Jumlah kata: 1.493 kata
Judul karangan ini memang dimirip-miripkan dengan judul cerita sebelumnya. Temanya pun sama: wasiat. Apa perbedaannya? Coba kamu bandingkan sendiri 🤭
Ayahku adalah seorang penyair meski bukan penyair terkenal. Kau tidak akan menemukan syairnya dicetak dalam buku-buku bersampul mengilap. Ia juga bukan penyair dengan banyak pengikut di media sosial. Tapi dia penyair. Setidaknya itu yang ia katakan padaku sebelum ia meninggal.
“Kumpulkan syairku, Nak.” Itu adalah pesan terakhirnya. “Aku mewariskannya untukmu.”
Bagaimana caramu mengumpulkan syair yang hanya pernah disampaikan secara lisan di depan orang lain? Ya, ayahku tidak menulis syair-syair yang dibuatnya. Sekadar coret-coret pun tidak ada. Untunglah seorang teman Ayah memberitahuku di mana saja ia pernah membacakan syairnya.
“Ia bersyair di warung-warung, di bawah pohon ketika orang-orang berkumpul untuk main catur. Mungkin ada yang ingat, mungkin juga tidak. Aku ingat ia pernah bersyair di rumah bordil. Dulu sebelum kau lahir dia juga kadang bersyair di bus-bus kota. Lompat dari bus ke bus tanpa melihat jurusannya. Sekarang sudah jarang yang bersyair di sana.”
Maka aku pun mulai bertanya ke tempat-tempat yang disebutkan teman ayahku itu. Apakah pernah ada seorang pria yang bersyair di sana.
“Aku pikir pria itu pengamen biasa. Kadang-kadang kalau dia datang, kuberi dia uang. Selalu ditolaknya. Akhirnya kuberi dia nasi dengan lauk.” Pemilik warteg pertama yang kutanyakan bercerita. Ketika kubilang dia adalah ayahku dan baru meninggal, ia kaget. “Wah, padahal aku cukup suka dengannya. Orang-orang yang makan di sini juga banyak yang suka dengannya.”
Kutanya lagi apakah dia tahu syair yang suka dibacakan ayahku. Dijawabnya:
“Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkannya. Warung sering terlalu ramai dan aku sulit mendengar dari balik meja ini.” Melihat warung makannya saat ini dipenuhi supir ojek daring atau karyawan kantor, aku maklum.
Lalu salah seorang tamu yang sedang makan menimpali. “Aku pernah dengar. Ada sedikit yang kuingat.”
Aku langsung mengeluarkan catatanku dan meminta orang itu mengucapkan syair yang diingatnya. Hanya enam kata yang dia ingat. Tapi kemudian dia berkata, “Sebentar. Sepertinya ada supir angkot yang tahu lanjutannya. Dia sedang narik. Biasanya jam segini dia berhenti untuk makan.”
Aku berterima kasih dan memutuskan untuk menunggu supir angkot itu. Benar saja, tidak lama kemudian datang supir angkot yang dimaksudnya. “Bang, kau ingat abang yang suka berpuisi di sini? Adek ini anaknya. Dia meninggal minggu lalu.”
Sama seperti pemilik warteg, supir angkot itu juga kaget mendengar ayahku sudah meninggal. Kujelaskan kalau aku hendak mengumpulkan syair-syair yang pernah dibacakannya. Ia langsung bersemangat. Supir angkot bahkan ingat lebih banyak dibandingkan tamu yang tadi—ia pedagang asongan yang biasa menjual rokok pada supir-supir lain.
Supir angkot makan sambil mengingat-ingat syair yang pernah dibacakan Ayah. Setelah sudah tidak ada lagi yang ia ingat, ia berkata, “Aku tahu tempat lain ayahmu suka berpuisi. Ayo, ikut aku sekalian narik.”
Aku ikut naik angkot bersamanya, duduk di kursi spesial di sampingnya. Selain kami ada juga penumpang lainnya. Supir itu bertanya, “Kenapa ayahmu meninggal? Terakhir aku lihat minggu lalu dia masih sehat.”
Aku mengalihkan wajahku dan menjawab singkat, “Serangan jantung.”
Hanya itu obrolan kami sepanjang jalan. Angkot itu melintasi gang sempit sampai akhirnya keluar di jalan dengan empat lajur. Angkot berhenti di tepi trotoar yang lebar. “Ayahmu suka berpuisi di sini. Biasanya sampai malam lalu ikut angkotku untuk pulang.” Ia memanggil penjual starling alias kopi keliling. Sama seperti tamu di warteg. Ia mengenalkanku sebagai anak ayahku. Lagi-lagi ada orang yang kaget dengan kematian ayah.
Aku mengeluarkan uang untuk membayar ongkos angkot, tapi sopir itu menolaknya. “Aku terlalu sering mendengar ayahmu secara gratis.” Aku turun dari angkot dan duduk di samping sepeda penjual starling.
“Aku senang kalau ayahmu datang, daganganku jadi ramai,” ujar si penjual starling. “Banyak, lho, yang suka menonton dia. Kau tidak mau coba berpuisi di sini seperti ayahmu?”
Aku tertawa. Kubilang aku tidak seperti ayah. Tapi aku teringat dengan puisi yang diberitahukan oleh supir angkot dan tamu di warteg. Aku berdiri dan mulai membacanya dengan malu-malu.
Setelah selesai tanpa kuduga aku mendapat tepuk tangan. Beberapa mengulurkan uang. Jumlahnya tidak besar. Recehan yang kebetulan ada di saku baju mereka. Aku menolak lembaran-lembaran dan koin yang diulurkan padaku. Tapi akhirnya kuterima juga karena kewalahan menolaknya satu per satu.
Lalu ada seseorang menghampiriku. “Aku tahu puisi itu. Dari mana kau mendengarnya?”
Aku tidak tahu siapa orang ini, tapi hari ini aku bertemu orang-orang yang tidak kukenal namun kenal dengan Ayah. Kujawab kalau aku adalah anak ayah.
“Oh, kau anak orang itu rupanya. Aku pernah menawarkan kontrak untuk menerbitkan kumpulan puisi padanya, tapi dia menolak.”
Kutebak dia pun tidak tahu ayah sudah meninggal. Kukabarkan berita duka itu padanya. “Ah, sungguh berita buruk. Aku yakin dia bisa jadi penyair besar kalau dia mau menerima tawaranku.”
Kujawab kalau aku sedang mengumpulkan puisi-puisi ayah karena ayah tidak pernah menuliskan puisinya satu pun. Orang itu lalu girang. “Kau beruntung! Aku suka merekam ayahmu jika kebetulan bertemu dengannya. Tapi dia tidak pernah mengizinkanku untuk menyebarkannya pada siapa pun. Tapi kurasa dia tidak keberatan menunjukkannya padamu.”
Ia mengeluarkan telepon pintarnya. Dipamerkannya semua rekaman ayah yang ia miliki. Jumlahnya ternyata sampai ratusan. Dia juga menyimpan beberapa di laptopnya. Kami sepakat untuk mengirimkannya melalui surel. Jika semuanya sudah terkirim, ia akan menghapus seluruh video yang ia punya sehingga hanya aku yang memilikinya.
Matahari belum tenggelam. Tiba-tiba aku rindu Ayah. Aku memutuskan untuk pergi ke makamnya walau sebentar saja.
Hampir gelap ketika aku tiba di sana. Di depan makam aku bertanya. “Kenapa Ayah meninggalkan puisi-puisi ini untuk kukumpulkan sendiri? Padahal lebih mudah kalau Ayah menulisnya dan langsung memberikannya padaku.”
Tentu saja makam itu bergeming. Ketika sudah gelap aku pun pulang ke rumah. Sejak lahir aku hanya tinggal berdua dengannya. Setelah ia tiada jadilah rumahku hanya ada aku sendiri.
Aku tidak pernah tahu ia pergi berkeliling kota sambil berpuisi. Kata teman ayah dia sudah berpuisi sejak sebelum aku lahir? Berapa banyak puisi yang ia ciptakan? Aku mengeluarkan telepon pintarku. Ada surel dari editor tadi. Ia sudah mengirimkan sisa semua video yang ia miliki. Aku membersihkan diri terlebih dulu sebelum membuka laptop dan mengecek surel darinya.
Semalaman aku menonton video-video itu. Sepertinya rute yang dilalui Ayah selalu sama meski di jam yang berbeda-beda. Dari warteg di dekat rumahku lalu ke trotoar di tengah kota dan kembali ke warteg. Rutenya memang sama tapi puisi yang dibacakannya berbeda-beda. Puisinya tentang beragam hal. Cuaca, cinta, senja, ketidakadilan, orang-orang melarat, penguasa, korupsi, pesta-pora, keluarga, kucing, gajah, kambing, bunga, rumput, virus ajaib. Sepertinya ia membuat puisi untuk apa saja yang baru dilihatnya.
Aku bukan penggemar puisi atau sastra. Aku tidak rutin membaca buku. Memangnya ada yang masih membaca buku? Aku tidak paham kenapa Ayah menyuruhku mengumpulkan puisi-puisinya. Demi kenangan tentang dirinya? Supaya aku tidak lupa dengan dirinya? Tanpa puisi warisan ini pun aku tidak akan melupakannya.
Karena sedang bosan, aku mencoba meniru membaca puisi seperti ayah dan merekamnya. Seperti tadi siang bersama si penjual starling. Karena iseng juga, kukirimkan video itu ke teman-teman dekatku. Balasan mereka tidak kuduga.
“Kau keren sekali! Aku kirim ke teman yang lain, ya?”
“Oh, aku baru tahu ternyata temanku seorang pujangga!”
“Ya ampun, puisimu sangat menyayat hatiku.”
Aku mesam-mesem sendiri membaca balasan-balasan itu. Sebuah ide muncul di kepalaku. Aku mulai membacakan puisi-puisi Ayah yang lain dan merekamnya. Kukirimkan lagi video-video itu ke dunia maya.
❈❈❈
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Itulah cerita sebenarnya awal mula diriku sebagai penyair sepuluh tahun yang lalu. Setelah beberapa bulan rutin mengunggah videoku yang membacakan puisi ayah ke internet, aku semakin dikenal sebagai penyair. Hampir semua anak-anak muda yang menyukai senja tahu namaku. Aku sering mendapat undangan untuk berdiskusi tentang puisi dan kepenyairan. Internet memang tempat yang aneh. Aku tidak pernah mengerti cara kerja internet.
Kalian tahu editor yang pernah bilang kalau aku bukan penulis puisi-puisi itu? Ya, ia benar. Ia editor yang memberikan rekaman puisi-puisi Ayah padaku. Ia bahkan berusaha menjatuhkanku dengan berkata aku bukan anak Ayah. Tentu ia tidak bisa membuktikan ucapannya. Mungkin ia iri karena bukan ia sendiri yang merekam dirinya membacakan puisi Ayah. Kalau ia melakukan itu, mungkin ia yang sekarang dikenal sebagai penyair. Setahuku sekarang ia alih profesi entah jadi apa. Yang pasti tidak ada lagi penerbit yang mau mempekerjakan dia.
Aku tidak pernah lagi menemui pemilik warteg, sopir angkot, dan penjual starling itu. Aku juga tidak tahu apakah mereka pernah menonton videoku di internet. Aku tahu mereka belum alih profesi seperti editor itu. Mereka masih tetap berjualan nasi, narik angkot, dan membuatkan kopi. Mungkin juga usaha mereka sudah diteruskan oleh keturunan mereka.
Kini, aku nyaris kehabisan puisi Ayah untuk dibacakan. Nyaris karena hanya tinggal satu puisi yang belum kubacakan. Puisi yang paling tidak kusukai. Judulnya adalah Anak Durhaka. Ayah sejak dulu sudah tahu suatu hari nanti aku akan durhaka padanya. Puisi itu jelas-jelas menggambarkan tentang diriku, bahwa suatu hari aku akan rela membunuh Ayah demi menguasai hartanya yang berupa rumah dan tanah. Ia tidak mewariskan seluruh puisinya untukku. Ia hanya ingin aku mendengar satu puisi itu.
Jangan kaget jika kau membaca surat panjang ini. Nikmatilah videoku bersyair untuk terakhir kali. Inilah puisi terakhir Ayahku. Dengan ini aku menyatakan aku bukan penyair dan aku tidak akan bersyair lagi. Selamat menikmati Anak Durhaka.
Oktober 2021
Agu 2021
Seorang penyihir ingin membuat surat wasiat supaya dirinya tidak dilupakan ketika sudah tiada. Ia pun berusaha membuatnya dengan meminta saran dua orang temannya.
Jul 2021
Setahu saya dalam literatur mana pun sembrani, unikorn, dan babi tidak pernah dipertemukan.
Cerita Jani_