Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Tetangga

Jumlah kata: 3.208 kata

Linda mengintip dari jendela kamar. Sudah tiga hari terlihat ada orang di rumah depan yang kosong satu tahun terakhir. Orang-orang ini berbeda dengan orang-orang satu bulan lalu yang bolak-balik memakai kaos tipis, celana pendek, berlumuran cat seluruh badan. Orang yang terlihat tiga hari ini ada dua orang. Dua-duanya laki-laki. Yang satu muda—lebih muda dari Linda. Yang satu tua, rambutnya putih semua. Linda pernah melihat yang muda dua kali dalam satu bulan terakhir, bersama orang-orang berkaos lumuran cat. Baru kali yang muda dan yang tua menginap berturut-turut.

Esok harinya, hari Minggu, hari libur. Linda di rumah seharian. Ia tidak perlu mengintip dari jendela. Ada orang memanggil-manggil dirinya dari pagar. Linda keluar membukakan pagar. Si penghuni muda ada di pagar sambil membawa bingkisan kotak karton. Ia mengenalkan diri sebagai penghuni baru lingkungan ini, tepat di depan rumah Linda. Laki-laki muda itu bilang ia tinggal berdua dengan ayahnya. Walau minggu depan hanya ayahnya yang akan tinggal di rumah itu. Ia bekerja di luar kota dan pulang pada saat-saat tertentu saja.

Satu minggu berikutnya Linda berpapasan dengan penghuni yang lebih tua. Hampir setiap hari. Ketika ia berangkat kerja atau ketika ia pulang ke rumah. Linda selalu menyapanya dengan senyuman, yang dibalas senyuman juga, tanpa berkata apa-apa. Sepanjang minggu itu pula Linda tidak melihat si anak. Pada akhir minggu, Linda berdiri di depan pagar rumah itu. Kali ini ganti dirinya membawa wadah plastik berisi lontong sayur. Ia memanggil si empunya rumah.

Si bapak keluar dari dalam, membukakan pagar. Linda menyerahkan lontong sayur buatannya. Si bapak berterima kasih. Linda menerima ucapan terima kasihnya dan pamit kembali ke rumah. Si bapak mencegah Linda pulang. Ia menawarkan teh dan camilan pada Linda. Linda menerimanya. Si bapak mempersilakan Linda duduk di teras sementara ia ke dalam menyiapkan teh dan camilan.

Sudah lama Linda tidak melihat rumahnya sendiri dari seberang rumah persis. Terakhir kali ia datang ke rumah depan ketika ia masih sekolah menengah. Ada anak sebaya Linda tinggal di rumah ini bersama keluarganya. Mereka berteman sejak kecil, dari sebelum lahir. Seakan sudah ditakdirkan sebagai tetangga. Sayang, Linda tidak punya kontak mereka. Linda memperhatikan teras rumah itu. Ingatannya buram. Seperti apa teras di sini ketika masih dihuni teman kecilnya? Linda beralih melihat rumahnya sendiri.

Terlihat daun-daun kuning, kering dan tanaman-tanaman pot yang layu. Semua tanaman di teras itu adalah warisan orangtuanya yang senang memelihara tanaman hias. Ia tidak sempat merawat mereka karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Si bapak keluar rumah dengan membawa nampan. Isinya dua cangkir teh, satu piring berisi kue kering, dan wadah yang Linda bawa isinya sudah berganti dengan kue kering yang sama.

Mereka mengobrol lama. Lebih panjang dari basa-basi Linda bersama anaknya minggu lalu. Si bapak memutuskan pindah setelah istrinya meninggal. Si anak yang memberi buah tangan minggu lalu adalah anak satu-satunya. Dia berjanji akan sering pulang. Si bapak tertawa. Janji anak-anak, katanya. Bisa dipercaya? Jika si anak tidak pulang, si bapak sendirian di rumah.

Ganti Linda menceritakan dirinya. Linda menunjuk rumahnya dan berkata ia sudah tinggal di sana dari lahir. Rumah itu rumah orangtuanya, tapi sekarang mereka sudah tiada. Linda punya kakak. Kakaknya punya keluarga sendiri dan mereka tinggal di kota berbeda. Kalau sedang libur, Linda yang mengunjungi mereka. Yang muda ke yang tua. Kalau sedang rindu rumah masa kecilnya, kakaknya baru berkunjung ke sini. Sudah siang, Linda pamit pulang.

Satu minggu berikutnya Linda dan si bapak kembali berpapasan ketika Linda berangkat atau Linda pulang kantor. Namun, kali ini si bapak kadang-kadang menyapa Linda duluan. Berangkat, Lin? Baru pulang, Lin? Malam juga. Linda membalas sesopan mungkin. Iya, Pak. Sibuk, Pak.

Akhir minggu. Linda bertekad melaksanakan bersih-bersih yang tertunda berminggu-minggu. Hari Sabtu seluruh lantai rumah disapu dan dipel. Lemari berat digeser untuk menjangkau pojok-pojok yang tidak pernah kelihatan. Seprai, handuk, gorden, diganti. Linda ingin mencuci seprai, handuk, gorden yang lama, tapi sepertinya tidak sempat. Tubuhnya pegal menggeser perabot-perabot berat. Tak apa. Akhir minggu ada dua hari libur. Sabtu dan Minggu. Seprai, handuk, gorden, karpet bisa dicuci besok. Sore-sore rumahnya sudah disapu dan dipel. Rak-rak sudah dilap. Debu berkurang.

Hari Minggu Linda menggosok seprai, handuk, gorden. Baju-baju kotor masuk ke mesin cuci. Karpet biar dijemur saja di pagar. Jemurannya di belakang rumah penuh. Seprai, gorden, karpet yang lebar-lebar dijemur berderet di pagar depan. Tinggal tunggu kering. Linda tidak ongkang-ongkang kaki sambil menunggu. Ia mulai memilah-milah daun-daun kering. Linda bertanya-tanya kenapa ia tidak mencicil bersih-bersih tiap minggu? Kenapa semua dikerjakan sekaligus satu hari?

Hujan turun. Linda tidak siap. Tangannya masih belepotan tanah. Kalau ia angkat jemurannya, seprai, handuk, dan gorden akan jadi lebih kotor dari sebelumnya. Linda lekas cuci tangan. Tidak sempat masuk kamar mandi pakai sabun. Ia hanya pakai selang di pekarangan. Yang penting sudah tidak belepotan tanah.

Linda melihat seprainya merosot sendiri ke sisi luar pagar. Terlihat si bapak menggotong seprai Linda. Linda membukakan pagar untuk si bapak. Si bapak melangkah cepat, melempar seprai ke ruang depan. Linda mengambil handuk. Si bapak mengambil gorden. Linda meninggalkan si bapak dan mengambil jemuran baju di belakang. Jemurannya selamat. Linda berterima kasih kepada si bapak. Si bapak bilang, namanya juga tetangga. Linda menawarkan minum kepada si bapak. Si bapak mengangguk-angguk. Mereka minum hangat sambil menonton hujan dan halaman Linda yang masih belepotan tanah. Ketika hujan sudah berhenti si bapak pamit pulang ke rumah. Linda mengucapkan terima kasih lagi.

Minggu-minggu berikutnya, Linda melihat si bapak menyapu jalan depan rumahnya setiap pagi, setiap hari. Selamat pagi, Lin. Berangkat, Lin? Sapaan-sapaan yang biasa, tapi mereka bertukar kata lebih banyak lagi. Paling tidak sebulan sekali mereka bertukar makanan. Paling tidak sebulan sekali mereka sama-sama duduk di teras masing-masing. Linda bekerja, mengurusi tanaman hiasnya, atau membaca buku. Si bapak gerak badan sederhana, menyapu teras, membaca koran, atau mempelajari buku resep mendiang istrinya.

Tiga hari ini si bapak tidak menyapu jalan depan rumah, juga tidak kelihatan ketika Linda pulang kantor. Daun-daun kering berserakan di jalan. Pada akhir minggu Linda akhirnya melihat si bapak keluar dari rumah untuk menerima paket yang diantar kurir paket. Si bapak bahkan tidak sadar Linda ada di teras. Kalau sadar, si bapak pasti sudah menyapa Linda. Si bapak batuk-batuk tanpa henti waktu keluar, juga pakai masker.

Linda bergerak cepat. Ia membuat sup ayam lalu mengantarnya ke rumah depan. Walau memakai masker. Linda bisa melihat si bapak senang dengan kedatangannya. Linda bertanya apa si bapak sedang sakit? Belakangan tidak kelihatan menyapu jalan atau ketika Linda pulang kantor. Si bapak mengaku badannya memang terasa tidak enak. Meriang. Si bapak mengajak Linda masuk ke dalam, tapi Linda menolak karena kalau dia bertamu nanti si bapak jadi tidak istirahat.

Esoknya si bapak masih tidak menyapu jalan. Linda mengambil sapu lidi dan menyapu jalan. Saat Linda sedang menyapu, si bapak keluar dan duduk di teras, membawa nampan isi sepoci teh dan dua cangkir. Pocinya terlihat masih beruap. Si bapak masih pakai masker. Si bapak dan Linda saling tersenyum. Si bapak mengajak Linda minum teh. Istirahat dulu, Lin. Linda tidak menolak.

Esoknya hari Senin. Linda berangkat. Si bapak masih tidak terlihat. Esoknya hari Selasa. Linda berangkat. Ia melihat si anak sedang menyapu teras. Mereka saling tersenyum. Ketika pulang si anak tidak terlihat. Tiga hari berikutnya Linda melihat si anak setiap pagi. Mereka bertukar senyum setiap pagi.

Akhir minggu Linda mencuci pakaian yang belum ia cuci. Ketika menjemur ia melihat si bapak dan si anak berjalan ke arah rumah mereka. Keduanya memakai kaos, celana longgar. Si anak pakai sepatu tali. Si bapak pakai sandalnya yang biasa. Linda menyapa mereka. Si bapak terlihat berseri-seri, berkeringat. Baru jalan pagi, Pak? Iya, Lin. Cari keringat.

Siang harinya si anak memanggil Linda dari pagar. Sekali lagi ia membawa bingkisan makanan untuknya. Linda mengajaknya masuk, duduk-duduk di teras. Si anak menerima tawarannya. Kebetulan si bapak sedang tidur siang dan si anak tak punya kegiatan di rumah.

Linda menyajikan minum untuk mereka berdua. Si anak berterima kasih karena sudah disajikan minum dan karena Linda sudah menemani si bapak selama ia tidak di rumah. Rupanya si bapak sering menceritakan tentang Linda pada si anak. Linda merasa malu. Kami sekadar bertukar sapa setiap pagi dan sore, kata Linda. Si anak menatap pintu rumahnya sendiri. Tetap saja Kak Linda yang lebih sering melihat Ayah ketimbang saya.

Minggu lalu si bapak mengeluh pusing berat. Memang satu minggu ini si bapak jarang kelihatan, kata Linda. Si anak cemas lalu mengambil cuti dari pekerjaannya. Si anak bersyukur si bapak sudah lebih baik sekarang. Mereka bergurau kalau itu penyakit rindu orangtua pada anak. Orangtua Linda dulu juga begitu kalau lama tidak ditengok dirinya atau kakaknya.

Satu minggu berikutnya si bapak sudah kembali menyapu depan rumahnya setiap hari. Linda tak pernah melihat si anak sampai berbulan-bulan kemudian. Ketika si bapak jatuh tiba-tiba dan masuk rumah sakit.

Linda yang menemukan si bapak tergeletak tidak sadar di lantai. Hari itu hujan deras. Sepasang sepatu dijemur di pagar dan didiamkan kehujanan sampai kuyu. Dengan berteduh payung Linda mengambil sepatu kuyu dan memanggil-manggil si bapak di depan pagar. Si bapak tidak keluar-keluar. Linda melewati pagar dan hendak mengetuk pintu. Tapi, Linda melihat dari jendela si bapak sudah tergeletak di lantai. Linda langsung menghubungi Ketua RT dan tetangga lain melalui telepon pintarnya. Warga RT lingkungan itu berbondong-bondong datang ke rumah si bapak. Pintu rumah dijebol. Si bapak dibawa ke rumah sakit. Linda menghubungi si anak dan menunggu di rumah sakit bersama Ketua RT sampai si anak tiba rumah sakit esok harinya.

Di depan Linda dan Ketua RT, si anak menangis. Ia berusaha pulang sesering mungkin, tapi ternyata tidak cukup untuk menyehatkan ayahnya. Ketua RT menenangkannya. Beliau bilang, yah, namanya orang tua. Pasti ada saat kesehatannya akan menurun. Si anak berhenti menangis, tapi nampak masih belum terima. Ia menemui dokter ditemani Linda.

Dokter mengatakan kondisi ayahnya masih perlu diawasi di rumah sakit. Ketua RT menawarkan untuk pulang dan mengambilkan barang-barang yang mereka perlukan. Si anak mempersilakan Linda dan Ketua RT pulang saja ke rumah masing-masing. Biar ia bermalam seperti ini di rumah sakit. Linda dan Ketua RT mencegah keinginan si anak. Akhirnya diputuskan Linda dan Ketua RT pulang. Besok pagi Linda akan datang lagi membawakan barang-barang keperluan si anak dan si bapak. Si anak menyerahkan kunci rumahnya pada Linda. Walau sebenarnya pintu rumah mereka sudah dijebol warga.

Setiba di rumah Linda membersihkan diri dan langsung berbaring. Sudah lewat tengah malam. Ia cuma punya waktu beberapa jam memejamkan mata sebelum terang lagi.

Matanya tidak terpejam. Linda menelepon kakaknya. Linda tahu ini sudah tengah malam, tapi ia tiba-tiba teringat orangtuanya sendiri, dan satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara adalah kakaknya.

Kakaknya menjawab teleponnya. Linda minta maaf karena menelepon larut malam. Kakaknya tidak keberatan. Kalau Linda menelepon malam-malam, berarti ini hal yang penting atau genting, bukan?

Linda menceritakan tetangga baru rumah mereka yang datang beberapa bulan lalu. Si bapak pensiunan yang sudah tidak beristri dan tinggal sendiri. Si anak bekerja di kota berbeda dan pulang dalam rentang beberapa bulan. Mirip kita dan orangtua kita dulu, kata Linda.

Kamarnya gelap. Linda sendirian di dalam kamar. Usianya hampir kepala empat. Usia kakaknya menuju kepala lima. Linda tahu ini mustahil, tapi ia merasa tidak sedang menelepon dengan kakaknya. Linda merasa kakaknya sedang duduk di meja belajarnya, sementara Linda berbaring di kasur sambil bercerita. Kakaknya mendengarkan, menunggu kesempatan untuk menanggapi cerita Linda.

Apa yang Linda cemaskan?

Orangtua mereka dulu kesepian, dan Linda dan kakaknya tidak sadar. Orangtua mereka terlihat baik-baik saja setiap kali Linda dan kakaknya mengunjungi mereka. Linda dan kakaknya tidak bisa melihat wujud kesepian itu.

Apa orang yang selalu tersenyum dan bangun pagi dengan semangat tiap hari bisa kesepian? Orangtua Linda seperti itu. Mereka bangun pagi. Mereka tersenyum tiap hari. Tapi, ternyata mereka tidak suka menjalani hari-hari mereka di rumah ini.

❈❈❈

© 2024 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Linda mendapati si anak tidur di samping tempat tidur ayahnya. Mata si bapak terpejam. Selang melintang di sepanjang lengannya. Linda membangunkan si anak. Si anak terbangun dengan kaget walau Linda sudah pelan-pelan membangunkannya. Linda menanyakan kondisi si bapak dan apakah si anak sudah makan sejak semalam. Linda membawakan makanan untuknya. Ia hanya sempat membelikan camilan di depan rumah sakit. Si anak tetap berterima kasih. Ia melahap camilan yang dibawakan Linda.

Si anak bercerita ayahnya sudah sadar pagi-pagi buta tadi. Sekarang ia tidur. Linda lega mendengarnya. Waktu diperiksa tadi, dokter bilang si bapak dalam keadaan baik. Mungkin sekarang kelihatan lemas, tapi hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi si bapak baik. Kalau memang benar-benar baik, baru si bapak bisa pulang.

Linda ikut bersyukur mendengarnya. Si anak berterima kasih lagi kepada Linda. Sudah menemukan ayahnya, menghubunginya, sekarang bolak-balik ke rumah sakit mengecek kondisi keluarga mereka. Sekali lagi Linda berkata tidak keberatan. Mereka tinggal di lingkungan yang sama. Ini adalah hal yang wajar. Linda mempersilakan si anak membersihkan diri. Biar dirinya mengawasi si bapak. Si anak pun pergi ke kamar mandi. Setelah si anak selesai, Linda meninggalkannya ke kantor. Mereka sepakat Linda tak perlu datang ke rumah sakit sepulang kerja nanti. Kecuali jika ada hal mendadak.

Tidak terjadi hal mendadak. Linda pulang ke rumah malam itu. Ia mencuci baju, menyantap makan malam yang dibelinya dalam perjalanan pulang, menonton film di saluran pengaliran langganannya. Filmnya bercerita tentang gurita raksasa yang muncul tiba-tiba dan menyerang suatu kota metropolis.

Seluruh kota hancur. Gurita menguasai kota. Film selesai. Linda mengintip ke rumah depan. Lampu teras tidak dimatikan sejak dua hari yang lalu. Linda tidak ingat siapa yang menyalakan. Ketika kemarin pulang dari rumah sakit bersama Ketua RT lampu sudah menyala. Pintu yang dijebol dipalang dari dalam. Linda tidak mematikan lampu waktu mengambil barang-barang yang diminta si anak.

Linda kembali teringat teman kecilnya dulu di depan rumah. Keluarga itu pindah setelah Linda dan temannya lulus sekolah menengah. Setelah itu orang-orang yang menempati rumah itu tidak pernah tinggal lebih dari dua tahun. Malah rumah itu lebih sering kosong daripada dihuni lama.

Linda sungguh berharap si bapak kembali ke rumah itu dalam keadaan sehat seperti sebelumnya.

Hari-hari berikutnya Linda berangkat tanpa berpamitan pada siapa pun. Pulang pun tak ada yang menyapanya. Akhir minggunya ia habiskan sendiri di rumah. Mencuci baju, merapikan tanaman hias. Lampu teras rumah depan menyala terang, dari pagi-malam-pagi lagi.

Akhirnya si anak mengabarkan pada Linda ayahnya sudah boleh pulang besok. Linda menawarkan diri menemani mereka pulang dari rumah sakit. Si anak menolak tawaran itu. Terlalu merepotkan Kak Linda, katanya. Lagipula, besok adalah hari kerja. Linda akhirnya maklum. Ia berangkat ke kantor seperti biasa.

Sebelum pulang dari kantor Linda menghubungi si anak, bertanya apakah keduanya sudah kembali ke rumah. Si anak membalas dengan mengirim foto si bapak dan si anak sudah berada di teras rumah mereka. Linda tersenyum. Ia pulang dengan perasaan ringan sambil membeli sekotak martabak.

Linda masuk ke dalam rumah, membersihkan diri, mengganti baju, lalu keluar lagi. Ia berdiri di pagar rumah depan, memanggil-manggil si anak dengan menenteng sekotak martabak. Si anak sigap melongokkan kepala dari pintu samping. Ia membukakan pagar dan mempersilakan Linda masuk ke dalam rumah. Si bapak sedang duduk sambil menonton televisi. Ia tersenyum pada Linda. Sumringah. Linda menanyakan kondisinya, apakah sudah sehat. Si bapak mengangkat lengan, lalu menekuk sikunya ke atas. Tangannya menepuk-nepuk lengan atas yang tertekuk. Mereka tertawa.

Si bapak sekitar satu minggu di rumah sakit, tapi Linda seperti punya banyak cerita untuknya. Si anak, yang tidak berada di rumah selama beberapa bulan, punya lebih banyak lagi cerita untuk mereka. Martabak habis, cerita belum habis. Si anak membuatkan wedang untuk mereka bertiga. Resep ibunya, katanya. Wedang pun habis, tapi Linda tak mau tambah. Biar si bapak istirahat. Besok bisa dilanjut.

Kembali di rumah, Linda menelepon kakaknya. Ia memberi tahu kalau tetangga depan sudah pulang dalam keadaan baik. Usia kakak Linda menuju kepala lima. Usia Linda hampir kepala empat. Kakak Linda tahu ini mustahil, tapi ia bisa melihat Linda di kamarnya dulu, berbaring di tempat tidur sambil membolak-balik majalah atau entah melakukan apa. Linda tidak pernah mau berada di kamarnya sendirian padahal kamar mereka bersebelahan. Linda bisa mendengar suara keponakan dan kakak iparnya. Mereka menyudahi telepon sebelum makin larut.

Satu minggu berlalu. Semua kembali seperti keinginan Linda. Si bapak sudah menyapu tiap pagi. Linda bekerja dari Senin sampai Jumat, libur hari Sabtu dan Minggu. Sepuluh hari setelah si bapak keluar dari rumah sakit si anak berpamitan pada Linda. Mereka sepakat saling rutin memberi kabar. Si anak berterima kasih lagi pada Linda. Sudah berapa kali ia berterima kasih?

Bulan berikutnya kakak Linda berkunjung ke rumah, membawa serta keluarganya. Linda senang bukan kepalang. Ia mengajak si bapak datang ke rumah dan ikut bermain bersama keponakan-keponakannya. Kakak Linda menceritakan banyak hal tentang lingkungan rumah mereka. Keluarga Lida memang tak pernah pindah dari lingkungan itu. Kakaknya bergurau dengan berkata mereka sudah seperti penunggu di sana.

Linda dan si bapak kembali saling berbagi makanan, saling berkunjung, saling angkat jemuran kalau salah satu lupa ada jemuran waktu hujan. Si anak pulang lebih sering. Linda hampir sudah mencicipi semua resep mendiang istri si bapak. Pintu rumah sudah diperbaiki dan tidak perlu dipalang lagi. Kunci rumah si bapak yang dipegang Linda sudah dikembalikan pada mereka.

Linda senang bertetangga dengan si bapak dan si anak. Ia merasa tenang meninggalkan rumahnya ketika berangkat kerja. Si bapak dan si anak juga mempercayakan rumah mereka pada Linda. Biasanya ketika mereka mengunjungi makam mendiang istri si bapak sekaligus ibu si anak.

Tidak pernah ada yang melampaui masa tinggal teman kecil Linda di rumah depan itu. Linda pikir si bapak akan melampauinya, tapi siapa yang tahu usia manusia. Tahun kelima bertetangga dengan Linda, si bapak berpulang.

Si anak sedih, tapi ini bukan hal yang mengagetkan untuknya. Satu minggu terakhir ini si bapak bilang merasa lemas. Linda menghubungi si anak, dan si anak langsung pulang. Mereka hendak membawa si bapak ke rumah sakit, tapi si bapak menolak. Pada hari meninggalnya si bapak, Linda tidak berangkat ke kantor. Ia menemani si anak menerima pelayat di rumah. Si bapak dimakamkan pada hari yang sama dengan hari meninggalnya. Warga lingkungan rumah mereka turut hadir, bersama kerabat keluarga si anak.

Dua minggu setelah si bapak dimakamkan kerabat keluarga si anak masih datang ke rumah mereka. Kerabat-kerabat ini tinggal di kota-kota berbeda dan tak bisa serta-merta langsung datang untuk melayat. Kadang-kadang mereka menginap di rumah depan, menemani si anak yang masih berduka.

Makin lama kerabat yang datang makin jarang. Tinggal si anak sendiri di rumah itu. Tanpa ibunya, tanpa si bapak. Suatu malam, si anak duduk sendirian di teras. Linda baru pulang dari kantor dan melihatnya. Ia menyapa si anak. Si anak balas melambaikan tangan.

Linda mandi kemudian mengintip keluar dari jendela. Si anak masih duduk sendirian. Linda menyiapkan camilan dan minuman. Linda keluar lalu memanggil si anak, menawarkan camilan. Si anak bangkit dari teras rumahnya dan menyeberang ke rumah Linda. Mereka duduk di teras. Linda menuangkan minum untuk mereka berdua. Bagaimana kabarmu, tanya Linda.

Si anak tersenyum tanpa menjawab. Linda mengangguk-angguk. Ia paham perasaan itu. Perasaan ditinggal dan tertinggal, entah kapan menyusul.

Si anak berdeham. Ia berkata sambil menunjuk rumah depan. Itu rumah terakhir Bapak. Bapak senang tinggal di sini. Bapak senang mendapat tetangga seperti Kak Linda.

Linda mengibaskan tangan. Semua yang dilakukannya adalah hal wajar. Bukan hal luar biasa. Lalu, apa setelah ini kamu akan pindah? tanya Linda. Sudah tidak perlu bolak-balik lagi, kan?

Si anak menggeleng. Sebenarnya ia sedang berpikir untuk pindah pekerjaan dan tinggal di sini saja.

Kenapa? tanya Linda.

Agar Bapak tetap bertetangga dengan Kak Linda, jawabnya. Mana yang lebih susah dicari? Pekerjaan atau tetangga yang baik?

Linda tersenyum. Mungkin suatu saat nanti Linda akan berkeluarga. Si anak berkeluarga. Linda punya anak. Si anak punya anak. Anak-anak mereka berteman sampai dewasa. Seperti takdir dari sebelum lahir.

April 2024


Jangan Tembak

Feb 2024

Dia berdiri di ujung lapangan. Aku berdiri di sisi berlawanan. Hujan. Tanah becek dan licin. Aku tak berani menyeberang. Dia berlari menerjang hujan. “Jangan!” aku berteriak. Petir menyambar. Pekak. Dia terpeleset. Aku mengejar. Terlambat. Dia tersungkur. Dia ditembak.

Itu

Okt 2023

Ibu belum jadi ibu. Ibu masih anak. Ibu sekolah. Ibu main. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja. Ibu kerja.

Cerita Jani_