Jumlah kata: 2.201 kata
Deru kendaraan menemani hari-hari orang banyak setiap hari, beriringan dengan ketidaksabaran, kelelahan, dan segala kesusahan hidup. Tidak ditemukan ketenangan dalam deru kendaraan-kendaran itu. Tak ada orang dengan sukarela terjebak dalam kepenatan ini. Mereka yang ada di sini memaksakan diri saling berjejalan menuju pulang—menunda pulang hanya menumpuk kelelahan.
Dalam kendaraan-kendaraan itu terlihat sosok-sosok penumpang dan supirnya. Bus mengangkut penumpang berjejal-jejal, dan di antaranya mobil-mobil besar mengangkut dua orang—satu supir dan satu penumpangnya—berada di jalan yang sama. Apakah orang-orang yang berjejalan itu iri kepada orang-orang yang duduk lapang?
Malam telah larut, aku terlambat, dan langit sudah lama jadi gelap. Walau begitu kota ini tetap penat dijejali pendatang dari berbagai penjuru. Aku berada dalam perjalanan bersama banyak orang lain—harusnya aku sudah berada di rumah ketika langit masih terang. Walau gelap, lampu-lampu jalan masih terang, memberi harapan dan rasa aman semu kepada siapa pun yang melihatnya.
Di halte ojek-ojek roda dua masih menjajakan jasa mereka untuk orang-orang yang perjalanannya belum tuntas ketika turun bus. Mereka punya pesaing, yaitu angkot. Bertahun-tahun dua angkutan itu saling bersaing tanpa pemenang. Makin tahun semua pelakunya babak belur, meski begitu, mereka tetap ada, dan entah sampai kapan. Mereka adalah orang-orang yang tidak gentar pada larut malam. Mereka lebih gentar kepada lapar.
Dan aku tetap terlambat tiba di rumah walau turun dari bus memilih naik ojek sejak turun bus.
Aku gentar di depan rumahku—rumah orangtuaku. Hawa sejuk mengalir saat aku membuka pintu. Seseorang duduk di sofa sambil menonton televisi. Dia orang paling berjasa untukku selama dua setengah tahun terakhir, dan dengan pulang terlambat aku membuatnya kecewa. Dia menungguku pulang tepat waktu, tapi aku gagal melakukannya.
Dia menoleh kepadaku, tersenyum. Aku balas senyumnya. “Malam sekali pulangnya. Adik sudah tidur.”
‘Adik’ yang disebutnya bukan adiknya sendiri, melainkan adikku. Dia seorang perawat yang kubayar untuk merawat adikku yang tengah sakit, dan dia yang paling awet. Sudah dua setengah tahun dia menjaga adikku. Yang lain-lain tak ada yang seawet dia.
“Maaf, kamu jadi lama menunggu.” Aku duduk di sampingnya. Jam kerjanya adalah dari aku berangkat ke kantor sampai aku tiba lagi di rumah. Dia libur pada akhir minggu dan tanggal merah, hari-hari ketika aku juga libur dari kantor dan bisa berada di rumah. Besok adalah akhir minggu dan dia libur. Harusnya aku bisa pulang lebih cepat agar dia pun bisa pulang lebih cepat, tapi jalanan membuat siapa pun tak berdaya.
“Sudah makan, Bu?”
Aku mengangguk. “Adik merepotkan hari ini?”
“Tidak ada yang luar biasa. Makan tepat waktu, minum cukup, tidak rewel.” Dia melihat jam di dinding bagian atas. Aku berdebar. Tiap kali dia hendak pamit, aku was-was. Ditinggal berdua bersama adikku yang tak bisa bergerak di rumah ini selalu membuatku gelisah. “Sudah malam, Bu. Saya pamit, ya.”
Yang paling menyesakkan adalah aku tidak bisa menahannya lebih lama dari ini. Dia pulang terlambat karena aku pulang terlambat—mungkin lewat tengah malam nanti dia baru tiba di tempat tinggalnya. Aku mengangguk, kami berdiri, dia mengangkat tas dan segala alat yang sudah dikemas entah berapa jam lalu. Kuantar dia ke pintu.
“Besok saya libur, kan, Bu?”
Kuangguk kepalaku lagi. “Terima kasih, ya. Maaf kamu jadi terlambat. Kabari kalau sudah sampai rumah.”
“Ya, Bu. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Pintu kututup setelah dia tidak kelihatan. Malam sudah larut, tapi masih panjang bagiku. Aku belum membersihkan diri, belum memastikan rumah dalam keadaan bersih. Perawat itu hanya kubayar untuk merawat adikku, tidak merawat rumah orangtuaku ini.
Suara televisi menemaniku masuk ke dalam kamar adikku. Perkataan perawat itu benar, adikku sudah lelap dalam mimpinya.
Bisakah dia bermimpi? Apa dalam mimpinya dia bisa bicara dan berjalan? Dia tidak akan bisa menjawab kalaupun ditanya. Hari-harinya hanya bisa berbaring dan makan—dan harus disuapi orang lain. Dia mungkin tidak tahu nama perawat yang merawatnya selama dua setengah tahun ini.
Dia mungkin tidak mengenaliku.
Aku meninggalkan kamarnya. Kadang dia suka terbangun tiba-tiba, dan aku tidak mau membangunkannya. Dia sering merengek dan aku tidak tahu apa yang diinginkannya. Si perawat lebih sabar menghadapinya. Suatu waktu kutanyakan bagaimana dia menghadapi para pasiennya, dan dia bilang itu memang bagian dari pelatihannya.
Aku pergi membersihkan diri. Ingin kulewati kewajiban itu dan istirahat lebih cepat. Apakah membersihkan diri sebuah kewajiban? Terbayang ibuku yang telah tiada. Sewaktu masih hidup, dia tak jenuh mengingatkan kami harus dalam keadaan bersih sebelum pergi tidur.
Kini dia tidur selama-lamanya bersama ayah, di dalam tanah, di tempat dia tak bisa membersihkan diri lagi.
Sebelum tidur aku melihat adikku lagi dari pintu kamarnya. Tidak ada tanda-tanda dia akan bangun—dia masih tetap hidup sampai besok pagi. Hanya malam ini, nampaknya, dia tidak akan bangun lagi.
Aku duduk di sofa di depan televisi. Kubiarkan televisi itu menyala, sementara aku membuka telepon pintarku. Banyak pesan yang belum kubuka, terutama dari kolega-kolega yang berhubungan dengan pekerjaan. Jam sudah lewat tengah malam, kuabaikan pesan-pesan itu.
Sebuah pesan baru masuk, berbunyi,
‘sudah tidur? besok aku ke rumah, ya?’
Pesan ini dari kekasihku, tidak kuabaikan.
‘baru mau tidur. terserah saja. aku tidak bisa ke mana-mana.’
Balasannya masuk saat itu juga.
‘oke. besok aku ke rumah. pagi.’
Kuletakkan telepon di atas meja. Kubiarkan televisi menyala tanpa memperhatikan apa yang ditayangkan di sana.
❈❈❈
© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Kekasihku tiba di depan rumah dengan berjalan kaki—selalu berjalan kaki. Seluruh perjalanan dari kediamannya sampai rumahku bisa kubayangkan: keluar dari kamar kos, berjalan lima menit sampai ke halte, mungkin membeli gorengan di halte untuk teman menunggu bus, naik ke dalam bus, turun di halte dan berpindah bus, turun di halte yang sama tempatku turun semalam. Jika aku memilih naik ojek dari halte, dia selalu memilih jalan kaki. Semua itu bisa kubayangkan sebab kami tinggal di lingkungan yang sama sebelum orangtuaku mati dan aku kembali ke rumah untuk menggantikan mereka merawat adikku.
Sebelum pindah, aku pernah mengatakan kami sebaiknya mengakhiri hubungan sebagai pasangan kekasih, tapi dia masih ingin melanjutkan hubungan ini. Dia yakin tidak akan ada yang berubah meski aku pindah ke rumah orangtuaku. Keyakinan yang tidak kusesali. Aku tidak bisa meninggalkan rumah, dia bersedia datang tiap waktu liburnya ke rumah orangtuaku ini.
Aku berdiri di depan pintu rumah, tanpa tidur semalaman. Dia datang terlalu pagi, yang berarti dia berangkat dari kediamannya sebelum matahari terbit. Dia mengecup pipiku. “Kamu dan adikmu sudah makan? Aku bawa soto ayam. Ada nasi di rumah?”
Aku menggeleng—aku belum makan pagi ini, dan tidak ada nasi di rumah. Aku juga belum memberi makan adik.
“Oke. Kita makan bersama. ”
Dia menuju dapur. Digelarnya barang-barang yang ia bawa. Dia sudah tahu letak semua peralatan makan di rumah ini. Diambilnya alat-alat yang dirasa perlu.
“Ada apa?” dia menoleh ke belakang, kepadaku.
Aku tak sadar membatu memperhatikannya. Aku menggeleng.
Sepiring nasi bersama mangkok isi soto tersaji di atas baki. Dia mengangkatnya, berjalan ke arahku, “Biar kusuapi adik lebih dulu, habis itu kita makan, ya? Tapi, kalau kamu lapar, ambil sendiri saja. Biar aku makan belakangan setelah menyuapi adik.”
Dia melewatiku, menuju kamar adik. Aku mengekornya. Di kamar dia mendudukkan adik, memberi minum dan mengajaknya bicara, menanyakan kabarnya, lalu dia menyuapinya. Adikku membuka mulutnya, tanpa rengekan, tanpa perlawanan.
“Aku mau menyiram tanaman di luar,” aku berkata kepada mereka berdua.
“Oke,” kekasihku membalas. Adikku tidak membalas apa-apa.
Halaman rumah kami kecil, rimbun dengan tanaman-tanaman dalam pot. Ibuku yang gemar memeliharanya. Ayahku gemar membeli ikan yang kemudian dilepas di kolam kecil di halaman kami. Kolam itu bukan benar-benar kolam ikan, melainkan sebuah pot besar berisi air, ikan, dan tanaman air yang tak kuketahui namanya.
Seingatku ayahku suka memberi nama untuk ikan-ikan di kolamnya. Ibuku suka meledek memangnya dia ingat ikan mana bernama siapa—menurut ibuku semua ikan-ikan itu tak bisa dibedakan. Pun tak bisa dibedakan mana induk, mana anak. Terakhir kali kulihat ke dalam kolam itu tidak kutemukan ada ikan di sana. Entah tidak mau keluar, entah memang sudah tak ada ikan.
Langit berawan. Mendung. Namun, aku tetap menyirami tanaman-tanaman ibuku. Menjelang hari akhirnya, tanaman-tanaman itu tumbuh liar, berdampingan dengan gulma yang tak kalah liar. Aku dibantu kekasihku membersihkannya di masa-masa awal aku kembali ke rumah.
Lalu rintik turun, menitik di daun-daun dan pot-pot tanaman. Sesungguhnya, aku tak ingin masuk ke dalam rumah, tak ingin melihat kekasihku merawat adikku. Tak ada alasan menyiram tanaman-tanaman itu lagi, tapi aku bertahan di bagian halaman yang teduh, dekat kolam ikan. Aku menonton kolam ikan dengan khidmat.
Kemudian kekasihku ikut duduk di sampingku, membawa baki, kali ini isinya dua piring isi nasi. Diletakkannya baki itu di dekatku, dia masuk lagi ke dalam, keluar membawa panci berisi soto—baki itu tak cukup memuat dua piring dan satu panci.
Aku mendengar suara televisi dari dalam. Kulihat televisi menyala. Dia berkata, “Sengaja kunyalakan, biar adik menonton. Makan, yuk? Sambil nonton hujan.” Dia mengambil piring isi nasi, menuang kuah soto dari panci ke piringnya.
Aku mengikutinya. Sambil makan dia menjabarkan rencananya untuk makan siang nanti. Akhir minggu kami selalu dihabiskan seperti ini. Dia datang, lalu menghabiskan waktu di rumah. Tak pernah kami pergi keluar.
Sudah sering aku berkata, aku tidak adil kepadanya. Dia menghabiskan waktu istirahatnya di rumahku, alih-alih di tempat lain, merawat orang yang bukan siapa-siapanya, yang tidak punya hubungan dengannya. Entah bagaimana, dia bertekad bersamaku sebagai pasangan kekasih.
Makananku habis lebih dulu. Begitu dia meletakkan piring, aku mengambilnya, kubawa ke dapur, kucuci saat itu juga. Kuah soto masih sisa. Dia ikut ke dapur sambil membawa panci dan meletakkannya di kompor. Dilanjutkan membuat kopi. Aku buru-buru mencegah, “Aku teh saja. Belum tidur sejak semalam.”
Dia tertawa. Dia tidak percaya kopi instan sasetan cukup menahan kantuk. Dia meninggalkan dapur lebih dulu, membawa dua gelas berisi kopi dan teh.
Kukira dia ada di ruang tengah, tapi dia ada di halaman, bersama gelas teh dan kopi, menonton kolam ikan. Rintik masih turun. Kami menonton kolam ikan bersama-sama.
“Oh, masih ada ikannya.” Dia menunjuk ke kolam ikan.
Aku mengikuti jarinya, tidak melihat ikan yang dimaksud.
Tangannya berpindah ke kepalaku. Kepalaku bersandar di bahunya. “Jawabanmu belum berubah?” dia bertanya.
Aku berusaha menahan kantuk. Aku tahu pertanyaan yang dia maksud. Dia ingin kami tinggal bersama. Setiap minggu sejak aku tinggal kembali di rumahku—rumah orangtuaku–dia menanyakan itu. Dan, setiap minggu aku tidak menjawab.
Minggu ini aku hendak menjawab.
❈❈❈
© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Kekasihku menginap akhir minggu itu. Dia memasak untuk kami bertiga, aku membersihkan rumah. Di sela-selanya kami menonton televisi, membuat rencana kepindahannya ke rumah ini.
Sebelum orangtuaku mati, aku tinggal di lingkungan yang sama dengannya. Perkenalan kami bermula dari kami sering bertemu di halte yang sama. Setelahnya dia memberanikan diri menyapaku, kemudian kami tak hanya bertemu di halte bus. Dia merencanakan agar kami pergi berdua atau bersama teman-temannya. Semua rencana itu demi kami bertemu lebih sering, tidak hanya di halte bus.
Dia suka membuat rencana, dan selama ini aku selalu dimasukkan ke dalam rencananya. Sayang, rencana yang kumiliki tidak seperti rencananya. Orangtuaku membuatkan rencana untukku, demi kelangsungan keluarga kami.
Mereka mati mendadak dalam kecelakaan. Pihak berwenang menghubungi orang yang tercatat sebagai keluarga ayah dan ibuku. Hanya ada dua orang seperti itu: adikku dan aku. Adikku masih serumah dengan orangtuaku, tapi dia tidak akan bisa mengurus kematian orangtuaku. Maka mereka mencari satu orang lagi yang masih tercatat sebagai keluarga orangtuaku. Aku. Semua yang dimiliki orangtuaku menjadi milikku, termasuk adikku.
Kekasihku tahu cerita tentang adikku. Dari pertama kali aku bilang aku punya adik yang tak pernah keluar rumah, dia penasaran. Memangnya ada apa dengan adikku? Rasa penasaran yang wajar. Mereka baru bertemu setelah orangtuaku meninggal, saat dia menemaniku kembali ke rumah untuk mengurus pemakaman mereka.
Dan di malam pemakaman orangtuaku, kekasihku menyatakan keinginannya agar kami hidup bersama. Malam itu aku menolak. Ajakan itu terlalu cepat. Sudah lama aku menduga dia ingin kami tinggal bersama, tapi aku tak mengira dia akan menyatakannya malam itu—ketika aku merasa paling sendirian.
Bukan tanpa sebab kekasihku menyatakan keinginannya malam itu. Hari itu, saat pemakaman orangtuaku, kekasihku mengetahui kalau aku bukanlah anak kandung orangtuaku. Aku adalah anak angkat di keluarga ini. Sudah dua kali aku merasakan kematian orangtuaku sekaligus. Dia bilang merawat adikku sendirian tidak akan mudah, dan dia ingin menemaniku.
Orangtua angkatku–orangtua kandung adikku–sadar bahwa adikku punya kekurangan. Takkan ada cara untuk mengubah kekurangannya itu. Adikku tak akan bisa hidup sendirian. Hidupnya tak akan bisa lepas dari orang lain.
Lalu, mereka membuat rencana. Mereka menyertakanku dalam rencana itu. Mereka menjadikanku kunci utama yang menggerakkan rencana mereka. Rencana itu telah dijalankan jauh sebelum mereka mati.
Mula-mula mereka mengangkatku sebagai anak, memberiku hidup layak. Untuk kemudian menyerahkan adikku padaku, agar aku bisa merawatnya bahkan setelah mereka tiada, melanjutkan peran mereka sebagai orangtua. Tugas utamaku adalah menjaga adikku tetap hidup selama mungkin. Jika aku tiada, harus ada yang menggantikanku menjaga hidupnya.
Perawat yang sekarang kuperkerjakan sudah dua setengah tahun merawat adikku. Dia yang paling awet, tapi pasti akan ada waktunya dia merasa jenuh atau dapat pekerjaan yang lebih baik. Tak ada manusia yang tak berubah. Tak ada hidup yang tetap sama.
Sebelum perawat itu berubah, aku perlu melanjutkan tahap berikutnya dari rencana orangtuaku: mendapat keturunan, lalu keturunan itu kuajari untuk merawat adikku. Kalaupun aku tak bisa punya keturunan, aku bisa mengangkat anak. Kenapa mengangkat anak? Apa bedanya dengan menyewa perawat?
Aku membayar mereka dengan kasih sayang. Jika berjalan lancar, mereka akan membalasnya dengan kasih sayang pula. Seperti yang dilakukan orangtuaku kepadaku.
Aku tak tahu apakah rencana ini bisa berjalan dengan baik. Terlalu banyak kemungkinan. Aku hanya bisa berharap rencana ini berjalan lancar seperti keinginan orangtuaku, dan adikku bisa hidup lama.
Oktober 2024
Apr 2024
Linda mengintip dari jendela kamar. Sudah tiga hari terlihat ada orang di rumah depan yang kosong satu tahun terakhir. Orang-orang ini berbeda dengan orang-orang satu bulan lalu yang bolak-balik memakai kaos tipis, celana pendek, berlumuran cat seluruh badan. Orang yang terlihat tiga hari ini ada dua orang. Dua-duanya laki-laki. Yang satu muda—lebih muda dari Linda. Yang satu tua, rambutnya putih semua.
Feb 2024
Dia berdiri di ujung lapangan. Aku berdiri di sisi berlawanan. Hujan. Tanah becek dan licin. Aku tak berani menyeberang. Dia berlari menerjang hujan. “Jangan!” aku berteriak. Petir menyambar. Pekak. Dia terpeleset. Aku mengejar. Terlambat. Dia tersungkur. Dia ditembak.
Cerita Jani_