Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Jangan Tembak

Jumlah kata: 2.915 kata

Dia berdiri di ujung lapangan. Aku berdiri di sisi berlawanan. Hujan. Tanah becek dan licin. Aku tak berani menyeberang. Dia berlari menerjang hujan. “Jangan!” aku berteriak. Petir menyambar. Pekak. Dia terpeleset. Aku mengejar. Terlambat. Dia tersungkur. Dia ditembak.

Aku memegangi tubuhnya. Darah mengencer bersama air hujan. Aku menatap sekeliling. Aku tidak bisa melihat apa-apa selain hujan. Dia batuk. Darah muncrat. Dia tertembak di sekitar perut. Tembus sampai punggung. Aku menekan perutnya yang mengeluarkan darah. Darah tetap keluar dari punggung, dari seluruh tubuhnya. Dia memegangi tanganku. “Jangan…” katanya. Batuk lagi. Darahnya muncrat lagi. Lebih banyak, lebih encer, lebih gelap.

Di mana kau, wahai penembak jitu? Pengecut. Bagaimana kau bisa menembak dia dengan tepat di tengah hujan? Aku akan menembakmu. Aku akan membalasmu.

Dia mati. Dia tidak bergerak. Matanya terus terbuka. Tembakan lagi. Aku menjauh. Tembakan meleset. Dasar penembak jitu. Tembakan lagi. Aku lari. Licin. Aku terpeleset. Peluru tetap meleset. Aku merangkak. Aku melihat pohon dengan batang besar. Gunakan batang pohon untuk lindungi tubuhku.

Dia tidak bergerak. Dia tidak bernapas. Dia mati dengan sungguh-sungguh.

Aku hanya punya satu senjata. Pisau. Aku tak tahu di mana penembak jitu berada. Aku menatap dia yang mati dengan sungguh-sungguh. Senjata apa saja yang dia bawa? Aku tak tahu. Dia tidak sempat menggunakan satu pun bawaannya. Keburu mati dengan sungguh-sungguh. Aku tak sempat memeriksanya. Keburu lari dari penembak jitu. Aku bersiap. Hujan mendera. Aku berlari kembali ke tubuhnya.

Suara tembakan lagi. Tetap meleset. Kebetulankah yang tadi? Atau nasib dia yang sial? Nasibku yang mujur? Aku sudah sampai di tubuh dia. Rogoh seluruh tubuhnya. Aku menemukan satu pistol di pinggangnya.

Tembakan. Melesat persis di telingaku. Bidikannya meleset, desingnya menusuk telinga. Aku tiarap, berlindung menggunakan tubuhnya. Aku mencari-cari asal tembakan si penembak jitu. Apa mungkin dia berpindah-pindah dalam hujan seperti ini?

Aku menarik napas. Di mana pohon yang tadi? Adakah pohon yang lebih besar? Ada. Aku melihatnya. Ambil ancang-ancang. Lari ke sana.

Tembakan. Tanah becek di depan kakiku muncrat. Aku tersandung, menggelinding menabrak pohon. Pohon berderak keras. Pistol miliknya masih kupegang. Aku tak tahu cara pakai pistol. Bagaimana cara menembak orang yang orangnya tidak kelihatan? Ada berapa peluru di dalam pistol ini? Berapa kali pistol ini bisa menembak? Bagaimana si penembak jitu bisa menembakku dalam gelap?

Aku menembakkan pistol. Benarkah yang kulakukan? Tubuhku terdorong ke belakang, tapi pohon menahan tubuhku. Entah peluru meluncur atau tidak. Tanganku menggigil. Dadaku bergemuruh. Panas. Apakah tubuhku bisa berkeringat di saat seperti ini? Ini keringat dingin atau air hujan?

Tembakan lagi. Aku menunduk karena terkejut. Peluru menancap di batang pohon. Tak sampai menembus pohon. Jika aku tak menunduk… Jika peluru itu menembus batang pohon… Aku akan mati seperti dia. Tembakan kedua. Aku melihat peluru melesat di depan mataku. Tembakan ketiga. Peluru menggores sisi batang pohon tempatku bersandar. Sebelumnya si penembak jitu tidak pernah menembak berurutan dalam waktu dekat. Apakah dia tahu sekarang aku memegang pistol karena tembakanku tadi?

Aku berpindah ke pohon lain. Tembakan bertubi-tubi mengikutiku. Cepat. Rapat. Aku menembakkan pistol. Kali ini aku melihat peluru meluncur ke luar, menembus hujan. Entah meluncur ke mana.

Aku bisa menembak! Entah kenapa aku merasa senang. Aku bisa menembak!

Tembakan bertubi-tubi berhenti. Aku mengambil jeda di balik pohon. Tanganku gemetar dan sudah ada tembakan bertubi-tubi lagi. Peluru tidak ada yang mencapaiku. Sebagian terhalang pohon, sebagian mendarat di tanah di sekelilingku. Aku tak berani bergerak. Tembakan itu pasti akan berhenti. Ada waktunya. Aku menunggu.

Berhenti. Aku keluar dari perlindungan batang pohon. Aku menjejakkan kakiku. Aku membidik. Apa yang kubidik? Apa yang kutembak? Aku tak bisa melihat apa pun. Gelap. Pistol kutembak. Peluru meluncur. Aku kembali sembunyi di balik batang pohon.

Tak ada tembakan. aku menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh.

… enam ratus. Tak ada satu pun tembakan selama enam ratus detik. Apakah si penembak jitu sudah tumbang?

Aku keluar dari perlindungan pohon. Hujan belum berhenti. Aku membungkuk-bungkuk mendatangi dia yang sudah tidak bergerak lagi. Dia mati dengan sungguh-sungguh. Aku merogoh-rogoh tubuhnya lagi, mencari barang yang bisa kupakai melindungi diri. Aku hanya menemukan sekotak korek api batangan. Kotak dan isinya lecek oleh air hujan. Aku mengantongi kotak korek itu. Kututup matanya dan meninggalkan dia dengan terbungkuk-bungkuk lagi, menyeberang lapangan.

Tak ada tembakan. Aku bolak-balik menyusuri lapangan. Ke sana-sini. Tak ada tembakan. Napasku lebih teratur. Aku makin yakin si penembak jitu telah tumbang. Ha! Ternyata dia tidak jitu-jitu amat! Aku lebih jitu dari dia!

Atau aku lebih mujur dari dia.

Akhirnya aku menemukan si penembak jitu. Tubuhnya telungkup. Tembakanku menembus kepalanya sampai ke belakang. Berdarah. Dia memakai rompi, topi, sepatu bot tebal dan tinggi. Satu tangannya memegang teropong. Seluruh tubuhnya berlumur lumpur. Entah dia sendiri yang mengoleskannya atau akibat dari hujan ini. Aku tak mengenali senjata yang tergeletak di samping tubuhnya. Kelihatannya seperti pistol, tapi bentuknya berbeda dengan pistol yang kudapat dari rekanku. Ukurannya lebih besar dan moncongnya lebih panjang. Aku memungut teropongnya. Aku menyisir sekeliling tempat itu dan menemukan tas yang penuh senjata dan amunisi. Setelah itu aku mengawasi seluruh lapangan yang becek melalui teropong.

Kulihat ada bayangan bergerak. Aku buru-buru mengambil pistol si penembak jitu. Pistol itu lebih besar, tapi lebih ringan dari pistol milik rekanku. Dalam gelap aku mendengar teriakan:

“JANGAN!”

Siapa lagi? Apa dia rekan si penembak jitu? Apa ini jebakan?

Aku tetap menembak.

Aku menghitung sampai enam ratus lagi, lalu merayap dalam hujan. Ingin kuabaikan tanah becek di sekelilingku, tapi lumpur membuat gerakanku makin lambat. Aku kembali ke tempat si penembak jitu. Tubuhnya tidak bergerak. Aku melepas rompinya. Kuambil rompi, topi, dan sepatu. Kutinggalkan tasnya. Kucari orang yang kutembak.

Tidak ada orang lain selain dia yang mati dengan sungguh-sungguh dan si penembak jitu. Dua-duanya tidak bergerak. Apakah orang yang berteriak itu lari? Lari ke mana?

Aku menunggu. Diam. Hujan lama-lama berhenti. Gemuruh yang kurasakan sudah reda. Aku tak tahu sejak kapan. Sebutir batu kecil menimpa kepalaku. Tak terasa sakit. Aku menyingkirkan batu itu. Ukurannya hanya sebesar manik-manik.

Bukan batu. Benar-benar manik-manik, tapi tak berlubang. Warnanya merah. Apakah ini? Kurasakan lagi benda mirip manik-manik itu jatuh ke atas kepalaku. Kali ini warnanya abu-abu. Hujan kembali deras. Kali ini menusuk dan terasa lebih berat di kepalaku.

Karena bukan hujan air, melainkan hujan manik-manik. Mereka mendarat dengan empuk di atas tanah becek. Namun, dengan cepat tanah becek berganti dengan manik-manik. Campuran warna merah, abu-abu gelap direkatkan oleh lumpur. Saling menempel sampai jadi besar. Aku melangkah. Pada tiap langkah aku bisa merasakan manik-manik-tanpa-lubang remuk. Mereka jadi serpihan yang lebih halus lagi, tapi tak lenyap. Aku melompat-lompat meremukkan mereka. Lompatanku kalah cepat dari manik-manik yang turun dari langit. Mereka sudah setinggi mata kakiku. Yang remuk tak terlihat lagi di permukaan paling atas.

Aku mencari-cari tubuh dia yang mati dengan sungguh-sungguh. Tubuhnya masih kelihatan, hampir tenggelam dalam manik-manik-tanpa-lubang. Aku ingin berteriak, bertanya padanya. Apa yang harus kulakukan?

Manik-manik sudah mencapai telinganya. Wajahnya hampir tak terlihat. Aku meletakkan tubuhku di atas tubuhnya. Dia tidak kesakitan. Aku merasakan sakit.

Lautan manik-manik itu bergerak. Seperti gelombang. Berkumpul. Berpusar. Manik-manik campur lumpur. Pusaran menjadi tinggi. Pusaran itu membentuk cabang-cabang. Lalu bentuknya berubah jadi menyerupai burung yang sangat besar. Jauh lebih besar dariku. Burung raksasa yang terbuat dari manik-manik-tanpa-lubang, saling melekat karena lumpur.

Peganganku padanya lepas. Tubuhnya terperosok makin dalam di lautan manik-manik. Aku mengais-ais manik-manik dengan panik. Tubuhnya sudah tidak ada di dekatku.

Burung manik-manik itu bergerak. Sayapnya mengepak. Kelihatannya pelan, seakan kepak sayapnya tak akan membawanya terbang. Hempasan sayapnya membuat permukaan manik-manik di bawah bergelombang.Aku menegakkan tubuhku, berusaha menahan hempasan angin. Kutodongkan pistol ke arahnya. Tubuhnya besar. Terlihat dari segala penjuru. Sasaran yang mudah. Kutembak peluru. Kena salah satu sayapnya. Tembus sampai ke belakang. Peluru melesat terus lalu jatuh melengkung dengan sendirinya tanpa bertumbukan dengan apa pun. Tenggelam di antara manik-manik.

Aku diam di tempat. Burung itu melayang. Lumpur, manik-manik, terjatuh dari tubuhnya. Lumpur tidak membuatnya lengket dengan tanah. Manik-manik tidak membuatnya tubuhnya berat. Dia terbang, berputar-putar di atasku. Lalu dia menukik tajam ke arahku. Aku menyilangkan tangan ke depan seakan itu bisa menghentikannya. Burung itu mencengkeramku dengan cakarnya. Tubuhku terangkat, ikut terbang sampai tinggi.

Lalu aku dilepas begitu saja.

Aku jatuh. Terjun menuju manik-manik dan lumpur. Tubuhku tenggelam. Aku tiada.

❈❈❈

© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Dia yang sudah mati dengan sungguh-sungguh yang mengajakku berburu di lapangan ini. Siapa pun yang bisa menumbangkan burung manik-manik itu akan mendapat hadiah melimpah dari tuan tanah di dekat sini. Si tuan tanah ingin membuka lapangan ini untuk perkebunan. Si burung manik-manik menghalangi keinginannya. Begitulah cerita yang ditanam di sini.

Menurutku hubunganku dengan dia yang mati dengan sungguh-sungguh tidak dekat. Kami kadang-kadang tidak sengaja berpapasan atau kebetulan memilih tugas yang sama dan bersama-sama mencari cara untuk menyelesaikan tugas itu. Tetap saja. Ada rasa bersalah karena aku tidak bisa menyelamatkannya.

Burung itu menjatuhkanku, tapi aku masih hidup. Ini berkat cadangan nyawa yang kumiliki. Dia tidak punya nyawa cadangan. Dia mati dengan sungguh-sungguh. Namanya terhapus dari kontrak tugas kami dengan tuan tanah. Namaku masih tertera di kontrak itu. Aku tidak bisa keluar dari lapangan sebelum mengalahkan burung manik-manik.

Aku bisa keluar kalau aku mati. Aku tidak punya cadangan nyawa lagi. Kalau kali ini aku mati, aku akan mati dengan sungguh-sungguh seperti dia. Tambahan lagi, kalau aku mati aku kehilangan semua harta bendaku. Senjata, pakaian, obat-obatan, ramuan, jimat. Di antara dua pilihan untuk keluar dari lapangan ini, aku memilih mengalahkan burung manik-manik itu.

Aku memeriksa barang-barang yang kudapat dari si penembak jitu. Topi, rompi, sepatu, pistol, teropong. Kenapa aku tidak mengambil tas miliknya? Aku baru menyesal. Tapi, semua ini lebih bagus dari barang-barang milikku. Paling-paling aku hanya perlu membiasakan diri dengan pistolnya. Aku tidak terbiasa menggunakan pistol. Biasanya aku menggunakan pisau. Toh, tetap bisa ditukar dengan barang lain kalau aku sampai ke pasar.

Aku membereskan barang-barang dan mulai menjelajahi lapangan itu. Aku membayangkan si burung manik-manik. Apa kelemahannya? Dia bisa terbang dan tubuhnya jauh lebih besar dariku. Bagaimana caranya menahan agar dia tidak terbang? Bagaimana cara menumbangkannya?

Tiba-tiba ada orang di depanku. Aku tak tahu siapa dia. Refleks, aku mengangkat pisau. Siaga.

Dia mengangkat tangan. Seluruh jarinya terbuka seperti kipas. Aku menurunkan pisauku. Dia berkata, “Kamu membunuh rekanku. Rencanaku buyar gara-gara kamu.”

Aku tidak membunuh siapa pun setelah menembak si penembak jitu. Jadi, dia rekan si penembak jitu. “Rekanmu menyerangku duluan. Kamu tidak terima dia mati? Mau kita selesaikan dengan cara apa?”

Dia diam lama. Aku menunggunya hingga bicara. Pisau sudah kuturunkan, tapi tanganku tetap siaga. Dia berkata, “Kamu tidak pakai pistol dia.”

Pertanyaan? Atau bukan? Dia ingin pistol si penembak jitu? Dialog menyusahkan. Aku memutuskan menunjukkan pistol itu padanya. “Cari ini?”

Dia mengamati tanganku. Lama. “Itu pistol kesayangannya,” ujarnya. “Dia kumpulkan bahan-bahannya, lalu kurakit—”

Kalimatnya kuhentikan. Aku bertanya lagi. “Mau?” Kali ini kusodorkan dan kugoyangkan pistol itu di depannya.

Dia menggeleng. “Aku ingin kerja sama denganmu. Kamu terjebak di sini, kan? Rekanmu mati. Rekanku juga mati. Kita sama-sama tidak bisa keluar dari sini sendirian. Burung manik-manik itu juga. Tidak bisa dikalahkan sendirian.”

“Kenapa?”

“Kamu tidak tahu? Titik lemahnya ada di kepala, tapi harus diserang secara bersamaan.” Dia berlutut, mengambil ranting, lalu menggambar lingkaran. Dua segitiga bersinggungan dengan lingkaran itu. Kemudian ia menambahkan dua garis lurus melintang melintasi lingkaran.

Aku menimbang-nimbang. Jadi begitu caranya mengalahkan burung manik-manik. Kalau benar yang dikatakannya, aku memang tidak sanggup mengalahkannya sendirian. Tugas ini memang mensyaratkan minimal dua peserta dalam satu kelompok. Inikah alasannya dia yang mati dengan sungguh-sungguh mengajakku? Dan ternyata syarat itu bukan syarat mengada-ada.

Aku mengangguk. Pilihan apa yang kupunya?

❈❈❈

© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Si burung manik-manik tidak akan muncul selama kami belum menyatakan kami satu kelompok. Pemicu kemunculannya adalah ketika syarat-syarat yang diberikan tuan tanah terpenuhi semua. Kami sepakat untuk tidak langsung menyatakan diri satu kelompok agar tidak perlu langsung berhadapan dengan burung manik-manik. Dia bilang aku perlu meningkatkan kemampuanku. “Gerakanmu gampang ditebak. Kamu terlalu mengandalkan peralatan milikmu.”

Aku tak mengelak pernyataan itu. Tapi, kubalas dia dengan berkata si penembak jitu berarti lebih payah dariku karena aku berhasil menumbangkannya. Dia mendengus tertawa.

Dia pengajar yang telaten. Aku tahu kemampuannya jauh di atasku, tapi dia mengawasiku dengan sabar. Pertama-tama, dia menyuruhku mengalahkan makhluk-makhluk kecil: tupai, burung-burung biasa, anoa, ikan, udang. Katanya dia ingin mengamati lebih banyak kebiasaanku. Aku terbiasa menggunakan pisau. Aku senang melompat dan menusuk musuh dari jarak dekat.

“Waktu kamu menembak burung manik-manik, apa itu pertama kalinya kamu pakai pistol?” tanyanya.

Itu bukan yang pertama. Aku pernah pakai pistol, tapi situasinya amat berbeda. Waktu aku memakai pistol pertama kali aku masih mencoba-coba senjata yang kusukai. Menggunakan pistol membuatku merasa dipaksa diam di satu titik. Aku tak suka. Waktu menembak burung manik-manik aku dalam keadaan panik dan takut. Aku ingin lari, tapi untuk bisa menembak sasaran, aku harus membidik dengan konsentrasi dan tenang.

Dia menyengir mendengar penjelasanku. “Bayangkan kalau kamu bisa pakai pistol sambil lompat jungkir-balik. Seru, kan?”

Aku terdiam. Sejujurnya aku bisa membayangkannya. Mengalahkan musuh dari jauh, tapi tetap bergerak lincah. Memang terdengar seru.

Dia mengajariku membiasakan diri menggunakan pistol dalam berbagai situasi. Dia sendiri terbiasa menggunakan senjata berukuran besar dan berat. Si penembak jitu senang menggunakan senjata api, tapi dia senang menggunakan senjata tajam. Meski begitu, dia lihai membuat berbagai macam senjata. Bisa dibilang itulah keahliannya: bukan bertempur, melainkan mengumpulkan bahan-bahan untuk kemudian dirangkai menjadi senjata atau benda lainnya. Pistol si penembak jitu yang kubawa adalah rakitannya.

Dia tahu tempat sembunyi beragam tipe hewan, cara-cara mengalahkan mereka agar mendapat bahan langka, cara-cara mendapat bahan langka dari tanaman. Kami menjelajahi lapangan yang sama, tapi bersamanya aku merasa menjelajahi lapangan yang berbeda. Dia menyuruhku mengalahkan hewan-hewan yang sama, tapi tiap kali aku mendapat bahan yang berbeda. Ditusuk, ditebas, ditembak bagian kepala, perut. Tiap-tiap cara akan mengeluarkan bahan yang berbeda.

Aku bertemu banyak orang bersamanya. Dia punya banyak kenalan. Orang-orang silih berganti muncul dan menyapanya di lapangan ini. Dia mengenalkanku sebagai rekan barunya pada teman-temannya. Daftar kenalanku bertambah banyak selama aku menjelajah lapangan bersamanya. Padahal ini hanya satu tempat. Bagaimana di tempat-tempat lain?

Dia tidak hanya mengenalkanku sebagai temannya. Dia mengenalkanku sebagai orang yang telah mengalahkan si penembak jitu. Pistol yang kubawa adalah buktinya. Dan dia bangga padaku.

Aku tidak merasa mematikan nyawa temannya suatu hal yang membanggakan.

Aku makin mahir mengamati gerakan musuh dan gerakanku jadi lebih efektif. Aku berganti-ganti menggunakan pistol dan pisau. Dia makin jarang melemparkan instruksi ketika aku beraksi. Salah satu gerakan yang paling kusukai: menembak sambil salto. Kalau aku berhasil melakukannya, apalagi menumbangkan musuh dalam sekali tembak, dia berkata, “Tukang pamer.”

Suatu waktu dia menggambarkan si penembak jitu padaku. “Cara bertarung kalian sungguh berbeda. Dia tahan diam berjam-jam di satu tempat, menunggu mangsa. Kamu…” dia menggeleng sambil tersenyum, “menunggu tiga menit saja tidak kuat.”

“Mana yang lebih baik?”

Dia mengangkat bahu, “Entahlah mana yang lebih baik. Tujuannya sama: bersenang-senang. Kamu senang bergerak. Dia senang mengintai mangsa dari jauh.”

Setelah tiga minggu bersama-sama di lapangan itu, dia berkata, “Kurasa kita sudah cukup menjelajahi lapangan ini. Aku sudah cukup punya banyak bahan. Kamu sudah terlalu jago melawan semua binatang di sini. Sudah tidak seru, kan? Mau berhadapan dengan si burung manik-manik?”

Aku sepakat. Aku pun sudah jenuh berputar-putar di lapangan ini, memburu hewan yang sama, rumput yang itu-itu saja. Semua yang serba baru, kini sudah jadi biasa-biasa saja.

Dia mengulurkan tangan. Aku menjabat tangannya. Awan gelap langsung mengerubungi langit lapangan itu. Tak lama hujan turun.

❈❈❈

© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Semua selesai begitu cepat. Monster manik-manik tumbang dalam waktu setengah jam saja. Monster yang telah membunuh rekanku dan si penembak jitu.

Namun, sekarang ini jadi pertarungan kami berdua. Satu tanganku terluka. Cadangan ramuan penyembuhku berkurang sampai tinggal setengah dan aku harus terus-menerus meminumnya karena energiku berkurang dengan cepat.

Begitu aku mendarat di lapangan setelah menembak kepala burung manik-manik, dia berlari ke arahku dan menyuntikkan racun ke tubuhku. Setelah itu dia lari, bersembunyi. Aku tak bisa melihatnya.

Aku masih bisa bergerak. Hanya energiku yang terus berkurang. Aku memanggil-manggilnya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Apakah dia masih ada di sini? Atau dia sudah keluar dari lapangan ini? Aku mencari-cari jalan keluar dari lapangan ini. Jalan itu harusnya muncul setelah monster manik-manik tumbang. Aku harus mendapat anti-racun sebelum energiku habis. Aku merogoh sakuku, mengeluarkan korek yang kudapat dari rekanku. Korek itu sudah tidak berguna. Tak bisa menyala karena sudah terlalu lusuh. Kalau korek itu bisa menyala, aku bisa memanggil siapa pun yang terdaftar sebagai temanku.

Aku tidak punya siapa-siapa.

Aku tak pernah keluar dari lapangan. Energiku habis lebih dulu. Aku tergeletak di muka jalan setapak keluar dari lapangan. Tulisan besar-besar muncul di atas kepalaku:

> Continue?

❈❈❈

© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Tak ada pilihan lain. Hanya ada pilihan melanjutkan. Aku bersandar di kursi. Kepalaku pusing, jari-jariku kebas. Aku menyengir. Ini mendebarkan. Aku tak tahu siapa pemain yang telah mengkhianatiku. Apakah si penembak jitu juga dikhianati olehnya? Apakah si penembak jitu sebenarnya mati bukan karena tembakanku, tapi karena dijebak oleh dia?

Ini mendebarkan! Aku telah bertemu pemain hebat! Baru kali ini aku dikhianati pemain lain sampai seperti ini. Siapa dia? Apa aku dan dia masih satu negara? Jangan-jangan dia tinggal di kampung yang sama denganku? Atau dia ada di persewaan gim ini? Kenapa aku tidak menanyakan namanya? Umurnya? Hidupnya?

Karena semua itu tidak penting di sini.

Aku bangkit dari kursi dan menuju kasir. “Mang, tambah dua jam, dong.”

“Buset, udah sore, nih. Kalo emak lu manggil duitnya nggak gue balikin, ya.”

Ah, wanita itu tidak lebih menyeramkan dari si burung manik-manik. Aku ingin menemukan orang itu. Untuk apa? Balas dendam? Minta penjelasan? Berguru? Entahlah. Aku tak bisa menjelaskan obsesi ini.

Aku ingin bermain dengannya. Bersenang-senang. Ini mendebarkan! Lebih mendebarkan dari diomeli emak karena pulang kesorean.

Februari 2024


Itu

Okt 2023

Ibu belum jadi ibu. Ibu masih anak. Ibu sekolah. Ibu main. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja.

Penceramah

Sep 2023

“Siapa di sini yang belum makan sejak kemarin?”

Cerita Jani_