Jumlah kata: 1.508 kata
Jika kau ingin menjadi pahlawan, datanglah ke kota ini. Siapa pun yang bisa menerbangkan layangan di kota ini akan dielu-elukan sebagai pahlawan. Lima belas tahun lalu aku datang ke kota ini untuk menjadi pahlawan. Sayang, sampai sekarang keinginanku itu belum terwujud.
Tahukah kau betapa sulitnya menerbangkan layangan di kota ini? Baru juga layangan itu naik, pasti sudah tersangkut entah oleh kabel, ranting pohon, atau mungkin pagar balkon lantai atas rumah bertingkat. Jika beruntung, layanganmu menyangkut di lantai atas rumah bertingkat kemudian orang yang tinggal di rumah itu kasihan dan mengembalikan layanganmu. Jika tidak beruntung, layanganmu jatuh ke got lalu basah dan kau terpaksa membeli layangan lain. Karena sulitnya itulah, maka mereka yang bisa menerbangkan layangan di sini akan dianggap pahlawan.
Kalau kau datang ke kota ini, kau akan menemukan layangan putus di berbagai permukaan. Ketika pertama kali datang aku kaget melihat banyaknya layangan yang tersangkut atau berserakan di jalan. Aku memutuskan datang ke kota ini untuk membuktikan pada keluargaku kalau mereka tidak sia-sia membesarkanku. Yah, kupikir aku bisa dengan mudah menjadi pahlawan di sini karena di kampungku menerbangkan layangan bukanlah hal yang sulit.
Pertama kali datang, aku berpapasan dengan truk sampah yang sedang mengangkut sampah. Mereka menyediakan tempat khusus untuk layangan putus di bak truk mereka. Ketika melihatku, seorang pengangkut sampah berkata, “Kau ingin jadi pahlawan di kota ini?”
Dia pasti bisa menebaknya dengan mudah karena melihat layangan yang tersampir di pundakku. Aku mengangguk semangat.
“Kudoakan kau bisa jadi pahlawan di kota ini,” ujarnya.
Orang yang baik. Baru pertemuan pertama kami, tapi dia sudah mendoakanku.
Aku mencari tempat untuk menerbangkan layangan yang kubawa. Di kampungku, tempat terbaik untuk menerbangkan layangan adalah di lapangan. Tidak harus benar-benar lapangan olah raga. Tanah luas tanpa dibatasi pasak-pasak pun bisa disebut lapangan, dan ada banyak tempat seperti itu di kampungku. Sampai satu jam aku berjalan berkeliling, tidak kutemukan tempat yang menurutku cocok. Kalau pun ada tempat yang cukup luas, tempat itu sudah lebih dulu terparkir banyak kendaraan.
Terpaksa aku mencoba menerbangkan layangan dari jalan tempatku berdiri. Kutengok sekeliling. Aman. Terlihat sepi. Karena tidak ada teman untuk memegangi layanganku, kuletakkan layangan di portal di ujung jalan lalu aku mengambil jarak beberapa langkah. Baru juga mengambil jarak yang menurutku pas, layanganku sudah jatuh lebih dulu dari portal.
Ada seseorang yang lewat dan melihatku. Ia tersenyum sendiri. “Sini, biar kupegangi.” Dia mengambil layanganku dan memeganginya di depan dada. Orang-orang di kota ini sungguh baik.
Begitu ada angin sedikit, kutarik-tarik benangnya. Baru juga melayang setinggi kepala orang itu, layanganku sudah jatuh. “Mau coba lagi?” ia menawarkan diri. Aku menggeleng. Aku tidak pernah melupakan hari pertama itu.
Hari-hari berikutnya terus seperti itu. Tiada hari tanpa menunggu angin dan menerbangkan layangan. Pernah juga aku mencoba menerbangkan layangan dari atas atap sebuah rumah. Ternyata justru lebih sulit. Aku harus terus-terusan mewaspadai langkah kakiku.
Aku berteman dengan pengangkut sampah yang kutemui di hari pertama. Sama sepertiku, ia dulu datang ke kota ini karena ingin menjadi pahlawan. Makin hari ia makin pesimis bisa menjadi pahlawan dan memutuskan tidak pernah lagi menerbangkan layangan. “Tapi aku senang memunguti layangan-layangan yang jatuh,” katanya.
Sebenarnya aku tidak pernah mengira akan berada di kota ini selama lebih dari satu minggu, karena itu aku tidak membawa bekal apa pun dari kampung. Cara paling mudah mencari uang di kota ini adalah dengan berjualan layangan. Tidak perlu layangan dengan bentuk rumit, hiasan macam-macam, ekor panjang, serta warna-warni—walaupun layangan yang seperti itu harganya memang lebih mahal. Layangan sederhana berbentuk ketupat dengan warna polos pun bisa dijual. Duduk saja di tepi jalan. Sudah pasti ada yang tergerak untuk membeli layangan. Aku mendapat layangan bekas dari pengangkut sampah itu. Kupilih layangan yang kerusakannya sedikit. Tinggal kuperbaiki supaya terlihat seperti layangan baru.
Biasanya aku mangkal di depan stasiun kereta. Tentu, bukan hanya aku penjual layangan di sana—seperti yang kubilang, ini adalah cara paling mudah mendapat uang di kota ini. Tapi kami tidak pernah saling merasa tersaingi. Toh kami mendapat pasokan layangan dari tempat yang sama: memunguti layangan-layangan yang jatuh di kota ini.
Lima belas tahun di sini, aku tidak menyerah seperti temanku si pengangkut sampah. Aku masih berusaha menerbangkan layangan, hanya saja sekarang cukup satu kali sehari. Itu pun kulakukan di malam hari. Entahlah. Aku merasa angin malam lebih kencang dari angin siang dan kemungkinan layanganku terbang lebih besar.
❈❈❈
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Aku sudah memperhatikan anak itu selama beberapa hari ini. Ia pertama kali membeli layangan dari penjual layangan di paling ujung stasiun. Setelah membeli ia langsung berusaha menerbangkan layangan itu di depan si penjual. Ia mencoba beberapa kali namun gagal, lalu membiarkan layangan yang baru dibelinya tergeletak di jalan. Aku melihat pengangkut sampah memungutnya bersama sampah lain.
Esoknya anak itu datang lagi. Ia membeli layangan dari penjual kedua dari ujung. Sama seperti hari sebelumnya, ia mencoba menerbangkan layangan itu. Setelah gagal digeletakkannya begitu saja di jalan. Layaknya anak-anak yang bosan dengan mainannya.
Hari ketiga. Aku mengamati anak itu lebih teliti lagi. Usianya mungkin sepantar denganku ketika aku pertama kali datang ke kota ini. Mungkin juga sama sepertiku: ingin membuktikan dirinya adalah pahlawan yang terpilih. Hari ini pun dia gagal lagi.
Aku mengambil layangan yang ditinggalkannya sebelum pengangkut sampah mengambilnya. Kulihat layangan itu belum rusak. Kutempelkan potongan kertas warna merah berbentuk ketupat di tengahnya sebagai penanda.
Hari-hari berikutnya anak itu terus membeli layangan sesuai urutan penjual dari yang terujung. Aku menyimpan layangan yang kutandai sampai anak itu membeli layanganku.
“Aku ingin membeli layanganmu,” ujarnya di depanku.
Kuserahkan layangan yang sudah kutandai padanya. Setelah membayarku, ia langsung mencobanya.
Hingga detik ini, aku masih tak bisa percaya ketika layangan yang dibelinya naik ke atas kepalanya, menembus kabel-kabel listrik yang malang melintang, sampai jauh lebih tinggi dari stasiun kereta. Semua orang berhenti dan terpana.
“Ulur! Ulur terus benangmu!” teriak seorang wanita dengan blazer yang baru keluar dari stasiun. Aku melihat seorang pria tua menangis sambil mendongak ke atas. Seseorang berusaha merebut benang layangan anak itu, namun dicegah orang-orang lain.
Anak itu berlari girang di jalan. Semua kendaraan berhenti demi memberi jalan untuknya. Orang-orang bersorak. Riuh. Pahlawan! Dialah pahlawan kota ini!
Aku berlutut. Aku sudah menyimpan layangan itu selama empat hari. Kenapa tidak pernah kuterbangkan? Kenapa layangan itu bisa terbang? Aku menangis dengan penuh sesal.
Temanku si pengangkut sampah tiba-tiba ada di sampingku. “Dia membeli layangan itu darimu, kan?” tanyanya. Aku mengangguk.
Ia berteriak kencang padaku. Sejak pertama kali kami bertemu, dia tidak pernah meninggikan suaranya sama sekali. “KENAPA KAU TIDAK MENJUAL LAYANGAN ITU PADAKU?!”
Aku menjawab terbata-bata. “A-a-a…” Dia pergi tanpa sempat aku membuat alasan.
Anak itu sudah tidak terlihat lagi dari tempatku, tapi layangannya masih melayang di langit. Aku membereskan dagangan dan pulang ke kamar kontrakanku.
Tapi aku tetap tidak bisa tenang di sana. Pemilik kontrakan menyambutku girang, “Hei! Kau sudah lihat? Ada layang-layang di langit!” ujarnya sambil menunjuk langit. Aku hanya mengangguk. Dia pasti mengira aku aneh karena tidak bersemangat melihat ada layangan terbang di kota ini. Begitu masuk kamar, aku mengunci pintu dan memejamkan mata. Ini semua pasti cuma mimpi.
Aku terbangun ketika tengah malam. Di luar sepi. Mungkin aku memang hanya bermimpi ada layang-layang terbang di kota ini.
Kubuka telepon pintarku dan membuka media sosial. Bukan mimpi. Sudah banyak rekaman anak yang sedang menerbangkan layang-layang yang kuberi tanda ketupat merah. Anak itu dan layangannya menjadi topik yang paling dibicarakan sejak siang tadi.
Walikota sangat gembira akhirnya ada layang-layang yang terbang di kota ini. Ia langsung menghadiahkan sebuah rumah untuk anak itu. Tidak cuma walikota, berbagai pihak memberi hadiah pada anak itu. Orang-orang membeli dan mencoba menerbangkan layangan, tapi tidak satu pun ada layangan lain yang bisa terbang.
Bahkan tengah malam itu layangan yang kujual masih terbang. Anak itu rupanya tidak mau menurunkan layangannya. Ia kini berada di rumah barunya bersama wartawan yang meliputnya. Lampu sorot di gedung-gedung tinggi kota ini menyorot layang-layangnya agar tetap terlihat di malam hari.
Aku merasa mual melihat rekaman-rekaman itu.
Kuputuskan untuk pergi ke rumah anak itu. Lokasinya kudapat dengan mudah dari media sosial. Di depan rumah penuh orang yang mengelu-elukannya. Rumahnya bahkan dijaga petugas keamanan. Aku melihat anak itu masih memegangi benang layangan sambil diwawancarai seorang wartawan.
Rupanya ia mengenaliku di antara orang-orang yang ada di depan rumah. Ia menunjuk-nunjukku sambil tetap bicara pada wartawan yang sedang mewawancarinya. Anak itu kemudian memanggil salah satu petugas keamanan. Petugas keamanan menghampiriku dan memisahkanku dari orang-orang lain. Ia tersenyum lebar padaku. “Kau sungguh berjasa,” ujarnya.
Anak itu melambaikan tangannya yang bebas agar aku mendekat. Dengan canggung aku mendekat. Begitu banyak kamera di depanku, berderet-deret. Lampunya sungguh menyilaukan. “Dia kakak yang menjual layangan ini padaku,” ujarnya di depan kamera sambil sedikit menarik benang layangannya.
Lagi-lagi aku merasa mual. Aku mendongak dan mengamati layangan yang tadi siang masih kupegang.
“Kalau bukan layangan yang dijual kakak ini, aku tidak akan jadi pahlawan,” anak itu masih berkata di depan kamera.
Dengan cepat kukeluarkan gunting kecil dari saku dan kugunting tali layangan. Anak itu beserta para wartawan mematung melihatku. Layangannya putus. Lampu sorot kehilangan jejaknya. Dalam sekejap layangan itu tidak terlihat lagi di langit kota ini.
Petugas keamanan menabrakku dan menjatuhkanku ke tanah. Anak itu akan tetap dianggap pahlawan, dan aku akan jadi penjahat.
November 2021
Okt 2021
Ayahku adalah seorang penyair meski bukan penyair terkenal. Kau tidak akan menemukan syairnya dicetak dalam buku-buku bersampul mengilap. Ia juga bukan penyair dengan banyak pengikut di sosial media. Tapi dia penyair.
Agu 2021
Seorang penyihir ingin membuat surat wasiat supaya dirinya tidak dilupakan ketika sudah tiada. Ia pun berusaha membuatnya dengan meminta saran dua orang temannya.
Cerita Jani_