Jumlah kata: 1.767 kata
Adakah orang yang ingin kamu temui tapi orang itu sudah tidak ada di dunia ini? Jika kamu bisa bertemu dengan orang itu, apa yang akan kamu katakan padanya? Mengakui kesalahan yang pernah kamu buat semasa hidupnya tapi tidak pernah kamu katakan? Bernostalgia masa-masa yang pernah kamu lalui bersamanya?
Kami bisa mempertemukan kamu dengan orang itu. Tentu saja ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi.
Tidak semua orang bisa bertemu secara leluasa dengan orang yang sudah tiada. Kami harus menyeleksi kamu dengan ketat. Tidak usah takut. Ini untuk memastikan kalau kamu benar-benar ingin bertemu dengan orang ini. Agen kami akan mendatangimu dan mewawancaraimu. Kapan kalian bertemu sebelum orang ini meninggal. Apa yang kalian bicarakan ketika itu. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Nantinya kami akan menanyakan ini juga pada pihak yang ingin kamu temui. Kami harus memastikan cerita kalian sesuai dan kalian punya perasaan yang sama kuatnya untuk saling bertemu.
Misal cerita kalian sudah sesuai namun pihak yang satu tidak ingin bertemu denganmu, kami tidak bisa mempertemukan kalian. Tidak mudah mempertemukan orang dari dunia yang berbeda.
Bayarannya tidak murah, tapi jangan salah. Kami tidak hanya menerima bayaran berupa uang. Kami juga menerima bayaran berupa barang yang paling berharga bagimu. Tidak harus berwujud barang juga, sesuatu yang tidak bisa dilihat juga bisa. Suara kamu misalnya. Ya, kamu bisa membayar kami menggunakan suara kamu. Atau warna kesukaan kamu. Katakanlah warna kesukaan kamu adalah biru. Setelah menggunakan jasa kami, kamu tidak akan bisa melihat warna biru lagi.
Kalau kamu masih ragu untuk menggunakan jasa kami, kamu bisa coba membaca cerita salah satu klien kami lebih dulu:
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
“Kapan kamu terakhir kali bertemu dengan dia? Waktu dia masih hidup, bukan kalau dia tiba-tiba muncul di mimpi kamu atau kamu tiba-tiba merasa dia ada di dekatmu setelah dia meninggal.”
Aku mengamati agen yang bertanya padaku. Ia seorang laki-laki memakai kaus putih polos, celana jins, dan berkacamata. Sepertinya kami seumuran, dalam rentang dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun. Sungguh aneh. “Beberapa bulan sebelum dia meninggal,” jawabku. Ia mencatat jawabanku di buku catatannya yang terbuka di atas meja.
“Tepatnya kapan? Tidak ingat?” dia bertanya lagi.
“Bulan Juli? Sepertinya.” Aku membuka telepon pintarku, mencari-cari percakapan kami. “Ya, bulan Juli. Kami saling bertemu bulan Juli.” Aku menunjukkan percakapanku dengan Mila ketika kami membuat janji untuk saling bertemu.
Agen itu menyingkirkan telepon pintarku dari depannya. “Aku tidak peduli apa yang tertulis di situ. Aku ingin dengar langsung dari kamu.” Ia mengetuk pulpennya dengan tidak sabar. “Apa yang kalian bicarakan?”
“Yang biasa. Pekerjaan, pasangan, keluarga. Semacam itu.”
“Tidak. Aku butuh yang spesifik. Apa saja yang kalian bicarakan?” Dia bertanya lagi. Matanya fokus ke mataku.
Aku memandangi sisa kopi di cangkir yang kuputar-putar. “Dia baru pindah pekerjaan dan terlihat bersemangat dengan tempat kerjanya yang baru ini,” ujarku. “Dia pindah karena merasa tempat kerjanya yang lama tidak sehat. Belum lagi ada atasan yang membuatnya tidak nyaman.”
“Dia dilecehkan oleh atasan kantornya yang lama?”
Agen ini menanyakannya dengan sangat santai, tapi aku bergidik mendengar pertanyaan itu. “Tidak. Yah, aku tidak tahu sampai sedetail itu. Dia hanya bilang atasannya suka menyerahkan pekerjaan yang tidak masuk akal dengan tiba-tiba.” Aku menoleh ke luar. Sebenarnya itu yang selalu dia ceritakan setiap kami bertemu.
“Bagaimana dengan pasangannya?”
“Dia punya pasangan, tapi aku belum pernah bertemu dengannya,” jawabku. “Kalau cerita tentang pasangannya dia selalu bilang pasangannya adalah orang yang sempurna. Dan dia merasa bahagia dengan orang ini.”
“Kalian tidak bertemu di pemakamannya?”
Aku menggeleng. “Tidak. Aku hanya bertemu dengan keluarganya dan sedikit temannya yang kukenal. Kami punya lingkar pertemanan yang berbeda.”
“Menarik,” agen itu bergumam sendiri sambil mencatat. “Sudah berapa lama kalian kenal?”
“Tahun ini lima belas tahun,” jawabku. “Tapi dia meninggal tahun lalu, jadi…” aku membiarkan kalimatku menggantung tanpa selesai.
“Kamu dekat dengan keluarganya?”
“Tidak bisa dibilang dekat. Pernah beberapa kali bertemu orangtua dan saudaranya yang lain. Mereka kenal denganku. Hanya sebatas itu.”
“Sudah berapa lama dia bersama pasangannya yang sempurna ini?”
Sesungguhnya aku tidak nyaman membicarakan Mila dengan orang asing yang baru kukenal. Tapi entah kenapa aku tetap menjawab pertanyaannya. “Seingatku tiga tahun.”
Orang yang mengaku agen ini memandangku lagi. “Kalian benar-benar tidak pernah bertemu? Kamu bilang kamu dan Mila lumayan dekat?”
Aku mengangkat bahu. “Aku tidak peduli seperti apa orang itu selama Mila merasa bahagia dengannya. Tapi kalau dia sampai menyakiti Mila, itu urusan lain.”
Si agen tertawa. “Lalu bagaimana kalau dia memang menyakiti Mila? Bagaimana caramu tahu dia memang pacar Mila kalau kamu tidak pernah melihat wujudnya?” Dia mengangkat bahu. “Yah, itu urusan kalian, sih. Pertanyaan terakhir. Apa yang ingin kamu katakan padanya kalau kalian bertemu lagi?”
Aku kembali memutar-mutar cangkirku. Mataku mengerjap-ngerjap. Seakan bisa membaca raut wajahku, agen itu menutup buku catatannya. “Tidak perlu dijawab sekarang, sih,” ujarnya. “Ini memang perlu dipikirkan baik-baik karena kami hanya bisa mempertemukanmu dengan satu orang. Satu kesempatan seumur hidup.” Ia membereskan bukunya dan berdiri. “Kamu yakin kamu ingin bertemu Mila? Bukan yang lain? Ibumu juga sudah meninggal, kan?” Ia bertanya lagi.
Aku mengangguk.
“Baiklah kalau begitu. Akan kukabari kalau persiapan lainnya sudah beres.” Ia mengulurkan tangan padaku dan tersenyum. “Pikirkan apa yang ingin kamu katakan pada Mila baik-baik, ya?”
Aku menjabat tangannya. “Ya, terima kasih.”
Agen itu kemudian pergi tanpa memesan minuman sama sekali sementara aku memesan kopi lagi. Ia bahkan tidak menyebutkan namanya padaku.
❈❈❈
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Dua minggu kemudian aku bertemu lagi dengan agen itu di tempat berbeda. Si agen bilang tempat ini adalah kantor mereka dan jadi tempat pertemuan untuk orang-orang yang masih hidup dengan mereka yang sudah tiada. “Mila sudah ada di dalam,” ujarnya. Kami berdiri di depan sebuah ruangan dengan pintu tertutup. “Di dalam tidak ada jendela dan satu-satunya ventilasi adalah pintu ini, tapi tidak usah takut, kami memastikan kenyamanan semua pihak.” Ia memakai kaus putih dan celana jins yang sepertinya sama seperti yang ia pakai sebelumnya. Di sekitar kami orang-orang berlalu-lalang. Ada yang sepertiku, sedang berdiri di depan pintu sambil mendengar penjelasan dari agen yang berbeda. Sepertinya kaus putih dan celana jins adalah seragam para agen ini.
Agenku menjentikkan jarinya berkali-kali di depan mataku. “Ayo, ayo. Urusanmu hanya di ruangan ini.”
Aku menelan ludah. Ini sungguhan? Aku merasa ragu.
Seakan membaca pikiranku, agen itu berkata lagi, “Kalau kamu tidak percaya dengan kami dan ingin membatalkan ini tidak masalah. Kami tidak akan menerima pembayaran darimu sepeser pun.”
Aku menarik dan menghela napas berkali-kali. “Apa hanya kami berdua di dalam?”
“Tentu saja. Pekerjaan kami adalah mempertemukan kalian, bukan menguping pembicaraan kalian. Apa pun yang kalian bahas akan jadi rahasia di antara kalian.”
“Berapa lama waktunya?”
Si agen mengangkat bahu. “Bukan kami yang menentukan. Semua tergantung dari klien dan setiap klien punya waktu yang berbeda-beda.” Ia tertawa. “Rekornya adalah satu minggu. Sungguh merepotkan.” Kemudian ia tersenyum sedih. “Pasangan ibu dan putrinya. Mereka hanya tinggal berdua dan setelah si ibu meninggal putrinya hidup sendirian. Kamu boleh keluar-masuk untuk ke toilet atau makan, tapi kamu tidak boleh melakukannya di depan Mila. Kalian hanya diperbolehkan mengobrol di dalam. Di dalam juga ada tempat tidur dan kamu boleh tidur kalau lelah. Mengerti?”
Aku mengangguk. Agen itu sudah mengantarku ke kantin dan toilet sebelum ke depan ruangan ini. Aku tidak menanyakan alasan kenapa aku tidak boleh melakukan hal-hal itu di depan Mila.
Ia mengacungkan kunci kamar di depanku. “Sudah siap?”
Aku menarik napas sekali lagi dan mengangguk. Agen membuka pintu dan menyerahkan kunci kamar padaku. “Semoga waktumu bersama Mila menyenangkan.”
Ruangan itu berwarna pastel yang nyaman. Ada satu tempat tidur, satu nakas di samping tempat tidur, dan satu kursi di tengah ruangan. Di atas nakas ada satu tanaman pot.
Seorang wanita duduk di kursi di tengah ruangan. Ia tidak terlihat tembus pandang dan kakinya menapak ke lantai. Ia memakai kaus putih dan celana jins yang mirip seperti yang dipakai si agen. Ia melambaikan tangan, mengajakku masuk ke dalam ruangan. Aku hampir berlari memeluknya. “Heh! Poni!” serunya karena aku tidak juga masuk ke dalam ruangan.
Mila sungguhan. Hanya dia yang masih memanggilku “Poni”, panggilan dari semasa sekolah dulu.
❈❈❈
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Rasanya kami membicarakan banyak hal, lebih banyak dibandingkan setiap kali kami bertemu dulu. Aku masih sesenggukan di tempat tidur. Air mataku tidak mau berhenti. Aku mendongak ketika pintu dibuka dari luar. Si agen masuk dan duduk di kursi yang tadi masih diduduki Mila. Aku bisa melihat di luar sudah malam. Ia menyodorkan gelas berisi air putih.
“Mila sudah pergi,” ujarku sambil menerima gelas.
Ia mengangguk. “Kamu sudah mengatakan semua yang ingin kamu katakan padanya?”
Aku tersenyum dan mengelap air mataku. “Entahlah, rasanya masih ada yang kurang.” Aku minum air yang diberikannya.
“Tidak apa. Itu tidak apa-apa,” ujar si agen. “Sudah malam. Kamu boleh menginap dulu di sini dan pergi besok pagi.”
“Tidak, tidak. Aku mau pulang sekarang,” jawabku. “Aku sungguh senang bertemu lagi dengan Mila.”
Aku berdiri. Dalam diam si agen mengantarkanku kembali ke lobi. Di sana aku diminta mengisi beberapa formulir.
“Kami akan menerima pembayaran dalam beberapa hari ke depan. Jangan kaget kalau terjadi perubahan tiba-tiba pada tubuhmu,” si agen menjelaskan. “Ada saja klien yang tidak menerima perubahan ini dan datang ke dokter, rumah sakit, atau pengobatan lain untuk memeriksakan diri mereka. Yah, kami tidak menyalahkan mereka, tapi kuharap kamu tidak seperti klien-klien itu. Semua sudah tertulis jelas di kontrak ini.” Ia melambaikan formulir yang sudah kuisi.
Aku mengangguk. “Sungguh, terima kasih.”
“Sama-sama. Ini terakhir kalinya kita bertemu.” Ia mengulurkan tangan. “Hati-hati di jalan.”
Aku menjabat tangannya dan meninggalkan tempat itu. Pengalaman yang aneh, tapi menurutku sepadan dengan harga yang kubayar.
❈❈❈
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Tadi adalah salah satu cerita seorang klien kami. Lihat? Rahasia kamu aman karena kami tidak akan mencatat atau merekam pembicaraan kamu. Semuanya akan jadi rahasia di antara kamu dan pihak satunya.
Kami tidak hanya menerima klien dengan cerita (yang sepertinya) mengharukan seperti tadi (Belum tentu mengharukan, sih. Mungkin saja klien kami berselingkuh dengan pacar Mila? Tapi itu bukan urusan kami). Hubungan manusia itu macam-macam, tidak hanya pertemanan seperti klien barusan. Kamu ingin menagih utang kepada mereka yang sudah tiada? Belum puas melampiaskan amarahmu dengan seseorang tapi orang itu keburu meninggal? Kami bisa mempertemukan kalian. Kamu punya dendam kesumat sampai ke ubun-ubun? Kami bisa meringankan dendam kamu.
Syaratnya sangat sederhana: masing-masing pihak lolos seleksi dari kami dan kamu mampu membayar kami.
Jadi, jika ada yang ingin kamu temui di dunia yang berbeda, apa pun alasannya, silakan hubungi kami di:
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
***********@****.*****
Catatan: hanya kamu yang sungguh ingin bertemu dengan mereka yang sudah tiada yang bisa melihat kontak kami di atas.
Juli 2021
Jul 2021
Bagaimana kalau seluruh penghuni kompleks ini pindah ke rumah sakit? Lalu hanya tinggal dirinya sendiri yang masih sehat? Ia pasti akan kewalahan menjaga semua rumah dari ujung ke ujung.
Jun 2021
Kosong.
Cerita Jani_