Jumlah kata: 1.227 kata
Peringatan pemicu: penyiksaan hewan
Setahu saya dalam literatur mana pun sembrani, unikorn, dan babi tidak pernah dipertemukan. Atau mungkin karena saya memang jarang membaca literatur sehingga saya tidak tahu ada cerita yang mempertemukan sembrani, unikorn, dan babi.
Setahu saya, sembrani adalah hewan mitos yang sering muncul di cerita-cerita kuno. Itu kata putri saya yang senang membaca cerita-cerita fantasi. Perlu diperhatikan, sembrani dan unikorn adalah hewan yang berbeda. Begitu juga sembrani dengan pegasus. Ketiganya memang sama-sama berwujud menyerupai kuda. Pegasus berasal dari daratan Eropa, mungkin tidak pernah terbang sampai ke timur, melewati Turki. Begitu pun sembrani yang menurut cerita menjadi tunggangan para raja dan ratu, mungkin tidak pernah sampai ke Eropa. Sementara unikorn adalah hewan berkaki empat yang memiliki tanduk tunggal yang meruncing. Di antara ketiga hewan ini yang mirip kuda ini, hanya unikorn yang tidak bisa terbang.
Saya harus berkali-kali memberi tahu putri saya kalau sembrani, pegasus, dan unikorn hanya hewan khayal. Kriptid. Tapi dia terus-menerus bilang ingin melihat sembrani. Istri saya dengan entengnya menyanggupi permintaan putri saya itu. Apa dia tidak sadar dia sudah berbohong pada putrinya sendiri? Menurut istri saya biarkan saja dia bergembira dengan hewan-hewan itu.
Babi. Hewan ini adalah hewan nyata, namun justru paling sulit untuk saya jelaskan. Berkaki empat, berisik, dan bisa dijadikan babi guling. Apa lagi yang bisa saya jelaskan dari hewan itu?
Tentu saja saya tidak pernah melihat unikorn, kuda bertanduk itu. Ada buku putri saya yang menulis memakan daging unikorn bisa membuat awet muda, tanduknya berharga amat mahal.
Oh! Saya baru terpikir mungkin saja dulu sembrani dan unikorn memang ada di dunia ini. Namun karena keajaibannya itu mereka diburu terus-menerus sampai akhirnya punah.
Kalau babi dan sembrani pernah bertemu, apa yang mereka katakan satu sama lain? Apakah babi akan iri pada sembrani karena sayapnya? Saya mencoba membayangkan babi memiliki sayap dan bisa terbang. Membayangkan babi seperti itu membuat saya tertawa. Kalau babi bersayap dan bisa terbang, mungkin semut yang menghasilkan madu dan bukannya lebah atau tawon.
Saya mencoba membayangkan sembrani tanpa sayap. Tidak ada yang spesial. Mereka akan jadi kuda biasa.
Oh! Saya baru terpikir lagi. Mungkin saja dulu sekali, entah berapa tahun ke belakang, memang ada hewan yang wujudnya seperti babi namun bersayap dan bertanduk. Lalu karena suatu hal mereka punah. Ya, ya. Saya yakin pernah ada hewan seperti itu dulu. Ada juga sapi yang ekornya sangat panjang dan semut yang menghasilkan madu.
Apa yang membuat mereka punah dan kenapa hanya sembrani dan unikorn yang sering muncul dalam mitos-mitos?
Mungkin karena jika digambarkan mereka tidak menarik sama sekali, bahkan menjijikkan, sehingga penulis-penulis di masa itu enggan menuliskan keberadaan mereka. Saya akan mencoba menuliskan hewan-hewan yang saya sebutkan di atas. Namun, sebelum itu saya harus memikirkan nama untuk hewan ini bukan? Kuda bersayap dan bisa terbang disebut sembrani. Hewan berkaki empat serta bertanduk disebut unikorn, maka disebut apakah babi yang bersayap dan bisa terbang?
Saya putuskan untuk menamai hewan itu Rimia. Dan inilah kisahnya:
Seekor rimia terbang rendah menuju parit. Ia langsung menjilati air parit. Seharian ini ia terbang menuju utara. Sudah hampir musim panas dan rimia mencari wilayah yang lebih sejuk. Rimia ini sedang kesal. Kawanannya semakin berkurang. Di wilayah selatan semakin beragam hewan-hewan yang muncul. Rimia mengambil resiko karena ia terbang sendirian, menjauh dari kawanannya. Bergerak bersama dalam kawanan memang lebih aman, namun terbang sendirian ternyata juga cukup aman. Sejauh ini tidak ada yang menyerangnya. Rimia hanya berani berpindah saat gelap. Yang paling menyusahkan adalah hewan yang sekarang bisa menggunakan potongan kayu atau batu yang runcing untuk mengejar hewan lain…
Kira-kira seperti itulah awalnya. Saya membayangkan hidup mereka ketika mereka semakin terdesak oleh spesies lain yang lebih muda. Sekarang saya coba mempertemukan dia dengan sembrani:
Rimia melihat hewan itu mendarat turun tidak jauh dari tempatnya saat ini. Wujudnya tidak seperti rimia. Mereka sama-sama bersayap, namun hewan itu terlihat… anggun dan gagah? Rimia tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Mereka terlihat sangat berbeda. Hewan itu tinggi, sayapnya mengembang sempurna. Bulu-bulunya terlihat mengilap dalam gelap malam. Rimia sampai tidak berani bernapas melihatnya. Ia takut mengusik hewan itu. Padahal mereka minum dari parit yang sama.
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Sungguh hewan yang sopan! Babi-babi yang saya lihat selalu mendengus dan mengorok. Entah apa yang mereka keluhkan setiap hari. Mungkin juga mereka tahu mereka dibiarkan gemuk untuk nantinya dijadikan babi guling dan suara ngorok mereka adalah wujud protes mereka.
Rimia tahu hewan itu sudah menyadari keberadaannya. Mereka saling mewaspadai satu sama lain. Rimia tidak berani bergerak saat hewan itu mendekatinya dan menjulang tegak di depannya. Ia kemudian menurunkan kepalanya hingga sejajar dengan rimia. Ketika matanya lurus menatap rimia, ia merasa hewan itu tidak berniat menyakitinya. Ia bukan hewan buas. Mereka sama-sama mangsa hewan-hewan lain yang lebih kuat.
Hewan itu meringkik. Suaranya jernih dan nyaring. Ia rupanya juga hendak terbang ke utara, sama seperti rimia. Mereka pun melanjutkan perjalanan bersama-sama. Hewan itu mengenalkan diri sebagai seekor sembrani.
Persahabatan yang menarik. Saya membayangkan mereka saling menjaga satu sama lain dari hewan-hewan yang lebih buas.
Setelah perjalanan yang cukup lama, mereka akhirnya tiba di wilayah utara. Rimia bisa merasakan udara terasa lebih sejuk. Sembrani juga terlihat senang mereka akhirnya sampai di sini. Rimia tidak menduga ia bisa sampai di sini tanpa kawanannya dan mendapat seorang teman baru yang wujudnya berbeda dengan kawanannya.
Sekarang adalah bagian yang menyentuh. Kenapa rimia tidak pernah tertulis dalam cerita-cerita dan sembrani yang muncul dalam mitos.
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Sembrani dan rimia memutuskan untuk bersama sedikit lebih lama walau tujuan mereka sudah tercapai. Bagaimanapun ini adalah tanah yang asing bagi mereka. Akan lebih baik jika mereka tetap bersama.
Saat sedang terbang melintasi sebuah tundra, mereka melihat sekumpulan hewan sedang berkerumun. Rimia sudah pernah melihat pemandangan seperti itu. Hewan-hewan bersenjata batu runcing sedang menguliti buruan mereka. Lebih baik menghindar dari mereka jika tidak ingin bernasib seperti hewan yang dikuliti itu.
Tapi sembrani tiba-tiba menukik turun. Ia menghalau hewan-hewan itu. Mereka menyerang sembrani dengan kayu, juga melemparinya dengan batu.
Rimia berusaha mengalihkan perhatian mereka. Ia mengepakkan sayapnya. Mengeluarkan suara berisik untuk mengganggu mereka. Hewan-hewan itu mengejar rimia, meninggalkan sembrani bersama hewan yang sudah dikuliti itu. Sayap rimia tidak sebesar sembrani. Hewan-hewan itu berhasil mengejarnya dengan segera. Mereka mematahkan sayapnya. Karena mereka sudah mempunyai mangsa untuk dimakan, mereka membiarkan rimia tetap hidup. Ia dipelihara sampai waktunya nanti hewan-hewan ini membutuhkan makanan lagi.
Sungguh malang nasib rimia, pikir saya.
Sejak saat itu rimia tidak pernah lagi melihat sembrani. Ketika mereka kembali untuk mengambil hewan yang sudah mereka kuliti, sembrani sudah tidak ada di sana. Sembrani mungkin akhirnya menyadari betapa berbahayanya hewan-hewan ini. Rimia hanya bisa berharap mereka tidak akan pernah menangkap sembrani.
Hewan yang dikuliti itu memiliki tanduk di kepalanya. Sembrani menjilati sekujur tubuhnya berkali-kali untuk menyembuhkannya padahal hewan itu sudah tidak mungkin tertolong lagi. Hewan-hewan bersenjata batu runcing itu terus memburu rimia-rimia yang lain. Setiap kali sayap rimia mulai tumbuh, mereka memotongnya agar rimia tidak bisa terbang lagi. Mereka hidup awet muda hingga turun-temurun. Sembrani turut diceritakan kepada keturunan mereka. Hewan bersayap nan indah yang dengan berani menolong hewan lain yang kesusahan. Bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa menjinakkan sembrani dan menungganginya.
Saya mereka ulang cerita ini dalam kepala saya dan merasa pilu. Putri saya mungkin tidak akan menyukai cerita ini. Istri saya mungkin juga tidak setuju kalau saya menceritakan cerita ini pada putri saya. Yah, saya memang bukan pengarang yang baik. Saya ini peternak babi.
Juli 2021
Jul 2021
Wanita itu selalu pergi ke luar rumah tepat pukul tujuh pagi. Setiap kali itu juga ia baru sadar kalau engsel pagar rumahnya harus dilas, namun ia tidak pernah memperbaikinya.
Jul 2021
Kamu ingin bertemu dengan seseorang yang sudah tidak ada di dunia ini? Kami bisa membantu kamu bertemu dengan orang itu.
Cerita Jani_