Jumlah kata: 509 kata
Nup melangkah keluar rumah. Langit berwarna biru cerah tanpa ada awan. Langit seperti inilah yang sudah ia tunggu-tunggu. Kemarin langit juga berwarna biru, namun masih ada semburat awan tipis di sana-sini. Nup mengangkat tangannya dan seketika itu juga langit runtuh. Warna biru digantikan oleh abu-abu gelap.
Nup menoleh ke kanan dan kiri. Orang-orang yang tadinya hampir keluar rumah, masuk kembali dan keluar dengan payung di tangan. Mereka yang sudah di luar rumah tanpa persiapan, mulai meringis cemas. Sebagian membuka payung mereka walau hujan belum turun. Nup tersenyum. Payung tidak akan bisa melindungi mereka. Kali ini Nup mengangkat kedua tangannya layaknya seorang konduktor orkestra. Gemuruh bersahutan mengikuti aba-abanya. Tidak lama hujan turun deras. Nup yang basah kuyup sama sekali tidak terlihat berusaha mencari tempat untuk berteduh.
Nup berjalan tanpa ragu di bawah guyuran hujan. Tangannya bergerak semakin bersemangat. Orang-orang yang berpayung juga terlihat tidak gentar oleh derasnya hujan. Angin kencang ikut meramaikan pemandangan itu. Orang-orang memegangi payung mereka dengan erat. Nup terbahak-bahak melihatnya, namun tawanya teredam oleh suara gemuruh, debur air hujan, dan embusan angin.
Ia sudah tiba di jalan utama. Kendaraan bermotor berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Nup mengibaskan tangan. Klakson-klakson kendaraan berbunyi walau pengemudinya tidak membunyikan klakson. Motor, mobil, bus, tidak ada yang tidak bersuara nyaring.
Dan di tengah semua itu Nup bisa mendengar suara lain yang lebih lirih. Suara orang-orang yang mengutuk hujan deras yang ia turunkan. Suara-suara ketakutan lirih jika hujan ini tidak kunjung berhenti. Nup memang tidak berniat menghentikan ini untuk tiga hari ke depan. Mungkin lima hari, Nup berpikir ulang. Ia akan memberi kesempatan orang-orang itu memulihkan diri di akhir pekan.
Saat petang, Nup melompat-lompat kegirangan. Ia memperhatikan orang-orang mulai panik karena air mulai menggenangi jalan. Malam ini suara kegelisahan mereka akan menemani lelap Nup.
❈❈❈
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Sito memperhatikan hujan dengan sedih. Ia tahu semua ini perbuatan Nup, namun tidak ada yang bisa ia lakukan. Sito berjalan bolak-balik di balkon tempat tinggalnya, memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk menghentikan ini. Membujuk Nup? Mustahil. Menangkap Nup dan mengurungnya selama beberapa hari ke depan? Ide bagus, tapi itu sulit sekali. Nup jauh lebih gesit dan lebih kuat dibandingkan Sito.
Sito menutup kedua telinganya. Ia sungguh tidak tahan dengan keributan yang disebabkan Nup. Keributan itu terdengar bagai suara sumbang di telinganya.
Tiba-tiba Pina muncul di balkon Sito. Rambut panjang yang berwarna kuning terkulai basah sampai ke punggungnya. Pina punya rencana untuk menghentikan Nup, tapi dia tidak bisa melakukannya sendiri dan membutuhkan bantuan Sito. Sito sebenarnya tidak percaya dengan Pina, sama seperti dirinya tidak percaya dengan Nup. Mereka berdua sama saja bagi Sito. Tapi ajakan Pina menggiurkan. Sito tidak akan bisa menghentikan Nup sendirian.
Menurut Pina, Nup terlalu sewenang-wenang musim ini. Pina tahu tahun ini adalah musim terkuat Nup, tapi ia tidak berhak menggunakan kekuatannya untuk bersenang-senang dan menyiksa makhluk yang lebih lemah darinya. Sito memang yang terlemah di antara mereka bertiga, tapi itu lebih baik dibanding hanya ia sendirian menghadapi Nup.
Kepada pembaca yang budiman, kamu suka cuaca yang seperti apa?
Mei 2022
Apr 2022
Sukria mewarnai pelangi setiap hari. Satu hari satu warna. Hari Senin warna merah, hari Selasa warna jingga, hari Rabu warna kuning, hari Kamis warna hijau, hari Jumat warna biru, hari Sabtu warna nila, hari Minggu warna ungu. Ia tidak bisa membolos satu hari pun mewarnai pelangi karena jika ia membolos warna pelangi jadi berbeda.
Apr 2022
Keluargaku berbakti pada semut. Kami percaya dengan mengikuti mereka, maka hidup kami juga terjamin.
Cerita Jani_