Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Bagaimana kalau hujan berlangsung satu bulan lamanya?

Jumlah kata: 891 kata

Nup berteduh di bawah payung sambil menggigit pisang, di atap sebuah rumah yang penghuninya sudah mengungsi karena air sudah sampai sepinggang orang dewasa. Sudah dua hari ia tidak menghentikan hujan ini. Selama dua hari itu juga Nup berkeliling ke seluruh penjuru negeri, mengendalikan hujan. Tapi kota ini kota favorit Nup. Paling padat dan paling berisik, padahal luasnya tidak seberapa dibandingkan kota lain. Selain alasan itu, Nup juga menghindar dari Pina. Cepat atau lambat, Pina pasti akan mengejarnya dan mengacaukan pesta Nup seperti yang sudah-sudah.

Saat pisang yang dimakannya sudah habis, Nup menjentikkan jari dan muncul pisang baru di tangannya. Ia mengupas pisang itu dan membuang kulitnya ke bawah. Nup mengamati kulit pisang berwarna kuning yang mengambang di air. Warnanya mengingatkan Nup pada warna rambut Pina. Nup memejamkan mata dengan khidmat, membayangkan tubuh Pina mengambang di air. Suara Pina ikut tenggelam bersama tubuhnya di air.

Tiba-tiba langit di atas kepala Nup terbelah dan hujan berhenti. Hanya tempat Nup berdiri saat ini yang tidak hujan. Cahaya matahari tembus hingga ke bawah, menyorot tubuh Nup. Ia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak. Nup membuka mata dan melihat Pina di hadapannya. Rambut kuningnya berkibar. Tangannya mengacung pada Nup. Nup menyengir, ia sudah menduga ini. Nup menegangkan sekujur tubuhnya dan ia terbebas dari jeratan Pina.

Saat itulah Nup lengah dan tidak sadar Sito sudah menyiapkan kurungan untuknya. Hujan berhenti di rumah itu. Sito menyelubungi atap dan langit di atasnya dengan kaca tebal. Nup terkurung di dalam ‘toples’ kurungan Sito. Wajah Sito berkerut-kerut dalam. Sito pasti membutuhkan tenaga yang sangat besar untuk mengurung Nup.

Nup berkeliling kurungan itu. Ia merasa seperti kupu-kupu yang dikurung dalam akuarium kaca. Sito sungguh bodoh karena bekerja sama dengan Pina. Apa Sito tidak tahu Pina hanya memanfaatkannya? Pina akan langsung membuang Sito setelah kekuatan Nup melemah.

Sito berjalan mendekati kurungan Nup dengan terengah-engah. Pina mengangkat kedua tengannya dan mulai membersihkan awan-awan hujan. Sito dan Nup berdiri saling berhadapan dengan dibatasi oleh kurungan itu. Nup menyengir melihat Sito yang menatapnya penuh rasa benci. Akan butuh berhari-hari bagi Pina untuk membersihkan awan-awan itu. Dan Nup yakin, sebelum Pina selesai, kurungan buatan Sito akan melemah. Perkiraan Nup, paling lama delapan jam.

Sito berbaring telentang di atap. Ia benar-benar kepayahan. Suara-suara kelegaan menguatkan dirinya. Sito menghirup napas dalam-dalam, mengatur napasnya, mengumpulkan kembali tenaganya. Ia melirik ke arah Pina, kemudian menoleh ke langit. Nup sialan. Ia tidak menahan diri sama sekali. Pina pasti tidak bisa membersihkan awan Nup dalam waktu singkat.

Sudah berjam-jam dan Pina baru berhasil membersihkan awan di atas gedung tempat mereka berdiri. Sito duduk bersila di dekat kurungannya, siaga kalau-kalau Nup melakukan sesuatu. Sejak tadi Nup terlihat duduk melayang sambil mendongak ke atas. Sekarang sudah petang. Kekuatan Pina akan melemah sebentar lagi. Nup hanya perlu menunggu.

Saat akhirnya Bintang Timur terbit, Nup berdiri dari posisi duduknya dan langsung membuka mulut. Hujan lebat langsung turun saat itu juga. Hujan kali ini spesial. Nup sengaja membuat butiran airnya meruncing. Hujan itu menusuk-nusuk Sito dan Pina di luar kurungan.

© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Pina langsung tersungkur sambil berteriak-teriak kesakitan. Teriakannya membuat Nup bertambah kuat. Kurungan Sito masih belum luntur. Nup menengok pada Sito dan melihat Sito berusaha berdiri. Nup akui, dibandingkan dirinya dan Pina, Sito yang paling gigih. Sito akan selalu berusaha bangkit jika ia masih bisa melakukan sesuatu. Nup kadang berpikir, Sito baru akan menyerah kalau ia sudah kehilangan nyawanya.

Nup membuat hujannya semakin runcing. Ia yakin Sito tidak akan bisa berdiri dan melawannya. Saat ini, ia yang terkuat di antara mereka bertiga.

Kemudian yang terjadi di depan matanya membuat Nup ngeri.

Pina mengacungkan tangannya pada Sito. Tubuh Sito memancarkan cahaya terang. Pina menyelubungi tubuh Sito dengan kekuatannya. Jarum air hujan Nup tidak bisa menembus cahaya itu. Nup menoleh dan melihat Pina tidak sadar. Rambut kuningnya berubah warna menjadi keperakan. Pina menyerahkan semua kekuatannya pada Sito?! Mereka berdua benar-benar putus asa.

Sito melangkah mendekati kurungan Nup. Ia melihat Sito semakin kuat. Luka-luka di tubuh Sito karena hujan jarum Nup pulih dengan sendirinya. Kemudian Sito menciutkan kurungan Nup. Menciut, menciut, sampai hampir mengimpit Nup di dalam kurungan.

Lalu Nup terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. Sungguh rencana yang bagus! Nup tidak menduga Pina akan memberikan kekuatannya pada Sito!

Kurungan Nup pecah berkeping-keping. Sito melotot ngeri saat tumbuh sayap di punggung Nup. Rencana mereka gagal. Pina sudah tidak sadar. Ini adalah musim terkuat Nup. Bahkan gabungan kekuatan keduanya tidak bisa menghentikan Nup. Sito sungguh bodoh karena bersekutu dengan Pina. Ia harusnya diam saja hingga kekuatan Nup melemah dengan sendirinya.

Sekarang Nup tidak akan menahan diri lagi dan mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia terbang cepat ke langit, masuk ke dalam awan-awan gelap. Sito tidak bisa mengetahui ke mana Nup pergi. Ia memperhatikan langit yang berkelip-kelip, bersiap kalau-kalau Nup muncul dan menyerangnya.

Yang keluar dari dalam awan bukanlah Nup, melainkan bola-bola hitam kecil melesat dengan cepat dan menghantam Sito dari segala penjuru. Bola-bola itu menembus cahaya yang menyelubungi Sito dan menyengatnya dengan aliran listrik.

Tubuh Sito terus disengat tanpa ada jeda sama sekali. Ketika akhirnya Sito tumbang, Nup melayang-layang di atas kepala Sito. Mereka sudah kalah. Sito dan Pina sudah kalah.

Berbarengan dengan tawa Nup, hujan turun dengan sangat lebat. Ia akan menjadikan hujan ini hujan terlebat dan terlama dalam sejarah dunia. Nup tidak sabar mendengarkan suara-suara manusia yang ketakutan dalam simfoninya.


Eh, kamu ternyata tidak suka hujan?

Mei 2022

Cerita Jani_