Jumlah kata: 923 kata
Nup berteduh di bawah payung sambil menggigit pisang, di atap sebuah rumah yang penghuninya sudah mengungsi karena air sudah sampai sepinggang orang dewasa. Sudah dua hari ia tidak menghentikan hujan ini. Selama dua hari itu juga Nup berkeliling ke seluruh penjuru negeri, mengendalikan hujan. Tapi kota ini kota favorit Nup. Paling padat dan paling berisik, padahal luasnya tidak seberapa dibandingkan kota lain. Selain alasan itu, Nup juga menghindar dari Pina. Cepat atau lambat, Pina pasti akan mengejarnya dan mengacaukan pesta Nup seperti yang sudah-sudah.
Saat pisang yang dimakannya sudah habis, Nup menjentikkan jari dan muncul pisang baru di tangannya. Ia mengupas pisang itu dan membuang kulitnya ke bawah. Nup mengamati kulit pisang berwarna kuning yang mengambang di air. Warnanya mengingatkan Nup pada warna rambut Pina. Nup memejamkan mata dengan khidmat, membayangkan tubuh Pina mengambang-ambang di air. Suara Pina ikut tenggelam bersama tubuhnya di air.
Tiba-tiba langit di atas kepala Nup terbelah dan hujan berhenti. Hanya tempat Nup berdiri saat ini yang tidak hujan. Cahaya matahari tembus hingga ke bawah, menyorot tubuh Nup. Ia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak. Nup membuka mata dan melihat Pina di hadapannya. Pina memotong rambutnya? Nup pangling melihatnya. Aneh rasanya melihat Pina berambut pendek. Tangannya mengacung pada Nup. Nup menyengir, ia sudah menduga ini. Nup menegangkan sekujur tubuhnya dan ia terbebas dari jeratan Pina.
Saat itulah Nup lengah dan tidak sadar Sito sudah menyiapkan kurungan untuknya—untuk mereka. Hujan berhenti di rumah itu. Sito menyelubungi atap dan langit di atasnya dengan kaca tebal. Mereka bertiga terkurung di dalam ‘toples’ kurungan Sito. Wajah Sito berkerut-kerut dalam. Sito pasti mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat kurungan sebesar ini.
Nup berputar-putar di tempatnya, mengamati ‘toples’ besar itu. Ia merasa seperti kupu-kupu yang dikurung dalam akuarium kaca. Sito sungguh bodoh karena bekerja sama dengan Pina. Apa Sito tidak tahu Pina hanya memanfaatkannya? Pina akan langsung membuang Sito setelah kekuatan Nup melemah dan bisa mengalahkan Nup sendirian.
Sito berjalan ke tepi kurungan dengan terengah-engah. Ia bersandar di kaca. Sekarang tinggal giliran Pina. Sito harus bisa memulihkan tenaganya sebelum salah satu dari mereka ada yang tumbang.
Pina mengangkat kedua tangannya dan mulai membersihkan awan-awan hujan milik Nup. Nup menyengir. Akan butuh berhari-hari bagi Pina untuk membersihkan awan-awan itu. Dan Nup yakin, sebelum Pina selesai kurungan buatan Sito akan melemah. Perkiraan Nup, paling lama delapan jam.
Sito mengamati Nup yang masih terlihat tenang. Ia melirik ke arah Pina, kemudian menoleh ke langit. Nup sialan. Ia tidak menahan diri sama sekali. Pina pasti tidak bisa membersihkan awan Nup dalam waktu singkat. Sito merasa sangat cemas sekarang.
Sudah berjam-jam berlalu dan Pina baru berhasil membersihkan awan di atas rumah tempat mereka berdiri. Sito sudah lebih kuat dan duduk bersila. Nup dalam posisi duduk walaupun tidak ada kursi. Ia tidak melakukan apa pun sejak tadi dan hanya mendongak ke atas. Sekarang sudah petang. Kekuatan Pina akan melemah sebentar lagi. Nup hanya perlu menunggu.
Saat Nup melihat Kejora, ia berdiri dari posisi duduknya dan langsung membuka mulut. Hujan lebat langsung turun saat itu juga. Hujan kali ini spesial. Nup sengaja membuat butiran airnya meruncing. Kurungan Sito berdenting nyaring karena hujan itu.
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Tangan Pina goyah. Ia menurunkan satu tangannya dan menutup telinganya walau itu tidak berpengaruh. Sito menempelkan telapak tangannya ke kaca. Ia melihat kurungannya mulai retak. Sito mengerahkan tenaganya untuk menebalkan kaca kurungan.
Nup berjalan mendekati Sito. Nup akui, dibandingkan dirinya dan Pina, Sito yang paling ulet. Sito akan selalu berusaha bangkit jika ia masih bisa melakukan sesuatu. Nup kadang berpikir, Sito baru akan menyerah kalau ia sudah kehilangan nyawanya. Nup membuat hujannya semakin runcing dan fokus menghujani satu titik, di bagian telapak tangan Sito yang melekat di kurungan. Nup akan menghabisi Sito lebih dulu, baru setelah itu membereskan Pina.
Sito yakin kacanya sudah tebal, tapi ia merasa telapak tangannya ditusuk oleh jarum-jarum yang terbuat dari air itu.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Hujan jarum mereda menjadi gerimis. Sito melepaskan tangannya dan menoleh ke belakang. Ia melihat Nup terkurung dalam cahaya menyilaukan.
Nup merasa seluruh kekuatannya menguap. Harusnya sekarang sudah malam, dari mana Pina mendapat sumber cahaya sebanyak ini? Nup melihat ke kurungan kaca dengan ngeri. Ia baru sadar melihat pola titik-titik berwarna kuning di kaca. Rambut Pina ada di dalam kaca kurungan ini! Mereka berdua berhasil memperdayai Nup.
Nup meringkuk dan tubuhnya menciut. Bersamaan dengan itu hujan juga mereda dan awan gelap semakin memudar. Pina mengangguk pada Sito. Ia dan Pina keluar dari kurungan itu dan sekarang hanya tertinggal Nup di dalamnya. Sito mengecilkan kurungan itu sementara Pina menahan Nup dalam balutan cahaya dari seluruh penjuru kaca.
Tubuh Nup terus mengecil, dan setiap kali tubuhnya menciut Sito turut mengecilkan kurungannya. Hingga akhirnya Nup beserta kurungan itu seukuran kelereng. Pina menggenggamnya di telapak tangannya. Wujud Pina pun berubah. Yang ada di hadapan Sito sekarang adalah seorang anak perempuan mungil dengan rambut kuning pendek.
Sito menatap ke atas. Masih ada awan kelabu di sana, tapi sekarang juga terlihat langit cerah dengan titik-titik bintang. Sekarang ia bisa mendengar tawa terseling di antara gerutu dan keluhan. Sito terduduk lega. Selama ia masih bisa mendengar suara tawa, semua akan berakhir dengan baik.
Pina mengulurkan kelereng itu pada Sito. Warnanya kuning terang dengan gurat-gurat berwarna abu-abu gelap. Sito menerimanya dengan berat hati. Pada saatnya nanti, kekuatan Nup akan pulih dan ia bisa meloloskan dirinya dari kelereng ini. Mereka tidak bisa mengurung Nup selamanya karena mereka tetap membutuhkan Nup. Sito mengangguk pada Pina dan anak perempuan kecil itu terbang meninggalkan Sito bersama kelereng-Nup.
Eh, kamu ternyata tidak suka panas-panasan?
Mei 2022
Cerita Jani_