Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Surat Wasiat Tiga Penyihir

Jumlah kata: 878 kata

Beberapa bulan lalu, saya menulis karangan berjudul Surat Wasiat Seorang Penyair. Karena alasan tertentu, saya belum bisa mengunggahnya di blog ini. Tulisan ini adalah tulisan bebas dengan memelesetkan judul karangan itu.

Tapi saya ingin tahu, apakah jika dialog begini lebih baik jika ditulis menggunakan format naskah saja, ya? 🤔

Ya, saya akui tulisan ini memang membingungkan. Semoga kamu sanggup bertahan membaca cerita ini sampai akhir!


“Aduh, aduh, punggungku…”

“Dasar jompo! Ayo, cepat! Sebentar lagi juga sampai.”

“Kenapa dia mengajak bertemu di rumahnya, sih? Kenapa pula dia memilih bangun rumah di tengah hutan.”

“Kau sendiri? Rumahmu ada di dekat gunung berapi. Masih kuat jalan tidak? Perlu kugendong?”

“Tidak usah. Kalau sudah tidak kuat aku bisa terbang dengan sapu terbangku. Memangnya ada apa sampai dia memanggil kita ke rumahnya?”

“Aku juga tidak tahu. Dia cuma bilang ada masalah genting.”

“Tidak bisa dibicarakan lewat cermin sihir?”

“Kau tahulah orang itu. Dia sangat hati-hati supaya tidak ketahuan orang lain. Ah, aku bisa lihat rumahnya. Sudah dekat, kok.”

“Kau jalan duluan sana. Suruh dia sediakan minuman dingin dan camilan sebelum aku sampai.”

“Ha-ha-ha. Ya sudah, aku tinggal, ya.”

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

“Lho, kau kok datang sendirian? Aku kan memanggil dua orang.”

“Tuh, dia di bawah sana. Lihat tidak? Jalan terseok-seok karena punggungnya sakit. Dia menyuruhku jalan duluan untuk memberitahumu sudah harus tersedia minuman dan makanan ketika dia sampai.”

“Dasar orang itu. Ya sudah, masuk dulu saja.”

“Jadi, kenapa kau memanggil kami? Ada masalah apa?”

“Aku merasa waktuku sudah dekat.”

“Hah? Waktu apa?”

“Ya, waktunya. Kau tidak paham? Hanya seadanya, tapi silakan minuman dan camilannya.”

“Maksudmu, kau merasa sebentar lagi kau akan mati? Eh, kue ini enak. Kau dapat dari mana?”

“Aku beli dari pasar di bawah. Kau bisa mampir dan membelinya saat pulang nanti. Penjualnya biasa mangkal di?”

“Air… air… aku butuh air!”

“Selamat datang. Tuh, sudah ada di meja. Kau, sih, masih ngotot jalan kaki.”

“Aku kurang lihai pakai sapu terbang tahu! Ah, segarnya. Tambah lagi, dong.”

“Ambil sendiri kan bisa. Itu pocinya juga sudah ada di meja. Jadi, tadi sampai mana? Ah, ya, penjual kue ini.”

“Kau yakin tidak apa-apa? Perlu bantal untuk mengganjal punggungmu?”

“Tidak, aku tidak apa-apa. Istirahat sebentar juga sakitnya hilang. Lanjutkan. Kenapa kau memanggil kami ke rumahmu?”

“Ah, ya. Seperti yang kubilang tadi. Aku merasa waktuku sudah dekat dan aku berniat menulis surat wasiat.”

“Menulis surat wasiat? Apa yang mau kauwariskan? Rumahmu ini? Memangnya ada yang mau tinggal di dalam hutan seperti ini? Aku, sih, ogah naik-turun bukit seperti tadi. Aduh, sakit! Kenapa kau menyikutku?”

“Kau saja yang jarang bergerak. Jadi kepayahan sampai seperti itu. Lagipula wasiat itu untuk siapa? Kau kan tidak punya keluarga. Tidak ada anak, keponakan, kakak atau adik? Hah? Jangan-jangan kau punya anak yang tidak kami tahu, ya?”

“Tentu saja aku tidak punya anak. Aduh, kalian ini. Entahlah, aku cuma tiba-tiba kepikiran. Bagaimana jika aku mati dan tidak ada yang ingat dengan diriku. Aku hanya ingin ada satu orang saja yang mengingatku. Kau tidak mau makan kue? Keburu habis oleh dia, loh.”

“Wah, kau benar. Kue ini enak. Tapi kau ada benarnya. Aku juga kadang-kadang suka berpikir seperti itu. Percuma kalau yang ingat denganku adalah kau atau dia. Aku ingin diingat oleh generasi yang lebih muda.”

“Bagaimana kalau kita bertiga membuat surat wasiat untuk satu orang? Dia pasti bingung ada tiga orang tua tiba-tiba mewariskan harta mereka padanya. Ha-ha-ha.”

“Kau ini memang suka mengerjai orang lain, ya.”

“Apa ruginya? Toh orang itu pasti senang tiba-tiba dapat surat wasiat dari tiga orang penyihir. Kau mau mewariskan apa?”

“Sebenarnya belum kepikiran, sih. Ini baru sekadar ide di kepalaku.”

“Ya, sudah. Coba kita pikirkan bersama-sama. Bagaimana denganmu? Ada yang ingin kauwariskan tidak?”

“Ada kertas tidak? Sekalian saja kita tulis surat wasiat ini bersama-sama.”

“Sebentar kuambil. Mau sekalian tambah kue? Aku bisa menelepon penjual kue itu dan minta mengantarnya kemari.”

“Wah, aku mau, dong. Sekalian untuk kubawa pulang nanti.”

“Hmm. Benda paling berharga buatku kurasa jam tangan ini. Banyak kenangan di dalamnya.”

“Tapi itu kan kenangan bagimu, buat orang yang menerimanya, ya, belum tentu.”

“Ini kertasnya. Aku juga sudah memesankan kue lagi untuk kalian.”

“Apa yang ingin kauwariskan?”

“Apa, ya? Aku tidak punya barang berharga, sih.”

“Katanya kau ingin dikenang oleh orang lain. Bagaimana orang lain mengenangmu, dong.”

“Bagaimana kalau memindahkan ingatan kita ke kertas ini? Orang yang menyentuh kertas ini nantinya bisa melihat kenangan kita selama kita hidup.”

“Oh, aku suka ide itu. Terdengar romantis. Orang lain bisa mengenang hidup kita dengan menyentuh kertas ini.”

“Tunggu! Tunggu! Kalian yakin? Memangnya ada yang tertarik dengan hidup kita?”

“Pasti ada, kok. Ayo kita coba.”

“Setuju! Setuju! Coba saja dulu.”

“Duh. Kalau ada kecelakaan aku tidak tanggung, lho.”

“Sudah selesai?”

“Sepertinya sudah, sih. Bagaimana cara mengujinya?”

“Permisi! Aku datang mengantar kue!”

“Tuh, kelinci percobaan kita sudah datang.”

“Loh, pintunya tidak dikunci? Eh, kok, tidak ada orang? Kertas kosong apa ini? Permisi! Ada orang? Kutinggalkan pesan saja, deh. Aku masih harus mengantar pesanan lain. Apa ini? Muncul gambar dari kertas? Hah? Hah? Tidaaak!”

“Loh, kok, dia malah lari, sih.”

“Siapa yang tidak ketakutan tiba-tiba pikirannya dimasuki ingatan orang lain. Kau, sih.”

“Kurasa membuat surat wasiat memang ide buruk. Aduh, aku belum membayar kue itu pula.”

“Tidak. Menurutku itu bukan ide buruk. Kita hanya salah pilih orang untuk menerima warisan kita.”

Agustus 2021


Tentang Sembrani, Unikorn, dan Rimia

Jul 2021

Setahu saya dalam literatur mana pun sembrani, unikorn, dan babi tidak pernah dipertemukan.

Hari yang Tidak Terlupakan

Jul 2021

Wanita itu selalu pergi ke luar rumah tepat pukul tujuh pagi. Setiap kali itu juga ia baru sadar kalau engsel pagar rumahnya harus dilas, namun ia tidak pernah memperbaikinya.

Cerita Jani_