Jumlah kata: 1.445 kata
Kabel itu terhubung ke rumah kosong tepat di depan rumah kami. Warnanya abu-abu terang, lebih tipis dibandingkan kabel listrik yang berwarna hitam. Kata ibu itu kabel telepon lama.
Hanya satu lampu yang menyala di rumah itu, lampu teras. Lampu terasnya tidak pernah mati sementara lampu di dalam tidak pernah menyala. Kata ibu mungkin lampu di dalam tidak menyala karena memang tidak ada lampu dipasang di dalam rumah.
Kadang-kadang telepon di dalam rumah itu berdering. Ibu bilang itu karena sambungan telepon masih menggunakan sambungan telepon lama, jadi meski listrik tidak menyala, teleponnya masih tetap berbunyi karena salurannya terpisah.
Dering telepon itu nyaring dan sering terdengar sampai ke rumahku. Bunyinya mengagetkan kalau berbunyi lewat tengah malam, ketika aku sudah tidur. Karena tidak ada orang, telepon berdering hingga lama. Aku yang terbangun tetap terjaga sampai dering telepon sudah berhenti lama. Pada akhirnya aku tidak mau tidur ketakutan sendirian di kamarku dan lari ke kamar ibu.
“Kenapa? Takut dengan suara telepon lagi?”
Aku mengangguk. “Aku boleh tidur di sini, ya, Bu?”
Ibu menggeser tubuhnya untuk memberi ruang padaku di tempat tidurnya. “Tahun depan Ibu tidak mau lagi tidur sama kamu, ya. Kamu sudah besar masa masih takut.”
Ibu sudah berkata seperti itu setahun yang lalu, dan tahun sebelumnya, dan tahun sebelumnya. Aku yakin tahun depan ibu masih tetap membiarkanku tidur bersamanya kalau telepon itu berbunyi tengah malam lalu membuatku takut.
Rumah itu sudah kosong bertahun-tahun lamanya. Jujur, aku tidak ingat seperti apa rupa si pemilik rumah, atau sejak sebelum aku lahir memang tidak ada penghuninya?
“Tidak, tidak. Aku ingat dulu ada seorang wanita tinggal di rumah itu. Sebelumnya yang tinggal adalah pasangan suami-istri yang sudah pensiun. Lama-lama mereka tidak sanggup mengurus rumah itu dan disewa si wanita. Kau masih terlalu kecil waktu si wanita masih tinggal di situ, jadi mungkin kau tidak ingat,” Ibu menjelaskan ketika kami sudah bangun.
Meski Ibu bilang begitu, aku tidak ingat sama sekali dengan wanita itu. “Kenapa tidak ada yang tinggal di sana setelah wanita itu?”
“Entahlah. Tugas liburanmu sudah selesai?”
Aku merengut. Kenapa Ibu selalu mengingatkan tugas liburan? Aku sedang libur! Harusnya ada hukum yang mengatur murid sekolah tidak perlu diberi tugas ketika libur panjang. “Aku belum selesai mengerjakan matematika.”
“Baik, kerjakan dulu sebisamu baru kau boleh bermain. Tidak perlu sampai selesai,” ujar Ibu.
“Bu, aku sedang libur.”
“Kau jarang masuk semester lalu, kau harus mengejar ketinggalanmu.”
“Aku tidak ketinggalan apa-apa,” gerutuku, tapi aku tetap masuk ke kamar alih-alih pergi ke luar.
Semester lalu, ayah dan ibu bercerai. Ayah bilang akan tetap menengokku setiap minggu, tapi ia tidak pernah datang. Aku tidak tahu apakah karena dia memang tidak mau bertemu ibu atau tidak mau melihatku. Semester lalu ibu lebih sering di rumah, ayah sering di luar. Keduanya tidak ingat salah satu perlu mengantarku ke sekolah. Sebenarnya, aku sudah hapal jalan ke sekolah, tapi ibu tidak mengizinkanku pergi sendiri.
“Tahun depan kau boleh berangkat sekolah sendiri.”
Aku yakin kata-kata ibu yang ini akan ditepatinya semester depan. Aku tahu ibu sebenarnya merasa terpaksa memenuhi kata-katanya itu itu. Kalau dulu ayah dan ibu bisa bergantian mengantarku ke sekolah, sekarang ibu terlalu sibuk mengurus semuanya sendirian dan tidak sempat mengantarku. Dia bisa terlambat ke tempat kerjanya kalau mengantarku lebih dulu. Mungkin bisa, tapi hanya sesekali, kata ibu. Aku tidak keberatan sama sekali berangkat sendiri ke sekolah.
Kubuka buku tugas matematika. Sebenarnya aku belum bergerak dari halaman yang kemarin. Hari ini tanggal merah dan ibu tidak pergi kerja. Sebaiknya kukerjakan yang kubisa dan sore nanti baru bermain keluar rumah.
Baru satu jam duduk di depan buku tugas, aku tertidur. Ketika bangun, ibu sudah duduk di sampingku sambil menyengir. “Tugasmu susah sekali sampai kau ketiduran?” Tangannya terulur untuk mengelap pipiku yang basah.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku.
“Jam makan siang. Ibu memanggilmu untuk makan siang dari tadi, ternyata kau tidur.” Ibu berdiri dan menepuk-nepuk tangannya. “Ayo, ayo, kita makan!”
Selesai makan aku pergi ke lapangan, tapi tidak ada orang. Aku berkeliling rumah-rumah teman-temanku, memanggil mereka satu per satu, tapi tidak ada yang keluar. Mungkin mereka pun sedang mengerjakan tugas sekolah. Aku berjalan kembali ke rumah.
Di depan rumah, aku tidak langsung masuk. Semua orang di lingkungan ini tahu rumah di seberang rumahku kosong. Tidak berpenghuni. Siapa yang sering menghubungi rumah itu padalah sudah sejak lama tidak ada orang di sana? Apa si penelepon tidak tahu rumah itu tidak ada orang? Tapi kenapa dia terus-menerus menelepon?
Aku tidak mau terbangun lagi tengah malam. Kalau kabel telepon rumah itu dicabut, teleponnya tidak akan berbunyi meski ada yang menelepon, kan?
Aku menoleh ke rumahku sendiri. Ibu tidak terlihat di depan rumah. Aku berdoa semoga Ibu sedang tidur. Aku menoleh ke sekeliling dan tidak terlihat ada orang.
Pagar rumah itu tidak ada gemboknya. Selotnya memang terpasang, tapi tidak pernah digembok. Pagarnya terasa panas. Catnya mengelupas dan serpihan-serpihan kecil menempel di tanganku.
Kini aku sudah berdiri di depan pintu rumah. Terkunci, tapi aku tahu pasti ada pintu lain di sisi samping. Semua rumah di blok ini memiliki bentuk yang sama. Satu pintu depan dan satu pintu lain di samping. Pintu di sisi samping terbuka separuh. Di celahnya ada banyak daun-daun kering. Aku mengintip ke dalam. Terlihat masih ada perabotan dan kursi, tapi tidak ada alat elektronik. Perabot-perabot ditutup dengan bentangan kain lebar atau plastik. Bagian dalam rumah tidak gelap sepenuhnya. Cahaya masih masuk ke dalam rumah lewat jendela yang tertutup oleh kertas koran.
Kututup hidung karena debu mulai mengganggu napasku. Aku melihat kabel telepon menggantung dari langit-langit, tersambung dengan pesawat telepon di atas meja. Telepon itu nampak berwarna putih, tapi debu menempel begitu lama tanpa ada yang membersihkan, membuatnya jadi memiliki bercak abu-abu.
Kring! Kring! Telepon berdering.
Aku kaget dan menoleh sekeliling. Tentu saja tidak ada orang. Perlukah kuangkat telepon ini? Memberitahukan kalau rumah ini tidak ada penghuninya?
Aku tidak berani mengangkat telepon itu. Begitu telepon berhenti berdering, kulakukan yang jadi tujuanku masuk ke dalam rumah ini: mencabut kabel telepon.
Sekarang, aku bisa tidur nyenyak tanpa terbangun tengah malam.
❈❈❈
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Rumah nomor enam adalah satu-satunya rumah yang tidak berpenghuni di blok ini. Rumah nomor enam tidak berpenghuni, tapi pemiliknya tinggal di rumah nomor lima, tepat di seberang rumah nomor enam. Pemilik rumah sudah berniat menjual rumah nomor enam, tapi belum juga laku.
Pemilik rumah nomor enam adalah seorang wanita dengan satu orang anak. Dulu, si empunya rumah punya pasangan laki-laki, tapi mereka berpisah. Wanita pemilik rumah nomor enam ingin menjual rumah itu karena ia kewalahan mengurus dua rumah sekaligus bekerja kantoran.
Ia memperkerjakan seseorang untuk menjadi guru privat dan menemani anaknya ketika ia bekerja. Anaknya sebenarnya sudah cukup besar, tapi pemilik rumah nomor enam masih cemas meninggalkan anaknya sendirian. Biasanya orang itu datang setelah jam makan siang dan menemani si anak sampai ibunya pulang. Kalau pemilik rumah nomor enam sedang libur, guru itu juga diliburkan dari mengawasi anak di rumah nomor enam.
Saat ini si anak sedang libur sekolah, tapi gurunya tetap datang karena ibunya tidak libur. Selesai sesi pelajaran hari ini, si anak bertanya pada guru privatnya apakah ia pernah melihat penghuni rumah di seberang.
“Tidak. Bukankah sejak dulu rumah itu kosong?” tanyanya.
Si anak mengangguk-angguk. Gurunya rupanya juga tidak tahu tentang penghuni rumah itu.
Ibu si anak pulang sekitar pukul enam. “Maaf, sudah merepotkanmu mengawasinya,” ujarnya pada si guru ketika masuk ke rumah.
Si guru privat menggigit bibirnya, lalu melirik si anak. “Dia menanyakan rumah di seberang tadi,” ia melaporkan pada si ibu sambil berbisik.
Si ibu ikut melirik anaknya. Pandangan si anak terpaku pada film di layar televisi. Si ibu mengajak guru privat keluar. “Dia tanya apa?” tanya si ibu begitu mereka di luar.
“Dia bertanya apa aku pernah melihat penghuninya. Aku bilang aku tidak pernah melihatnya.”
Ibu mengangguk-angguk. “Terima kasih sudah memberitahuku.”
Kening guru itu mengerut. Ia tahu tentang rumah nomor enam, tentang pasangan si ibu yang berselingkuh dengan wanita yang dulu menyewa rumah itu.
“Apa boleh buat, aku ingin pindah, tapi rumah itu belum laku juga,” lanjut si ibu.
Kening si guru mengendur. Ia mengelus lengan si ibu. “Pasti berat tinggal di seberang rumah itu. Aku harap rumah itu cepat laku.”
Si ibu menatap rumah di seberang. Ia sudah berusaha menjual rumah itu sejak memergoki suaminya bersama wanita yang dulu mengontrak di sana. Kemarin sore, si ibu melihat anaknya masuk ke dalam rumah nomor enam. Pasti anaknya mencabut kabel telepon di sana. Semalam ketika si ibu menelepon ke rumah nomor enam, terdengar nada tunggu, tapi dering telepon tidak terdengar dari rumahnya. Karena alasan-alasan konyol, si ibu masih berharap suaminya mengangkat panggilan telepon darinya, padahal suaminya dan wanita itu sudah tidak ada di rumah nomor enam. Ia sampai membuat anaknya sering terbangun ketakutan malam-malam.
Sekarang, bagaimana caranya memberi tahu anak itu kalau ayahnya tidak akan menengok mereka lagi.
Maret 2022
Feb 2022
Selalu ada satu raksasa di satu ujung jalan.
Nov 2021
Jika kau ingin menjadi pahlawan, datanglah ke kota ini. Siapa pun yang bisa menerbangkan layangan di kota ini akan dielu-elukan sebagai pahlawan.
Cerita Jani_