Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Ketika Semua Rumah Kosong

Jumlah kata: 1.292 kata

Setiap malam bunyi denting terdentang pukul satu, nyaring ke seluruh kompleks. Kadang-kadang mengagetkan kucing yang masih berkeliaran. Setelahnya akan terdengar denting yang sama setiap beberapa menit. Denting yang menjauhkan rumah-rumah di kompleks ini dari maling.

Satpam—yang tiap tahun berganti, namun selalu dipanggil sebagai Pak Satpam—tidak pernah absen satu hari pun membunyikan denting itu. Denting pertama dimulai dari peraduan antara pentungan Satpam dan portal di Jalan Bunga Indah 1. Satpam kemudian akan menyusuri jalan itu sambil memukul setiap tiang listrik yang ditemuinya sampai tiba di pertigaan dengan Jalan Bunga Kuncup 3.

Setelah itu ia akan mengulanginya di Jalan Bunga Indah 2. Tidak ada tiang listrik yang luput dari pentungannya. Ia lewati satu per satu jejeran Jalan Bunga Indah yang berakhir di angka 8. Di akhir Jalan Bunga Indah 8 itu ada warung kopi yang buka dua puluh empat jam. Biasanya Satpam akan mampir di situ sebentar. Jika sedang ada pertandingan bola liga Eropa, mampirnya akan lebih lama.

Semua itu dilakukan Satpam semata-mata untuk melindungi kompleks ini dari maling. Namun ada saja yang menyebarkan cerita kalau semua itu adalah ritual pemanggil makhluk gaib. Ritual pemanggil makhluk gaib! Makhluk gaib seperti apa yang bisa dipanggil dengan bunyi pukulan pentungan ke tiang listrik? Biasanya itu cerita anak-anak remaja untuk menakut-nakuti anak yang lebih kecil. Anak-anak remaja ini pun masa kecilnya ditakut-takuti remaja sebelumnya yang sekarang sudah jadi dewasa. Entah remaja di masa kapan yang pertama kali punya ide cerita seperti itu.

Tentu Satpam tidak gentar dengan cerita itu. Ia punya kontrak dengan warga kompleks ini yang harus dipenuhinya. Pekerjaan yang sepertinya remeh namun punya tanggung jawab berat. Ia harus mengorbankan sedikit jam tidurnya dan juga melatih otot kakinya agar tidak kalah cepat jika ada maling.

Satpam yang sekarang baru bertugas selama satu bulan. Satpam sebelumnya adalah seorang bapak-bapak yang juga penghuni kompleks ini. Sayang Bapak itu meninggal secara tiba-tiba. Rumah Bapak itu ada di Jalan Bunga Indah 7. Biasanya di sana ditinggali oleh si Bapak, Ibu, dan satu orang anaknya. Si Ibu saat ini juga masih sakit dan si anak menunggui ibunya di rumah sakit. Si anak hanya pulang tiap beberapa hari sekali.

Satpam kita yakin ia dibebankan tugas mulia: melindungi rumah-rumah kosong seperti rumah Bapak Satpam yang sebelumnya.

Malam ini Satpam bertugas seperti biasa. Ia keluar dari kamar kontrakannya sebelum pukul satu. Tidak, ia tidak memakai kemeja putih dan celana biru tua. Ia hanya memakai kaus dan bercelana pendek. Sedikit dingin, tapi menurutnya sarung tidak banyak membantu jadi ia tidak membawa sarung. Senter kecil di tangan, pentungan dikempit di ketiak. Di kompleks ini sudah banyak terpasang lampu jalan. Namun kadang-kadang ada sudut-sudut yang tetap terlihat gelap.

Maling-maling sekarang itu rasanya makin aneh. Pernah ada yang mengambil pot tanaman hias kecil yang dipajang di pagar. Tanaman hias! Tidak ada yang curiga jika ada orang asing berjalan menenteng pot kecil. Padahal kalau daunnya direbus entah rasanya seperti apa. Memang lain ceritanya karena katanya harga pot kecil itu sampai jutaan. Maling yang aneh tapi menurut Satpam maling itu sangat pintar.

Jalan di depan kontrakan Satpam masih terang. Dari cerita yang ia dengar, dulu beberapa kali motor penghuni kontrakan berhasil dicuri malam-malam sehingga dipasanglah lampu-lampu untuk menjauhkan maling dari tempat ini.

Jalan sedikit ke Jalan Bunga Indah 1 ia akan menemukan ruas jalan yang gelap. Hanya sedikit rumah yang menyalakan lampu. Di sini memang banyak rumah kosong. Sama seperti si Bapak Satpam terdahulu. Banyak pemiliknya yang sedang sakit dan terpaksa tinggal di rumah sakit. Ada juga yang sedang sakit tapi tidak bisa keluar rumah karena takut menularkan penyakitnya. Setahunya hanya tiga rumah yang penghuninya masih sehat di jalan ini. Satpam menyalakan senter. Sebenarnya ia masih bisa melihat walau agak gelap. Tapi lebih baik menyalakan senter itu sekarang. Satu bulan meronda, hal paling aneh bagi Satpam adalah pencurian pot tanaman hias itu. Itu pun terjadi di siang hari ketika ia sedang tidak bertugas sebagai satpam jadi ia tidak bisa disalahkan.

Tiba-tiba ada suara ambulans. Satpam langsung lari ke jalan utama yang diportal. Ia sudah semakin siaga mendengar suara ambulans di malam hari dan tidak kaget lagi. Sambil membukakan portal, Satpam bertanya, “Alamatnya di mana?”

“Jalan Bunga Indah 4 nomor D5,” jawab petugas di dalam ambulans. Pakaiannya tebal dari atas sampai bawah. Biar udara malam ini dingin, Satpam yakin petugas itu kepanasan.

Satpam mengangguk. “Pak Sadi. Saya antar ke rumahnya.” Satpam berlari di depan mobil ambulans. Toh jalan perumahan itu juga tidak terlalu lebar. Mobil ambulans tidak akan bisa menyusulnya.

Benar saja rumah Pak Sadi terbuka lebar. Dari jauh Satpam memperhatikan Pak Sadi digotong ke dalam ambulans dalam keadaan berbaring. Setelah Pak Sadi masuk di dalam ambulans, mobil itu langsung pergi lagi.

“Pak Satpam,” Vita, anak Pak Sadi, memanggil Satpam. “Habis ini saya mau nyusul Bapak ke rumah sakit. Saya sudah lapor RT. Titip rumah, ya.”

“Siap, Mbak. Semoga Bapak cepat sembuh,” jawab Satpam. Yang bisa ia lakukan memang hanya menjaga rumah-rumah itu. Satpam meninggalkan rumah Pak Sadi dan kembali ke jalan utama untuk menutup portal.

Tambah lagi satu rumah kosong, batin Satpam sambil berkeliling kembali. Pertama kali ia mendengar ambulans di tengah malam baru satu bulan lalu. Ambulans itu mengangkut satpam terdahulu. Satu hari setelah dibawa ke rumah sakit, bapak itu meninggal. Di hari itu juga ia diminta menjadi Satpam yang baru.

Akhirnya ia selesai berkeliling satu putaran dan mampir ke warung kopi. Satpam melihat penjaga warung masih melek. Televisi menyala hanya supaya ada suara. Penjaga warung mengusap-usap telepon pintarnya. Satpam duduk di bangku panjang yang kosong. “Kopi hitam satu, Bang,” ujar Satpam.

“Siap,” jawab penjaga warung. Tangannya lincah mengambil kopi saset dan menggunting bungkusnya. “Tadi ada ambulans, Pam?” tanya penjaga warung.

“Iya, ke rumah Pak Sadi. Mbak Vita juga mau nyusul katanya. Rumahnya kosong sekarang.”

Penjaga warung mengangguk-angguk sambil menyerahkan kopi. Satpam menyeruput kopinya. Pahit tanpa gula. Penjaga warung memang sudah tahu seleranya.

“Hati-hati, Pam. Makin banyak rumah kosong. Rawan.”

Satpam menghela napas. Bagaimana kalau seluruh penghuni kompleks ini pindah ke rumah sakit? Lalu hanya tinggal dirinya sendiri yang masih sehat? Ia pasti akan kewalahan menjaga semua rumah dari ujung ke ujung.

Ketika pertama kali ada ambulans menjemput orang sakit, orang-orang ramai menontonnya. Ibu RT dan petugas ambulans sampai kewalahan membubarkannya. Sekarang setiap kali ada ambulans tidak ada yang berani mendatangi rumah yang dijemput. Paling seperti tadi hanya satpam yang datang karena kebetulan memang sedang ronda malam.

Apa ia pindah kerja saja jadi satpam rumah sakit? Tapi di rumah sakit sedang ramai. Bagaimana kalau ia justru jadi ketularan sakit di sana? Dan lagi pasti rumah sakit sudah memiliki satpam yang lebih terlatih dibandingkan dirinya. Huh. Gara-gara kompleks ini terlalu sepi ia jadi mikir yang berlebihan.

Udara dingin membuat kopinya cepat dingin. Satpam menghabiskannya dan berkata, “Sudah. Aku jalan lagi, ya.”

“Siap. Hati-hati, Pam.”

Ronda malamnya berakhir dengan ia menyusuri jalan yang sama dari arah berlawanan. Dimulai dari warung kopi itu Satpam menyusuri satu per satu Jalan Bunga Indah dari 8 ke 1 dan kembali ke kontrakannya. Tetap dengan memukul pentungan ke tiang listrik yang dilewatinya.

Walaupun selalu ada satpam, tapi tetap saja tiap tahun ada yang kemalingan. Mungkin maling juga sudah belajar pola penjagaan masing-masing satpam. Tapi menurut Satpam, semakin terdesak, maling bisa semakin pintar. Contohnya, ya, maling tanaman hias itu.

Kembali ke kamar kontrakannya satpam melanjutkan tidurnya. Masih ada kira-kira setengah jam sebelum terang. Harusnya tidak ada maling yang berani mencuri di jam-jam ini.

❈❈❈

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Dua minggu kemudian rupanya imajinasi Satpam jadi kenyataan. Seluruh rumah di kompleks itu ditinggalkan penghuninya. Ada yang pindah ke rumah sakit, ada yang pindah ke pemakaman. Satpam kini harus menjaga puluhan rumah kosong sendirian. Untung pemilik warung kopi masih buka sehingga masih ada yang menemaninya ronda malam.

Bisakah ia menghalau maling hanya mengandalkan denting dari pentungannya dan tiang listrik? Kita tunggu dua minggu lagi. Apakah Satpam masih bertahan saat itu.

Juli 2021


Bagaimana Cara Berduka yang Baik dan Benar?

Jun 2021

Kosong.

Siapa Lebih Tinggi?

Mei 2021

Seorang manusia mendongak dan bertanya ke langit, “Wahai langit, apa yang lebih tinggi darimu?”

Cerita Jani_