Jumlah kata: 1.361 kata
Sukria mewarnai pelangi setiap hari. Satu hari satu warna. Hari Senin warna merah, hari Selasa warna jingga, hari Rabu warna kuning, hari Kamis warna hijau, hari Jumat warna biru, hari Sabtu warna nila, hari Minggu warna ungu. Ia tidak bisa membolos satu hari pun mewarnai pelangi karena jika ia membolos warna pelangi jadi berbeda.
Sukria membeli perlengkapan mewarnai dari toko bernama Amuraca. Tika, pemilik Amuraca, meracik sendiri cat yang dijual di tokonya. Ia yang paling tahu ramuan bahan-bahan yang tepat untuk warna pelangi Sukria.
Hari ini Sukria pergi ke Amuraca untuk mengambil cat warna hijau, nila, dan ungu. Sambil menyerahkan kaleng warna nila, Tika berkata padanya, “Ini kaleng cat warna nila terakhir yang kupunya. Minggu depan belum tentu ada lagi.”
Sukria terkejut mendengarnya. “Bagaimana bisa begitu?”
Tika menjawabnya dengan berbisik, “Ratu memborong semua cat nila punyaku. Kau tahu, kan, aku menggunakan daun-daun nila yang biasa ada di padang untuk membuat cat warna nila? Sudah satu minggu ini aku tidak menemukan daun-daun itu. Kabarnya Ratu menyuruh bawahannya untuk memetiknya hingga habis.”
“Apa Ratu hendak membuat sesuatu? Untuk apa dia mengumpulkan warna nila?”
“Aku tidak tahu.”
Sukria pergi dari Amuraca dengan cemas. Bagaimana kalau minggu depan ia tidak bisa mengecat warna nila di pelangi? Sambil mengecat busur warna hijau, Sukria terus mencemaskan nasib warna nila di pelangi. Ia memutuskan akan menemui Ratu setelah tugasnya selesai.
Ratu mengizinkan Sukria masuk ke tempat tinggalnya. Sukria langsung bertanya kenapa Ratu memborong semua cat warna nila di Amuraca dan juga memetik daun nila sampai habis. Gara-gara perbuatan Ratu, Sukria jadi tidak bisa mendapat warna nila.
“Nila, kan, mirip dengan biru. Hilangkan saja nila dari pelangi,” balas Ratu. Ia melihat Sukria membawa kaleng cat warna nila dan ungu yang dibelinya dari Amuraca tadi pagi. “Hei, kau punya cat warna nila. Berikan padaku!”
Sukria kaget karena tiba-tiba ia dikepung oleh bawahan Ratu. Mereka merebut kaleng cat warna nila darinya. Tutup kaleng cat warna ungu tidak sengaja terlepas dan berceceran di lantai. Ratu berkata gusar, “Sudah datang tanpa diundang, mengotor-ngotori tempat tinggalku lagi. Pergi!” Ratu mengusir Sukria dari tempat tinggalnya.
Sukria langsung pergi meninggalkan kediaman Ratu. Ia pergi ke Amuraca dan mengadu pada Tika. Tika justru mengomelinya.
“Kan, sudah kubilang. Untuk apa kau justru pergi ke tempat tinggal Ratu?”
“Aku memikirkan bagaimana caraku besok mengecat busur nila.”
Tika tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan panci besar yang mendidih di depannya. Sukria mengintip isinya: cairan berwarna gelap yang mendidih. “Kau sedang membuat apa?” tanya Sukria.
Tika tidak menjawab. Ia meneteskan cairan dari panci ke wadah lain di atas meja. Tiap wadah diberi jumlah tetes yang berbeda. Ada yang satu tetes, ada yang dua tetes, ada juga yang tiga tetes. Kemudian ia meneteskan cairan lain yang sudah ia siapkan. Sama seperti tadi, jumlah tetesnya berbeda di tiap wadah. Mata Tika tertuju ke jam di rak dinding. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun. Sukria tidak berani mengajaknya bicara lagi. Ia ikut memperhatikan detik jam bersama Tika.
Akhirnya Tika berkata, “Sudah selesai. Sekarang perhatikan baik-baik di atas meja. Mana yang menurutmu paling mendekati warna nila yang biasa kaugunakan?”
Sukria mengamati wadah-wadah di depannya. Rupanya Tika sejak tadi membuat contoh warna untuknya.
“Aku tidak bisa menggunakan dedaunan yang biasa, jadi kucoba menggunakan bahan lain yang kemungkinan menghasilkan warna yang mirip,” jelas Tika.
Menurut Sukria semua contoh di depannya memang mirip dengan warna nila, tapi di matanya tetap saja terlihat berbeda. Sukria tidak terlalu puas, tapi Tika benar. Hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. “Yang ini,” Sukria menunjuk salah satu contoh, “Bisakah kau kurangi sedikit kadar birunya? Menurutku ini masih terlalu biru, tapi ini yang paling mendekati warna nila yang biasa kugunakan.”
Tika menyanggupinya. Semalaman mereka bekerja agar warna itu menjadi warna yang paling mendekati warna nila yang biasa digunakan Sukria. Namun, sampai pagi, Sukria masih merasa warnanya berbeda. Tapi tidak ada waktu lagi. Sukria membawa kaleng cat dari Amuraca dengan berat hati.
Setelah menyelesaikan mengecat busur nila sore itu, Sukria memandang hasil pekerjaannya. Ia pulang dengan perasaan masih tidak puas.
❈❈❈
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Seperti biasa, Sukria bangun pagi-pagi dan bersiap untuk mengecat pelangi. Sukria bertekad untuk membalas hasil kerjanya kemarin.
Ketika ia tiba di busur pelangi, tempat itu sudah penuh dengan bawahan Ratu. Mereka sedang menghapus warna pelangi. Bukan hanya warna nila, warna yang lain juga.
“Apa yang kalian lakukan?!” teriak Sukria pada mereka.
Tidak ada yang menjawab. Seorang di antaranya menahan Sukria agar tidak menggangu yang lain yang sedang menghapus warna pelangi.
Ratu muncul entah dari mana. Sejak tadi ia mengawasi bawahannya menghapus warna pelangi dari jauh. Di depan Sukria, Ratu berkata, “Tidak boleh ada lagi warna pelangi.” Dalam sekejap pelangi yang dirawat Sukria setiap hari, warnanya pudar lalu hilang. Setelah warna busur jadi polos bawahan Ratu melepaskan Sukria.
Sukria berlari mengambil sisa cat yang masih ia miliki. Ia bawakan ke depan Ratu dan menuang semuanya ke rumput di bawah mereka.
“Rasakan ini! Rasakan!” Dengan kuas, Sukria menarik-narik cat yang tercampur ke segala arah. Ia sangat marah sampai tidak tahu bentuk apa yang dibuatnya di rumput.
Lama-lama cat mengering dan tidak bisa lagi ia tarik dengan kuas. Sukria membanting kuasnya.
Ia bahkan tidak sadar Ratu sudah sejak lama meninggalkannya sendirian di padang rumput yang warnanya tidak lagi hijau karena tumpahan cat Sukria.
Sukria meninggalkan pelangi dan berjalan ke Amuraca dengan pelan. Ia masih memegangi kuasnya. Begitu ia membuka pintu Amuraca, Tika menyambutnya dengan riang. “Selamat datang di Amuraca! Apa yang Anda cari?”
Sukria menatap Tika dengan bingung. Apa dia tidak lihat kondisinya saat ini? Tanpa bercermin pun, Sukria tahu bajunya robek, warna aslinya tidak ketahuan karena berlumur tanah dan cat warna-warni, juga ada helai-helai rumput yang menempel.
Namun, bukan Tika yang tidak bisa melihat kondisi Sukria, melainkan Sukria yang tidak sadar dengan sekelilingnya. Biasanya Amuraca diisi dengan kaleng warna-warni, kini hanya ada satu warna mengisi raknya. Biru. Namun, tidak ada biru laut, biru muda, biru dongker, biru pastel. Hanya biru. Cuma biru. Biru saja.
“Tika! Apa yang terjadi?”
Tika membalasnya, “Tidak terjadi apa-apa, Sukria.”
Sukria berlari keluar Amuraca. Orang-orang memakai pakaian berwarna biru, rumah-rumah dan toko-toko berwarna biru, bunga dan rumput berwarna biru. Mata orang-orang berwarna biru. Langit berwarna biru.
Sukria menunduk dan berlari pulang ke rumahnya. Walau sudah menunduk ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari warna biru karena jalanan juga berwarna biru. Ia kaget melihat rumahnya juga berwarna biru. Ia masuk, mengunci rumah dan ke kamar mandi. Disiramnya seluruh tubuh dari atas kepala hingga kaki menggunakan pancuran air.
Cat yang melumuri tubuhnya luntur. Warnanya biru. Sukria terjatuh lemas di lantai yang basah. Rupanya ada cat biru yang menempel di matanya.
Sukria ingin melupakan semua kejadian hari ini. Setelah membersihkan diri dan yakin tidak ada lagi cat di tubuhnya, ia langsung pergi tidur.
❈❈❈
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Tidurnya terasa lebih lama dari biasa. Ketika Sukria bangun, matahari berwarna merah menyorot lubang jendela. Warna merahnya begitu pekat sampai bagian dalam rumahnya seperti berwarna merah. Bahkan air di dalam gelas berwarna merah. Sukria meminumnya. Rasanya tetap air putih.
Sukria bersiap-siap untuk mengecat pelangi. Tidur lama membuat tubuhnya terasa segar. Ratu bisa menghapus pelanginya, tapi ia bisa mengecatnya lagi. Stok cat miliknya sudah habis. Ia perlu pergi ke Amuraca untuk membeli cat baru.
Di luar rumah tidak lagi berwarna biru seperti kemarin. Sekarang semua berwarna merah. Seperti matahari, seperti air yang tadi diminumnya. Sukria terjerembap di depan pintu rumahnya. Warnanya merah. Ia mengamati telapak tangannya. Tidak ada cat yang menempel. Kapan warna pintunya berubah? Siapa yang mengecat?
Sukria berlari ke Amuraca.
“Selamat datang di Amuraca! Apa yang Anda cari?”
Semua cat yang dijual di Amuraca berwarna merah. “Kenapa cuma ada warna merah? Ke mana warna yang lain? Tika! Kau tidak membuat warna lain? Biru? Hijau? Kuning?” Sukria berteriak di depan Tika.
Tika mengerjap. “Memangnya ada warna lain selain merah? Seperti apa warna biru? Ada benda warna hijau? Bagaimana membuat warna kuning?”
Ratu sialan. Ratu sialan. Ini semua perbuatan Ratu sialan. Sukria membeli dua kaleng warna merah dan membawanya ke depan pelangi.
Busur pelanginya melengkung sempurna, tapi hanya ada satu warna. Merah.
Sukria membuka dua kaleng cat dan menumpahkan isinya ke atas kepalanya sendiri. Seluruh tubuhnya berwarna merah, tapi mungkin besok berubah jadi jingga.
April 2022
Apr 2022
Keluargaku berbakti pada semut. Kami percaya dengan mengikuti mereka, maka hidup kami juga terjamin.
Mar 2022
Kabel itu terhubung ke rumah kosong tepat di depan rumah kami. Warnanya abu-abu terang, lebih tipis dibandingkan kabel listrik yang berwarna hitam. Kata ibu itu kabel telepon lama.
Cerita Jani_