasih kepada koran ini dari berbagai pihak. Perusahaan, politisi, pejabat negara, dan pihak yang paling penting bagi koran ini: pelanggan. Halaman terakhir memuat karikatur yang menggambarkan perjalanan koran ini sampai berhenti terbit. Sulit menjalankan bisnis surat kabar di masa surat tidak lagi ditulis di kertas.

Perusahaan koran tidak tahu apakah koran edisi terakhir mereka terjual hingga ludes. Yang pasti satu bulan kemudian banyak penjaja gorengan membungkus gorengannya menggunakan koran bertuliskan dua kata: terima kasih.

Oktober 2022


Harmoni Dua Musim

Mei 2022

Nup melangkah keluar rumah. Langit berwarna biru cerah tanpa ada awan. Langit seperti inilah yang sudah ia tunggu-tunggu. Kemarin langit juga berwarna biru, namun masih ada semburat awan tipis di sana-sini. Nup mengangkat tangannya dan seketika itu juga langit runtuh. Warna biru digantikan oleh abu-abu gelap.

Satu Hari, Satu Warna

Apr 2022

Sukria mewarnai pelangi setiap hari. Satu hari satu warna. Hari Senin warna merah, hari Selasa warna jingga, hari Rabu warna kuning, hari Kamis warna hijau, hari Jumat warna biru, hari Sabtu warna nila, hari Minggu warna ungu. Ia tidak bisa membolos satu hari pun mewarnai pelangi karena jika ia membolos warna pelangi jadi berbeda.

Cerita Jani_