Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Bagaimana Cara Berduka yang Baik dan Benar?

Jumlah kata: 914 kata

Aku menatap layar telepon pintarku. Pesan masuk silih berganti di grup perpesanan instan. Aku hanya membaca pesan-pesan itu sejak setengah jam lalu.

         

Turut berduka, ya.
Semoga tenang.
Yang ikhlas sekeluarga, ya.
Doa terbaik untukmu.

         

Aku sudah mendengar kabar itu lebih dulu dari seorang teman yang lain. Teman-temanku silih berganti mengucapkan dukanya masing-masing. Aku menghela napas. Aku belum mengucapkan duka sejak mendengar kabar itu.

         

Turut berduka, ya…

         

Kuhapus pesan yang baru kuketik. Sesungguhnya aku tidak tahu apakah ucapan singkat itu bisa mengurangi rasa duka temanku. Perlukah kutelepon dia secara langsung? Temanku ini baru saja kehilangan ayahnya. Benar-benar masa yang aneh. Terlalu banyak kematian belakangan ini.

Di saat berduka seperti ini aku selalu kebingungan untuk memberikan ucapan duka. Rasanya tidak ada ucapan yang tepat. Apa pun yang kukatakan rasanya salah.

Pengalamanku berduka secara langsung bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Dua orang nenekku, dua orang temanku, dan satu burung peliharaanku. Sisanya adalah orang-orang yang tidak memiliki hubungan dekat denganku sehingga aku tidak benar-benar merasa sedang berduka.

Pengalaman berdukaku yang pertama kali adalah burung peliharaanku yang meninggal. Usiaku belum sampai lima tahun. Itu jadi pengalamanku pertama kali berhadapan langsung dengan kematian. Burung itu dikuburkan di halaman rumah. Setiap hari, selama berbulan-bulan, aku berjongkok menghadap gundukan tanah tempatnya dikubur. Bahkan sampai gundukan tanah itu rata aku masih suka berjongkok di depannya. Kupikir ia akan tiba-tiba terbang dari dalam tanah.

Kedua nenekku meninggal ketika aku kuliah. Kematian mereka berselang satu bulan. Aku tidak datang ke pemakaman keduanya karena aku berada di kota yang berbeda dengan tempat mereka dimakamkan. Yang kulakukan saat itu berdiam di kamar kos dan berusaha mengingat masa-masa kecilku bersama mereka, ketika mereka masih kuat bermain denganku. Kedua kakekku sudah tiada jauh sebelum aku lahir jadi aku hanya mengingat mereka.

Pengalaman berdukaku berikutnya adalah ketika teman kuliahku meninggal. Berita yang bagaikan langit runtuh. Di minggu sebelumnya aku masih bertemu dengan temanku ini. Kami membicarakan banyak hal tentang masa depan. Saat itu ia mengabarkan akan menikah dan akan melanjutkan studinya. Tiba-tiba aku diberi kabar ia mengalami kecelakaan.

Mimpi-mimpinya hancur. Selamanya jadi mimpi yang tidak terwujud. Aku tidak datang ketika ia dimakamkan, tapi aku pernah datang ke makamnya beberapa minggu setelah ia dimakamkan. Yang bisa kupikirkan saat melihat makamnya adalah mimpi-mimpinya ikut dikubur bersamanya. Hidupnya berhenti. Titik.

Jika ada kerabat atau rekan yang meninggal, keluargaku biasanya memberikan uang duka. Bagi mereka itu cara yang paling logis untuk mengungkapkan rasa duka mereka. Keluarga yang ditinggalkan harus tetap melanjutkan hidup dan uang itu pasti akan berguna.

Aku pernah menemani budeku ke pemakaman seorang temannya. Temannya ini masih tinggal di desa di mana orang-orang di sana saling mengenal sampai hapal silsilah keluarga A atau B. Bahkan mungkin pohon silsilah mereka masih terkait entah antarsepupu atau karena pernikahan.

Budeku dan tetangga-tetangga yang lain menyiapkan makanan dan membersihkan rumah yang berduka. Keluarga yang ditinggalkan hanya menerima tamu dari berbagai penjuru tanpa perlu memikirkan dari mana sajian untuk tamu muncul. Bahkan seminggu setelah pemakaman, para tetangga masih memasok makanan untuk keluarga itu. Tetangga-tetangga juga membantu mengurus pemakaman. Keluarga itu benar-benar dibiarkan berduka sampai merasa lebih baik.

Dua tahun lalu seorang temanku kehilangan kakaknya. Hubungan mereka sangat dekat. Yang ia lakukan untuk berduka adalah bermain video gim: Final Fantasy VII. Video gim itu memang menemani masa kecil mereka. Ia bilang karakter Cloud dan Zack di gim itu terasa sangat berbeda setelah kematian kakaknya.

Aku pernah menonton sebuah film di mana ada satu keluarga sempurna: ayah, ibu, lima orang anak. Hidup mereka bahagia dan penuh tawa sampai sang ibu meninggal. Yang mereka lakukan untuk mengungkapkan rasa duka mereka adalah mereka menari di sekeliling jenazah ibu yang dibakar. Itu memang kesepakatan keluarga ini. Ketika ada anggota keluarga yang meninggal, yang lain harus tetap tertawa. Merayakan kehidupan karena mati, bagaimanapun juga, adalah bagian dari hidup. Tentu ini hanya film. Toh di akhir film satu keluarga itu tetap menangisi kepergian ibu mereka.

Menangis memang reaksi paling umum yang sering kulihat. Menurutku itu memang reaksi paling wajar. Kehilangan memang menyedihkan.

Biarlah ucapan dukaku akan kukirimkan malam nanti sepulang aku dari kantor. Aku harus segera berangkat. Temanku itu juga pasti sedang sibuk mengurus segala macam urusan pemakaman. Ia tidak akan sempat mengecek telepon pintarnya dan membaca ucapan duka kami satu per satu.

❈❈❈

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Di kantor aku bertanya pada seorang temanku. “Bagaimana caramu mengungkapkan rasa dukamu?”

Ia memandangku dengan bingung dan sedikit khawatir. “Ada yang meninggal?” balasnya.

“Ayah temanku meninggal tadi pagi. Aku sedang bingung bagaimana cara mengucapkan duka padanya.”

“Kirim ucapan turut berduka cita? Karangan bunga?”

“Begitu saja sudah cukup? Rasanya ada yang kurang.”

Temanku menghela napas. “Percayalah. Apa pun yang kau lakukan pasti terasa kurang. Temanmu tidak bisa lagi bertemu ayahnya. Sedalam apa pun kau menyampaikan rasa dukamu, tidak akan bisa mengurangi rasa duka dia.”

Aku merenungkan jawaban temanku. Kurasa dia benar. Bagaimanapun aku menyampaikan duka untuk temanku, itu tidak akan meringankan rasa dukanya. Mungkin seperti ketika aku berjongkok di depan makam burung peliharaanku, berharap burung itu tiba-tiba terbang dari dalam tanah.

Aku mengeluarkan telepon pintarku. Ada pesan baru di grup perpesanan yang berbeda.

         

Telah meninggal dunia

         

Aku menghela napas. Kematian akhir-akhir ini terasa sangat dekat. Rasanya setiap hari aku perlu menyiapkan ucapan duka yang berbeda-beda.

Tapi pada akhirnya tetap saja pesan yang kukirimkan selalu sama. Pesan yang sebenarnya aku yakin tidak mengurangi sedikit pun rasa duka mereka yang ditinggalkan. Pesan yang hanya akan menunjukkan kalau aku peduli. Aku mengirimkan dua pesan yang sama persis ke dua grup perpesanan yang berbeda.

         

Turut berduka, ya. Semoga kamu tabah.

Juni 2021


Siapa Lebih Tinggi?

Mei 2021

Seorang manusia mendongak dan bertanya ke langit, “Wahai langit, apa yang lebih tinggi darimu?”

Berbagi dengan Semut

Apr 2021

Pernahkah kamu membunuh semut? Aku yakin, walaupun kamu mengaku sebagai orang yang paling cinta damai sekali pun, kamu pasti pernah membunuh seekor semut. Tidak, aku tidak percaya kalaupun kamu jawab tidak pernah.

Cerita Jani_