Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Berbagi dengan Semut

Jumlah kata: 827 kata

Pernahkah kamu membunuh semut? Aku yakin, walaupun kamu mengaku sebagai orang yang paling cinta damai sekali pun, kamu pasti pernah membunuh seekor semut. Tidak, aku tidak percaya kalaupun kamu jawab tidak pernah.

Ada banyak cara untuk membunuh semut. Cara paling mudah dan tidak butuh banyak tenaga pastinya adalah dengan tangan kosong. Kamu hanya perlu memilih satu jari tanganmu lalu menekankannya kuat-kuat di atas tubuh semut yang kebetulan lewat di depanmu. Tentu cara ini bisa dilakukan jika semut-semut itu hanya sedikit—berdasarkan perhitunganku sebaiknya tidak lebih dari tiga puluh semut. Aku tidak menyarankan menggunakan cara ini untuk membunuh semut-semut yang berada di sarang mereka. Bahkan dengan mengerahkan seluruh jari tanganmu, kamu akan kalah. Tanganmu akan gatal-gatal digigit oleh mereka.

Cara kedua membutuhkan sedikit peralatan. Tapi jangan khawatir, alat-alat ini mudah didapat dan kemungkinan besar ada di rumahmu. Rebus air di panci hingga sepanas mungkin kemudian kamu siramkan pada semut-semut itu. Ini bisa meluruhkan sarang semut yang ada di dalam tanah. Selain itu cara ini tidak membahayakan lingkungan. Meski begitu kamu tetap mesti hati-hati. Begitu kamu menyiramkan air panas ke sarang mereka, mereka akan berhamburan keluar. Kalau tidak hati-hati tanganmu akan kena gigit juga.

Cara ini memang mudah, namun sebenarnya kurang efektif. Kamu berhasil menghancurkan sarang mereka, tapi semut-semut yang bertahan hidup akan membangun lagi sarang itu. Belum lagi kalau ternyata sarang mereka sudah terlampau jauh ke dalam tanah. Kamu perlu menyiramkan air panas sampai berkali-kali untuk memastikan sarang mereka sudah benar-benar luruh. Tentu ini sulit dilakukan jika kamu hanya punya satu panci. Kamu kehilangan momentum kamu.

Cara berikutnya tidak benar-benar membunuh semut, hanya mencegah mereka masuk ke area tertentu. Pernahkah kamu mendengar tentang kapur ajaib pembasmi serangga? Kamu gosokkan kapur itu di sekitar area-area di mana kamu tidak ingin disinggahi oleh semut. Niscaya mereka akan menghindar area-area yang kamu batasi dengan serpihan kapur itu. Bahkan bukan hanya semut, kecoak dan serangga lain juga akan menghindar! Kapur ajaib ini juga bisa kamu ganti dengan kamper atau bahan lain yang sejenis.

Ini cara paling kejam yang kutahu. Kamu tinggal semprotkan pembasmi serangga pada mereka. Racun itu akan langsung masuk ke tubuh semut melalui lubang-lubang pernapasan mereka. Kamu bisa melihat tubuh mereka mengerut dan kejang-kejang sebelum akhirnya tewas. Terkadang ada satu, dua ekor yang lolos. Mereka menjauh dari semprotan kamu dengan tubuh lemas. Aku tidak pernah tahu nasib semut-semut yang berhasil lolos dari semprotan ini. Apakah tetap hidup namun tubuh mereka bermutasi karena racun dalam semprotan itu atau apakah mereka mati cepat? Yang pasti menurutku ini cara yang kejam namun efektif. Oh, jangan lupa, tutup hidungmu saat menyemprot pembasmi serangga. Kalau tidak kamu juga ikut mengisapnya.

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Mungkin kamu berpikir aku begitu membenci semut. Aku tidak membenci semut, tapi aku juga tidak suka-suka amat dengan mereka. Bagiku mereka itu seperti pencuri makanan. Tinggalkan sebentar teh manis panas di lantai. Kalau kamu lupa meminumnya karena keasyikan menyimak tagar-tagar yang berganti tiap detik di sosial media, semut-semut sudah lebih dulu merubungi teh yang sudah dingin. Sebiji nasi yang jatuh yang sudah kering pun menjadi incaran semut-semut itu. Ada makanan manis sedikit saja, kamu akan melihat mereka pelan-pelan mendekati makanan itu.

Tapi itu tidak seberapa. Buatku yang paling mengherankan adalah jika kebetulan aku melihat mereka sedang bergotong royong mengangkat serangga yang sudah mati bersama-sama. Aku pernah melihat mereka membawa bangkai capung, cicak, dan kecoa. Bisakah kamu bayangkan apa yang mereka lakukan pada bangkai-bangkai itu?

Jangan keliru. Aku juga kagum dengan mereka. Mereka saling berbagi informasi dan makanan. Jangan heran kalau kamu suka melihat semut berjalan dan menabrak semua benda di depannya. Itu karena penglihatan mereka memang buruk. Tapi kalau semut saling menabrak semut lain, mereka langsung berbagi informasi. Jika ada yang menemukan makanan, dia akan memberi tahu yang lain kemudian bersama-sama membawa makanan itu ke sarang. Pernahkah kamu melihat satu ekor semut menimbun bahan makanan untuk simpanan dirinya sendiri?

Semut adalah contoh sempurna dari peribahasa berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Mereka hidup berkoloni dan saling berbagi makanan. Mereka yang tidak bisa memberikan keturunan bertugas mencari makan dan menciptakan lingkungan yang ideal untuk semut yang bisa bertelur. Mereka yang bisa bereproduksi memastikan generasi mereka terus berlangsung. Aku percaya inilah rahasia mereka bisa bertahan hidup sejak puluhan juta tahun lalu di planet ini. Mereka bisa hidup di berbagai tempat dengan beragam cuaca. Tempat-tempat yang jarang ditemukan adanya semut adalah tempat dengan kondisi lingkungan yang sangat ekstrem.

Karena itu, walaupun ada banyak cara untuk membasmi semut, aku lebih memilih cara ini untuk menyingkirkan mereka:

         

Ambil sejumput gula dengan jarimu. Sedikit saja. Kalau kamu tidak mempunyai gula, kamu bisa menggantinya dengan bahan makanan lain yang manis. Kamu taburkan gula itu jauh dari tempat yang tidak ingin dijangkau semut. Mereka akan berkumpul sendiri mendekati gula yang kamu tabur dan menjauh dari makananmu yang lain. Apakah kamu rela membagikan sejumput gula pada mereka? Sejumput gula itu bisa langsung lumer dalam sekali jilatan lidahmu, tapi siapa yang tahu berapa ekor semut yang bisa hidup dari gula-gula yang kamu tabur.

April 2021


Kemeja Kemurungan Taman

Apr 2026

Tentang proyek sulaman Kemurungan Taman. Saya menulis cerpen Kemurungan Taman sekitar akhir tahun 2025.

Menyisih

Okt 2024

Deru kendaraan menemani hari-hari orang banyak setiap hari, beriringan dengan ketidaksabaran, kelelahan, dan segala kesusahan hidup. Tidak ditemukan ketenangan dalam deru kendaraan-kendaran itu. Tak ada orang dengan sukarela terjebak dalam kepenatan ini. Mereka yang ada di sini memaksakan diri saling berjejalan menuju pulang—menunda pulang hanya menumpuk kelelahan.

Cerita Jani_