Jumlah kata: 1.573 kata
Keluargaku berbakti pada semut. Kami percaya dengan mengikuti mereka, maka hidup kami juga terjamin.
Semut selalu bisa menemukan makanan di tempat yang paling sulit, dalam cuaca yang paling ekstrem. Ketika aku merasa lapar, cukup dengan mengikuti semut yang paling dekat aku bisa menemukan makanan. Semakin banyak semut yang kulihat, semakin banyak makanan yang kutemukan. Ayah mengajarkan itu padaku dan kakakku sejak kami masih kecil. Setelah ia tiada aku dan kakakku terus mengamalkan ajaran itu. Kami sudah sering kelaparan, tapi selalu bisa menemukan makanan berkat semut.
Apa yang disajikan oleh ibu kami tidak pernah terasa cukup. Ibu tidak tahu teknik mencari makan yang diajarkan oleh ayah pada kami. Kadang-kadang, kakakku sering berkata padaku kalau ibu menghabisi ayah agar makanan yang ada cukup. Kami tidak pernah membahasnya dengan adik kami karena menurut kami dia masih terlalu kecil dan tidak akan paham. Kalau kekurangan makan dia menangis, bukannya berpikir bagaimana dan di mana bisa mendapat makanan.
Jika kakakku dan aku sedang mengikuti semut, ibu kami akan langsung marah. “Dasar dua anak ini! Bukannya mencari kerja malah keluyuran saja!” Kurang lebih seperti itu yang dikatakannya. Padahal kalau kami dapat makan, kami juga membaginya pada Ibu dan Adik.
Namun, Ibu tidak pernah seperti itu di depan adik kami. Adik kami sering digendongnya, diajaknya ke pasar untuk memilih-milih bahan makanan kesukaannya, walau jarang ia beli. Kadang ada penjual yang kasihan pada Ibu yang sedang menggendong Adik dan memberi barang dagangannya secara cuma-cuma. Dan kalau Ibu mendapat makanan cuma-cuma itu, Aku dan Kakak tidak akan dibagi. “Kalian, kan, sudah bisa cari makan sendiri!” Makanan itu dimakan berdua saja oleh Ibu dan Adik. Sungguh, aku iri dengan adikku.
Kakak bilang aku harus mengalah pada Adik. Ayah tidak pernah melihat Adik karena dia mati ketika Adik masih menyatu di badan Ibu. Ayah tidak sempat mengajarkan teknik-teknik mencari makan itu pada Adik. “Kalau Adik sudah lebih besar, kau juga harus mengajarkan mencari semut pada Adik,” Kakak pernah berkata seperti itu.
Hari ini aku mencari semut di tempat terpisah dengan Kakak. Menurut Kakak, kami bisa mendapat peluang menemukan makanan lebih banyak. “Aku percaya kau sudah bisa mencari semut sendirian,” ujar Kakak sebelum berangkat. Hasil hari ini memang banyak. Aku menemukan rumah yang sedang membereskan makanan sisa hajatan. Tanganku penuh dengan kotak-kotak kue yang penyok, mulutku enggan berhenti mengunyah. Kue yang kubawa cukup untuk kami berempat. Aku berpapasan dengan Kakak ketika pulang. Bawaannya tidak sebanyakku. Dia bilang dia mengikuti semut sampai ke tempat pembuangan sampah. Sulit memilah-milah makanan di tempat itu.
Ibu sudah menunggu di depan rumah kami sambil menggendong Adik. Tanpa menyuruh kami masuk lebih dulu, ia berkata, “Aku ingin kalian membawa adik kalian ikut mencari semut besok.”
“Ibu, dia masih terlalu kecil untuk ikut dengan kami,” ujar Kakak.
“Tidak. Dia sudah bisa jalan sendiri, dia pasti bisa ikut dengan kalian. Aku tidak mau tahu. Kalian harus mengajari dia mencari makan sampai dia bisa mencari makan sendiri.” Ibu melirik kotak-kotak yang kugendong. “Berikan dua kotak untukku. Kau tidak lihat adikmu lapar?”
Aku bergeming. Apa Ibu tahu punggungku pegal membungkuk-bungkuk mengikuti semut-semut itu? Dua kali aku dapat bentakan dari orang lain. Aku takut kehilangan jejak semut sampai menabrak orang karena tidak melihatnya ada di dekatku. Belum lagi sembunyi-sembunyi dari tamu di rumah yang mengadakan hajatan itu. Aku tidak ingin mereka jadi merasa risih karenaku.
Kakak memegangi tanganku sebelum aku melempar kotak yang diminta Ibu. Kakak lebih dulu mengambil dua buah kotak dan memberikannya pada Ibu. Setelah itu, kami tidak jadi masuk ke dalam rumah. Kakak tahu rumah kami terlalu sempit untuk kami berempat dan aku saat ini sedang marah pada Ibu. Kakak memegangi bahuku dan menggerakkannya sampai tubuhku putar balik. Kami berjalan menjauh dari rumah. “Aku tahu kau marah, tapi kau tidak boleh marah pada Ibu di depan Adik.”
Aku tidak menanyakan alasannya. Kue di mulutku tidak lagi berasa manis dan justru terasa asam. Mungkin kue-kue itu sebenarnya sudah tidak layak makan.
Malamnya aku dan Kakak tidur di tepi sebuah tanah lapang. Tidak hanya kami berdua, ada juga orang-orang lain. Kakak tidak ada ketika aku bangun. Lalu aku melihatnya datang sambil menggandeng Adik. Aku langsung cemberut. Mengikuti semut sendirian saja sudah cukup sulit, sekarang ditambah lagi bersama Adik yang berjalan saja masih terbata-bata. Langkah Kakak lebih pelan dari yang seharusnya karena mengikuti langkah Adik. Aku mulai mencari-cari semut di sekitar tempatku berbaring.
“Adik, kau lihat kakakmu itu? Dia sedang mencari semut. Nanti kita akan mengikuti semut-semut itu. Semut akan membawa kita ke tempat yang banyak makanan.” Kakak membuka tangannya di depan Adik.
“Atau membawa kita tersesat ke sarang mereka,” timpalku.
Kakak mengabaikanku. Ia menggiring adik untuk ikut mencari semut. “Lihat, Adik, ada dua semut sedang bertukar pesan,” ujar Kakak lagi ketika menemukan semut yang sedang bertabrakan, “Salah satu semut itu akan membawa kita ke tempat yang ada makanan. Tunggu, Adik! Jangan makan semutnya!”
Aku menoleh. Adik memuntahkan semut yang baru dimasukkannya ke dalam mulut. “Lihat, dia tidak berguna.”
“Aku tahu dia masih terlalu kecil, tapi mau bagaimana lagi,” Kakak mengelap lidah Adik.
Aku mengamati kakak dan adikku. Sudah sering aku merasa marah pada Ibu, tapi Kakak masih tetap bersabar. Aku bangkit berdiri. “Aku mau mencari semut sendirian.”
Kakak mendongak padaku. “Ya, hati-hati. Aku mungkin sudah di rumah sebelum sore.”
Aku mengangguk dan meninggalkan keduanya. Kepalaku tetap menunduk-nunduk menentukan semut mana yang akan kuikuti hari ini. Ada banyak semut di seluruh dunia. Ayah mengajari kami geliat tubuh semut yang sedang menuju makanan sehingga kami tidak keliru dengan semut yang sedang menuju sarang mereka. Memang tidak selalu berhasil. Kalau ternyata kami justru sampai di sarang mereka, toh hanya kulit kami gatal-gatal. Gatal tidak seberapa dibanding lapar. Aku tidak pernah dengar cerita orang meninggal karena gatal-gatal, tapi orang mati karena lapar? Aku sudah pernah melihatnya sendiri.
Hari ini lagi-lagi hari keberuntunganku. Aku menemukan tempat makan yang hendak membuang sisa-sisa makanan mereka. Bukan hanya kue, aku mendapat lauk-pauk lengkap dengan sayur dan buah. Kekesalanku tadi pagi menghilang dan aku pulang dengan gembira.
Di rumah, Kakak dan Adik belum kembali. Hanya ada Ibu. Matanya membelalak melihatku masuk ke dalam rumah dengan membawa banyak kantung plastik berisi makanan.
“Itu ayam pop?”
“Lengkap dengan sausnya.” Aku menjatuhkan plastik berisi saus warna oranye terang.
Ibu langsung mengambil ayam beserta saus. Aku berusaha merebutnya kembali dari Ibu. “Itu punyaku!”
“Pelit sekali. Yang lain masih banyak! Ini untuk adikmu! Dia sangat suka ayam!”
Rasanya aku ingin membuang makanan yang sudah susah-susah kukumpulkan. Namun, ketika itu aku mendengar suara Adik dan Kakak masuk ke dalam rumah.
“Adik! Lihat! Kakakmu membawa ayam untukmu!” ujar Ibu. Adik menghampirinya dan Ibu langsung menggendongnya, membawa serta ayam pop.
Kakak bergantian menatapku dan makanan di satu-satunya meja di rumah kami. Saking banyaknya makanan yang kutemukan, plastik-plastik dan kertas-kertas itu harus kutumpuk agar muat di meja kecil kami. Kakak membuka plastik berisi sop sayur dan menuangkannya ke dalam mangkuk. Ia mengambil dua buah sendok dan menggiringku duduk bersamanya. Aku hanya menyendok kuah sop, tapi rasanya sendok itu begitu berat. Mungkin karena kuahnya sudah dingin.
❈❈❈
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Para semut menyadari dua manusia yang suka mengikuti mereka. Semut-semut tidak keberatan dua manusia itu mengikuti mereka. Makanan yang mereka dapat masih cukup untuk koloni mereka. Namun, lama-lama mereka mulai risih dengan dua orang ini. Belum lagi sekarang mereka mengajak satu manusia lagi. Tubuh manusia itu paling kecil di antara tiga manusia, tapi dia yang paling menyusahkan. Jika dua orang yang lain berjalan berhati-hati agar tidak menginjak semut, manusia yang paling kecil itu berjalan tanpa melihat-lihat dan sering makan semut.
Semut bekerja untuk mencari makan dan menambah keturunan. Hanya itu kewajiban mereka di dunia ini. Tiga manusia itu kini menghalangi semut menunaikan kewajiban itu. Mereka mengganggu semut yang sedang mencari makan dan mengurangi keturunan mereka.
❈❈❈
© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Sekarang sesekali Adik ikut bersama kami mengikuti semut. Kakak masih berusaha menjelaskan pada Ibu kalau Adik masih terlalu kecil untuk ikut dengan kami. Tapi, Ibu tetap tidak mau dengar. Aku tidak lagi meninggalkan Kakak hanya sendirian mengawasi Adik. Lebih susah mengawasi langkah kaki Adik dibandingkan mengikuti semut.
Perhatian kami yang terpecah antara mengawasi Adik dan mencari semut membuatku dan Kakak tidak mengecek lagi makanan yang kami temukan. Belakangan ini kami sering membawa pulang makanan yang rasanya sudah tidak karuan. Lebih sering teras asam atau pahit dibandingkan gurih dan manis. Kemarin Adik juga sempat muntah-muntah. Ibu menyalahkan kami tidak becus mencari makan.
Hari ini Aku dan Kakak membawa pulang makanan yang rasanya sangat asam. Ibu lagi-lagi marah pada kami. “Kalian berdua ini memang tidak sayang dengan adik kalian! Dia sedang sakit malah kalian bawakan makanan busuk!”
Aku berdiri tiba-tiba. Perutku juga mulas sejak kemarin. Aku yakin Kakak sebenarnya juga merasa ada yang aneh dengan badannya, tapi ia tidak membalas kata-kata Ibu. Kami tetap pergi keluar karena perut kami bisa tambah sakit kalau tidak diisi. “Ya! Makanan busuk ini supaya Ibu dan Adik mati! Jadi aku bisa makan lebih banyak!” teriakku.
Kakak terkejut mendengarnya, tapi dia tidak menahanku. Alih-alih ia menggendong Adik ke luar rumah. Aku sempat mendengarnya berkata pada Adik, “Kita jalan-jalan cari makan, yuk.”
Namun, baru sebentar, Kakak masuk kembali dan berteriak padaku dan Ibu. “KELUAR! RUMAH KITA DIKEPUNG SEMUT!”
Aku kira Kakak melantur karena terlalu lapar atau sakit perut, tapi apa yang dikatakannya adalah kenyataan. Empat dinding rumah kami dirayapi semut. Tetangga-tetangga kami berkerumun dan hendak membantu, tapi mereka bingung. Tidak tahu caranya mengusir semut sebanyak itu.
Rumah kami yang kecil itu ludes dihabisi semut. Semut telah mengkhianatiku. Rasanya lebih menyakitkan dari tudingan-tudingan Ibu.
April 2022
Mar 2022
Kabel itu terhubung ke rumah kosong tepat di depan rumah kami. Warnanya abu-abu terang, lebih tipis dibandingkan kabel listrik yang berwarna hitam. Kata ibu itu kabel telepon lama.
Feb 2022
Selalu ada satu raksasa di satu ujung jalan.
Cerita Jani_