Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Hari yang Tidak Terlupakan

Jumlah kata: 1.479 kata

Wanita itu selalu pergi ke luar rumah tepat pukul tujuh pagi. Setiap kali itu juga ia baru sadar kalau engsel pagar rumahnya harus dilas, namun ia tidak pernah memperbaikinya.

Begitu keluar dari pagar rumahnya ia akan berbelok ke kanan dan berjalan selama lima menit, kemudian ia akan membeli jajanan pasar dari tetangganya. “Selamat pagi, Bu Anika!” tetangganya itu akan menyapa. Wanita itu akan mengabaikan sapaan tetangganya dan memilih-milih jajanan pasar yang tersedia. Ia bisa memilih sampai sepuluh menit lamanya walau akhirnya selalu jatuh pada pilihan yang sama: tiga biji pastel isi sayuran dan dua bungkus arem-arem.

Ia kemudian akan meneruskan jalan paginya. Tempat yang ditujunya selalu sama. Sebuah taman terbuka dengan beragam alat olahraga yang boleh digunakan siapa saja. Tidak jauh dari sana ada sebuah waduk dengan jalur setapak mengelilingi waduk itu. Selalu ada saja orang-orang yang berolahraga di taman atau lari atau berjalan kaki mengelilingi waduk.

Bu Anika selalu kebingungan jika ingin menggunakan alat-alat olahraga di sana. Biasanya ia akan mengamati orang yang menggunakan alat yang sama baru setelah itu meniru mereka. Tapi tidak jarang ada orang yang menyapanya lebih dulu. “Halo, Bu Anika. Sini saya ajarkan cara pakainya. Kita main bareng, ya.” Bu Anika tidak kenal mereka, tapi ia senang ada yang mengajarinya.

Jika matahari sudah terlalu panas, Bu Anika akan kembali ke rumah. Sering kali ia menempuh jalan yang berbeda dibandingkan ketika berangkat. Sering pula ia tersesat dan tidak mengenali jalan yang dilaluinya. Tapi selalu ada orang yang menolongnya, bahkan kadang mengantarnya sampai ke rumah. “Loh, Bu Anika? Sedang dalam perjalanan pulang? Ibu ikuti jalan ini lalu belok kiri di pertigaan itu. Rumah Ibu pagarnya warna cokelat, nomor sembilan.” Rasanya semua orang tahu di mana ia tinggal.

Di rumahnya bertebaran kertas-kertas catatan kecil berbagai warna yang ditempel di mana-mana. Di dinding, di pintu, di meja, di kursi, di depan televisi. Bu Anika tidak ingat ia pernah menulis catatan-catatan ini, tapi catatan ini sering menolongnya. Begitu ia membuka pintu ada catatan yang bertulis ‘kunci lagi pintu depan’ dan di bawahnya, dengan kertas yang berbeda warna ‘cuci tangan di kamar mandi’. Bu Anika akan mengunci pintu kemudian langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Di atas wastafel ada tulisan ‘ganti baju. Baju bersih ada di kamar’. Bu Anika pun menuruti perintah catatan itu dan pergi ke kamar tidur. Begitu pun di kamar tidur. ‘Taruh baju kotor di mesin cuci’, ‘ada cemilan di kulkas’.

Di dapur catatan-catatan ini memiliki huruf yang lebih besar dengan warna yang lebih terang. ‘Cuci piring setelah makan’ atau ‘jangan lupa matikan kompor’. Khusus catatan yang terakhir ini rasanya Bu Anika melihatnya di setiap ruangan di rumahnya. Dan memang, Bu Anika beberapa kali lupa kalau kompornya sedang menyala dan catatan itu yang sering menyelamatkannya. Karena itulah Bu Anika tidak pernah membereskan catatan-catatan itu walau sebenarnya agak mengganggu.

Biasanya sehabis makan siang Bu Anika akan menonton televisi. Sering kali juga ia ketiduran di depan televisi yang menyala. Acara-acara di televisi itu tidak pernah menarik dan membuatnya mengantuk. Bu Anika sebenarnya senang mengikuti sinetron, namun ceritanya terlalu rumit dan ia tidak pernah ingat jalan cerita episode sebelumnya. Pun begitu Bu Anika tetap menontonnya.

❈❈❈

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Pak Niko selalu pulang ke rumah tepat waktu. Tidak pernah ia mampir ke tempat lain sebelum kembali ke rumah. Teman-temannya sudah maklum jika Pak Niko menolak ajakan mereka makan di luar setelah jam kerja.

Biasanya ia tiba di rumah dalam keadaan rumah gelap, namun Bu Anika, istrinya, tidak pernah ingat untuk menyalakan lampu teras. Jangankan lampu teras, seluruh lampu di rumahnya biasanya belum dinyalakan. Bu Anika memang tidak pernah ingat untuk menyalakan lampu-lampu di rumah mereka.

“Sayang, kamu di mana?” Pak Niko selalu memanggil Bu Anika setelah masuk ke dalam rumah.

Dan Bu Anika tidak pernah menjawab panggilan itu. Pak Niko akan menemukan sendiri Bu Anika yang ketiduran di depan televisi. Pak Niko akan mematikan televisi, menyalakan lampu-lampu di rumah mereka, mandi, kemudian mengerjakan pekerjaan rumah yang belum dikerjakan Bu Anika. Biasanya ketika Bu Anika bangun, Pak Niko sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

Pak Niko akan mengajak Bu Anika untuk duduk dan makan malam bersamanya. Mereka makan malam bersama dan Bu Anika akan memberi tahu Pak Niko kalau engsel pagar rumah itu perlu dilas. Setelah makan Pak Niko menyuruh Bu Anika untuk mandi. Jika Bu Anika sudah membersihkan diri, Pak Niko akan menemani Bu Anika ke kamar.

Jika Bu Anika tidak bisa tidur, Pak Niko akan membuka album foto dan menceritakan gambar di foto itu.

“Kamu ingat ini? Foto ini ketika kita pertama kali menonton film di bioskop. Dulu bioskop masih jarang, pilihan filmnya juga sedikit. Sekarang cucu kita bisa nonton film di bioskop setiap minggu dengan film yang berbeda-beda.” Foto itu menunjukkan sepasang wajah muda-mudi di depan sebuah gedung bioskop.

Walau di foto itu ada tanggal dan lokasi diambilnya di balik foto, Bu Anika tidak ingat kejadian itu. Tapi ia senang mendengar suara Pak Niko. Ia mengangguk-angguk supaya Pak Niko menceritakan tentang foto yang lain.

“Kalau yang ini hari yang tidak terlupakan untukku. Siapa yang bisa lupa hari lahir anak mereka?” Pak Niko mengeluarkan foto Bu Anika yang lebih muda berbaring di brankar rumah sakit setelah melahirkan Nina, putri mereka. Seorang bayi merah mendekap di dadanya. “Nina akan datang akhir minggu ini.”

Begitulah kira-kira keseharian Bu Anika dan Pak Niko. Jika Bu Anika sudah lelap, Pak Niko kembali ke ruang tengah kemudian mengirimkan pesan kepada para tetangganya di grup pesan instan.

“Terima kasih sudah menjaga Bu Anika hari ini.” Tulis Pak Niko. “Terima kasih, Bu Yanti, sudah menyisihkan pastel dan arem-arem sebelum laris oleh pembeli lain. Terima kasih, Zaki, sudah mengantar Bu Anika pulang ke rumah.”

Pak Niko mengucapkan terima kasih satu per satu kepada para tetangganya. Bu Anika tidak pernah ingat siapa saja yang bertemu dengannya sepanjang hari itu. Pak Niko selalu bersyukur setiap ia pulang kantor melihat Bu Anika tertidur di depan televisi karena itu artinya Bu Anika masih ingat kalau rumah ini adalah rumahnya.

❈❈❈

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Setiap akhir minggu Nina pulang ke rumah orangtuanya. Hari itu Bu Anika sedang pergi jalan-jalan pagi sendirian sementara Pak Niko di rumah menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga.

“Bagaimana keadaan Mama, Pa?”

“Bagus, bagus. Dia masih ingat ini adalah rumahnya,” Pak Niko tertawa.

Nina tersenyum. Bagaimana bisa ayahnya masih bisa tertawa padahal istrinya tidak ingat sama sekali dengan keluarganya? Ia melihat foto-foto yang tersebar di meja. Menuliskan tanggal dan lokasi belum cukup. Sekarang Pak Niko juga menambahkan cerita di balik foto-foto itu. Nina membaca foto yang ceritanya belum selesai ditulis oleh Pak Niko.

“Ini foto ketika kita sedang jalan-jalan bersama teman-teman kuliah yang lain. Kita belum kenal saat itu. Aku cuma berani melirik kamu sesekali. Besoknya ketika kita bertemu di kampus justru kamu yang mengajak berkenalan.”

Nina mengambil foto lain. Kali ini hanya dia sendiri di foto itu. Nina tidak ingat pernah melihat foto ini. “Ini ketika Nina baru bisa naik sepeda dan malah jatuh di turunan sampai kakinya harus digips. Aku diam-diam mengambil foto Nina untuk kenang-kenangan. Kamu memarahiku waktu itu, tapi setelahnya kamu justru paling senang dengan foto ini dan masih tertawa kalau melihat foto ini. Rahasiakan foto ini dari Nina, ya!” Nina berdecak membacanya.

Terdengar derit engsel pagar rumah mereka. Nina berlari membukakan pintu. Bu Anika sedang berusaha menutup pagar rumah dengan rapat. Ketika melihat Nina ia menoleh.

“Ah, Nina! Kamu sudah datang, sayang?” ujarnya. Bu Anika mengulurkan plastik bening berisi jajanan pasar. “Mama beli jajanan pasar tadi. Sengaja beli pastel agak banyak karena Mama tahu kamu mau datang. Kamu suka sekali pastel Bu Yanti, kan?” Bu Anika melihat Pak Niko di pintu rumah mereka. “Jangan lupa nanti panggil tukang las, sayang. Aku sebal sekali mendengar derit pagar ini.”

Nina menerima plastik bening berisi jajanan pasar dengan mata menggenang. Pak Niko menepuk-nepuk bahu Nina sambil berbisik. “Jangan berharap tinggi-tinggi. Nanti siang Mama kemungkinan lupa lagi.” Ia kemudian menyambut Bu Anika yang masuk ke dalam rumah. “Nanti akan kupanggil tukang las. Tadi kamu bertemu siapa saja saat jalan-jalan, sayang?”

Nina ikut masuk bersama kedua orangtuanya. Bu Anika melihat foto-foto yang ada di meja. “Kamu diam-diam mengeluarkan foto ini ketika aku pergi, ya?” ia bertanya pada Pak Niko.

Pak Niko tersenyum. “Iya. Sengaja kukeluarkan karena Nina datang.”

Mama mengambil foto Nina yang kakinya dibalut gips. “Nina, kamu ingat tidak dulu pernah jatuh di turunan yang curam itu? Kamu pasti tidak tahu Papa punya foto ini, kan? Berapa usiamu saat itu? Enam? Tujuh?”

“Enam. Nina baru masuk sekolah.” Pak Niko yang menjawab. Senyumnya makin lebar.

Nina mengeluarkan telepon pintarnya dan mengambil foto keduanya dari jauh. Ia menuliskan catatan di telepon pintarnya:

Hari ini untuk pertama kalinya Mama memanggil namaku lagi setelah dua tahun tidak ingat sama sekali dengan kami. Mama bahkan ingat dengan pastel kesukaanku.

Nina akan mencetak foto itu nanti dan memberikannya pada Papa. Supaya hari ini tidak dilupakan oleh Mama, Papa, atau dirinya sendiri.

Juli 2021


Hubungi Kami di: ***********@****.*****

Jul 2021

Kamu ingin bertemu dengan seseorang yang sudah tidak ada di dunia ini? Kami bisa membantu kamu bertemu dengan orang itu.

Ketika Semua Rumah Kosong

Jul 2021

Bagaimana kalau seluruh penghuni kompleks ini pindah ke rumah sakit? Lalu hanya tinggal dirinya sendiri yang masih sehat? Ia pasti akan kewalahan menjaga semua rumah dari ujung ke ujung.

Cerita Jani_