Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Perjanjian dengan Penguasa Taman

Jumlah kata: 2.261 kata

Kami tidak pernah membuat janji, tapi kami selalu datang ke taman yang sama pada waktu yang sama. Ada taman-taman lain dekat rumah kami, tapi hanya taman ini yang ada ayunan. Tak tentu siapa yang datang duluan antara kami, yang pasti dia selalu ada waktu aku ada di taman.

Aku baru tahu namanya setelah satu bulan datang ke taman. Dia tahu namaku sebelum aku tahu namanya. Dia mendatangiku yang duduk di ayunan dan menyapa duluan. “Kau Tini, ya? Besok kau mulai sekolah di sekolahku, kan?”

Waktu itu aku merasa itu pertanyaan aneh. Nama dia saja aku tak tahu, bagaimana aku tahu di mana dia bersekolah? Setelahnya aku tahu ibunya guru di sekolahku—sekolah kami—jadi dia tahu ada anak baru di sekolah. Akulah si anak baru itu. Ibunya menyuruh dia menyapaku di taman karena alasan sepele: nama kami mirip. Nama dia Rini. Namaku Tini.

Rumah kami berada dalam kompleks yang sama. Tidak sebelahan. Di sekolah kami tidak satu kelas. Tapi, Rini selalu menjemputku untuk berangkat bersama. Waktu pulang sekolah pun dia menungguku padahal jadwal kelas kami berbeda. Rini tahu rumahku tanpa kuberi tahu. Sampai sekarang, ketika kami sudah tidak bersekolah, aku tidak tahu kami berangkat dan pulang bersama karena Rini disuruh ibunya atau memang dia mau menemaniku. Yang pasti ibuku tidak menyuruhku berangkat atau pulang sekolah bersama Rini.

Hal pertama yang kuingat ketika pulang ke rumah pertama kali setelah delapan tahun adalah taman itu dan Rini. Ayunannya masih ada, tapi catnya sudah kelupas, besinya yang berkarat terpampang begitu saja tanpa warna. Semen lapangan voli—atau bulu tangkis atau futsal—tepinya mencuat di beberapa titik. Kalah oleh akar-akar pohon asem yang ditanam di penjuru taman. Dulu pohon-pohon asem hanya setinggi tubuhku. Tubuhku dulu setinggi dada tubuhku saat ini. Sekarang banyak pohon asem di sini lebih tinggi dari kepalaku. Mungkin ada yang sudah setinggi rumahku. Pantas saja akarnya sanggup menjebol semen lapangan. Sudah dua hari aku di rumah. Tiap kali aku melewati taman, tidak ada anak-anak atau orang dewasa satu pun.

Sejak pulang, aku belum pernah melihat Rini. Ibu tidak ingat kapan terakhir kali melihat Rini, tapi sepengetahuannya Rini masih tinggal di kompleks ini.

Sore ini aku memutuskan pergi ke taman. Lewat pagar rasanya memasuki dunia yang berbeda. Kemarin-kemarin aku hanya lewat tanpa masuk ke dalam taman. Matahari terik di jalanan depan taman, tapi taman ini terasa teduh, berkat pohon-pohon tinggi nan lebat. Dari dulu taman ini memang teduh, tapi sekarang rasanya daun-daun tambah lebat dan lebar, batang tambah besar. Tapi sayang sekali tidak ada orang berteduh di taman sesejuk ini.

Tak heran. Jalur setapak licin karena lumut. Aroma besi menguar dari panjatan, jungkat-jungkit, ayunan, dan perosotan. Ujung seluncuran perosotan yang berbahan plastik sudah patah sebagian dan patahannya terlihat tajam. Anak tangganya ada yang lepas. Anak kecil akan kesulitan melangkahi anak tangga yang lepas. Ada juga pohon-pohon besar yang tak kuingat dulu pernah ada. Mungkin dulu pohon-pohon itu setinggi pergelangan kakiku jadi aku tak pernah sadar pohon-pohon itu tumbuh di sini. Ketika sudah besar dan tambah tinggi, baru terlihat olehku. Dan makin banyak nyamuk. Baru beberapa menit di sini aku sudah merasakan gigitan mereka. Aku mengingat-ingat agar memakai pakaian yang menutupi kulitku atau menyemprotkan penangkis serangga.

Aku duduk di ayunan. Aku sebenarnya ingin pergi ke rumah Rini, tapi aku tak tahu apa yang hendak kusampaikan padanya. Toh, mungkin juga dia tidak di rumah.

Untuk pertama kalinya, aku tahu Rini tidak akan datang ke taman padahal aku ada di taman.

“Aku akan mengusai dunia!”

Janjiku dengan Rini berawal dari kalimat itu. Itu bukan impianku. Kalimat itu sering terdengar dari televisi, dari sebuah acara yang isinya monster dan sekelompok orang yang mengaku pembela kebenaran. Monster selalu berganti tiap episode, tapi kalimat yang dilontarkan para monster itu mirip-mirip, ‘aku akan menguasai dunia’, atau ‘dunia akan bertekuk lutut padaku’.

Bagi kami yang masih suka disuapi orangtua kami, menguasai dunia adalah sesuatu yang bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Jika Rini mengucapkan kalimat itu, sebagai teman baik, aku menyahut, “Aku mau ikut!” Biasanya dia mengucapkan itu sambil berdiri di atas jungkat-jungkit. Lalu dia melompat turun. Aku ikut turun dan mengejarnya ke ayunan, perosotan, berakhir di panjatan. Titik paling tinggi di taman ini.

Di puncak panjatan itu, kami melihat langit luas. Kami lebih tinggi dari orangtua kami. Kami tak peduli sebentar lagi gelap, kami akan disuruh pulang, mandi, dan makan malam. Mungkin disuapi.

Di puncak panjatan itu, kami telah menguasai dunia. Cepat dan mudah.

Aku turun dari ayunan, naik perosotan sambil berharap dalam hati ujung seluncuran tidak makin patah. Aku mencoba berdiri di atas jungkat-jungkit yang miring. Bertahan lima detik. Terakhir memanjat panjatan sampai ke puncak.

Aku tiba di puncak dalam tiga langkah. Dulu aku meniti tiang demi tiang. Sekarang aku melangkahi tiang-tiang itu. Usia dan tinggi badan tidak bisa berbohong.

Dari puncak panjatan, ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit kelihatan makin menyedihkan. Dunia yang pernah kukuasai bersama Rini terkelupas. Lapisannya camping.

Aku enggan pulang dan tetap duduk di panjatan. Ibu sudah tidak bisa menjemputku di sini atau menyuruhku pulang. Langit sudah gelap dan tak satu pun lampu-lampu di taman menyala. Cahaya yang masuk ke taman hanyalah bersitan dari rumah-rumah di sekitar taman. Kalau ada kendaraan yang kebetulan lewat, seluruh taman tersorot terang, tapi hanya beberapa detik.

Engsel ayunan berdecit dalam gelap. Aku mengamati ayunan baik-baik. Terlihat siluet hitam duduk di ayunan.

Tidak mungkin.

Aku melompat turun dari panjatan. Ayunan masih berdecit, tapi tidak kelihatan apa pun di ayunan.

“Aduh!”

Siluet apa yang mengaduh? Tambah lagi, suara itu familier. “Rini?!” aku memekik kaget.

“Tini?!” Rini juga memekik. Sama kagetnya denganku.

Kami tidak pernah membuat janji, tapi kami selalu datang ke taman yang sama pada waktu yang sama. Tawa kami mengalun di taman.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Rini.

Aku tak tahu yang dia maksud ‘di sini’ adalah taman ini atau kompleks rumah kami atau kota ini. “Sedang pulang. Kau sendiri kenapa main ayunan malam-malam?”

“Aku baru pulang kerja dan tiba-tiba terpikir sudah lama tidak mampir ke taman. Di sini terlalu gelap. Kau mau keluar?” Aku tak bisa melihatnya berjalan, tapi aku mendengar suara langkahnya bergesekan dengan daun kering.

Kami baru bisa melihat satu sama lain setelah tiba di bawah lampu jalan terdekat dengan taman. Rini memakai blus, sebuah tas jinjing menggantung di bahu. Dia membuang sekumpulan daun kering ke tempat sampah. Aku tak melihatnya memunguti daun-daun di taman. “Wah, kau tak berubah,” ujarnya ketika menghadapku.

“Kau juga. Kebetulan sekali, aku tadi terpikir mau ke rumahmu, tapi takut kau tidak ada di rumah. Kau sering ke taman?”

Rini menggeleng. “Hari ini agak sibuk di kantor. Waktu pulang tiba-tiba aku ingin main ayunan. Ternyata ada kau di sana.” Dia terkekeh. Aku ikut terkekeh.

Rini bilang dirinya tak bisa berlama-lama. Dia memang hanya berniat mampir ke taman sebentar. Untuk pertama kalinya kami membuat janji bertemu lagi di taman akhir minggu ini.

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Hari Minggu aku datang lebih dulu. Padahal ini hari libur, tetap saja tidak ada orang sama sekali di taman. Aku langsung menuju ayunan dan duduk di sana. Kakiku menjejak tanah, lalu kuangkat. Ayunan berayun pelan. Engsel di atas kepalaku berdecit, tapi nampaknya masih kuat. Aku mengayun makin tinggi.

“Hei! Itu ayunanku!”

Rini berseru di belakangku sambil bertolak pinggang, lalu dia tertawa.

Aku ingat Rini adalah penguasa ayunan. Mainan pertama yang ditujunya tiap kali datang ke taman adalah ayunan. Kalau sedang ada orang duduk di ayunan, Rini siaga menunggu di tepi. Sering dia berebut ayunan dengan anak lain.

Aku berhenti berayun dan ikut tertawa. Rini tak memaksaku turun dari ayunan. Dia naik panjatan sampai ke puncak.

“Kenapa taman ini jadi sepi sekali?” tanyaku.

Aku sebenarnya punya dugaan sendiri, tapi tak kuungkapkan di depan Rini.

Rini menguasai taman ini dimulai dari ayunan. Aku turut membantunya jadi penguasa di taman ini. Mulanya hanya untuk memastikan Rini selalu kebagian ayunan setiap dia datang ke taman. Kami membuat kesepakatan: siapa pun yang datang lebih dulu di taman akan duduk di ayunan sampai yang lain datang. Kalau sedang ada orang duduk di ayunan waktu kami datang, tunggu orang itu sampai pergi. Aku selalu menunggu sampai orang lain turun dari ayunan. Biasanya mereka canggung sendiri karena ditunggui, lalu pergi.

Rini suka tidak sabar, lalu merebut ayunan dari orang lain. Lama-kelamaan, kesepakatan itu berubah. Tak hanya antara aku dan Rini, tapi juga anak-anak lain. Tak ada yang boleh naik ayunan selain dirinya.

Pernah ada anak yang main ayunan. Rini datang lebih dulu daripadaku. Ketika aku datang Rini berdiri sambil menunjuk-nunjuk ayunan. Anak itu terperosok di bawah ayunan. Aku tak bisa bilang Rini mendorong anak itu karena aku tak melihat apa yang terjadi, tapi kata anak-anak yang ada di taman waktu itu, Rini mendorong anak itu dari ayunan sampai jatuh.

Kalau kuingat-ingat, aku takut kejadian itu terulang. Aku takut ada anak lain yang terluka. Aku takut Rini melukai anak lain. Sejak itu aku selalu berusaha datang lebih cepat agar aku lebih dulu duduk di ayunan dibandingkan anak-anak lain. Kalau Rini datang aku langsung turun. Rini menggantikanku duduk di ayunan.

Supaya tak ada anak lain yang jatuh. Supaya tak ada yang luka.

Setahuku anak itu tak pernah lagi datang ke taman ini. Aku pernah melihatnya di taman lain. Anak-anak lain pun mulai enggan datang ke taman kalau ada Rini. Kejadian itu menyebar di antara orangtua. Ada juga orangtua yang melarang anak mereka ke taman ini.

Kupikir setelah kami dewasa dan jarang bermain di taman, tempat ini akan ramai kembali. Tapi tetap seperti ini. Entahlah. Aku tak merasa Rini penyebab satu-satunya taman ini jadi sepi.

Rini tak menjawab pertanyaanku. Alih-alih, dia bertanya, “Ibumu sehat?”

“Yah, begitulah. Sudah umur,” aku menjawab ala kadarnya. Kepulanganku setelah bertahun-tahun memang karena kesehatan Ibu menurun. Aku sungkan menceritakan sebenarnya pada Rini karena dulu Ibu juga melarangku dekat-dekat Rini sejak ribut-ribut itu. Nasihat itu tak kuturuti. Toh, pada akhirnya hubunganku dengan Rini merenggang juga. Kami melanjutkan sekolah di tempat berbeda dan baru bertemu lagi sekarang. “Bagaimana ayah dan ibumu?” aku bertanya balik.

“Sudah meninggal. Aku tinggal sendiri di sini sekarang. Rasanya terlalu merepotkan pindah rumah, jadi aku tetap di sini,” jawab Rini. “Atau mungkin aku terlalu suka dengan taman ini.”

Aku tak pernah berhubungan dengan Rini dan tak tahu orangtuanya sudah meninggal. Kenapa Ibu tidak cerita? Namun, mengingat kondisinya aku menduga Ibu tidak ingat untuk mengabariku.

“Berapa lama rencananya kau di sini? Pekerjaanmu tidak terganggu?”

Aku memang sedang menimbang-nimbang apakah akan kembali ke kantorku atau mencari pekerjaan di kota ini. Aku pulang untuk melihat kondisi Ibu, apakah beliau bisa kutinggal. Beliau kutinggal sendirian sejak awal aku bekerja. Sesekali ada saudara atau teman Ibu yang menengok, tapi satu bulan terakhir beberapa saudara menghubungiku karena mengkhawatirkan kondisi Ibu. “Aku belum tahu.”

Rini melempar dedaunan kering padaku. Padahal sudah susah-susah dia mengumpulkan daun-daun itu, sekarang malah berserakan lagi. “Kuharap kau lama di sini. Senang punya teman lagi yang bisa kubawa ke taman.”

❈❈❈

© 2023 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Ibu meninggal dua hari setelah pertemuanku dengan Rini. Aku tak mengerti bagaimana. Hari sebelumnya Ibu masih berdiri mencuci piring. Hari sebelumnya Ibu bilang aku tak perlu mengkhawatirkannya dan bisa kembali bekerja. Hari sebelumnya aku berniat mengajak Ibu ke taman.

Saudara dan teman-teman datang ke rumah. Mereka berduka. Aku mati rasa. Yang kupikirkan di antara isak tangis mereka adalah taman itu dan Rini. Aku sudah mengirim pesan pada Rini, tapi dia tak membalas.

Setelah Ibu dikuburkan beberapa saudara menawarkan diri menginap di rumah untuk menemaniku. Aku menolak.

Ketika semu orang sudah pulang aku duduk di teras. Aku tak sanggup masuk ke dalam rumah.

Aku tak sanggup berduka.

Aku melihat Rini berjalan dari jauh. Langkahnya menuju rumahku. Aku tak beranjak. Pagar rumahku tidak terkunci. Dia memakai kaus panjang lengan hitam. Kuduga dia sudah pulang dan berganti baju sebelum kemari. Rini tiba di depanku. Dia langsung memelukku.

Aku menangis dalam pelukannya. Tidak di depan saudaraku, tidak di depan orang-orang lain. Aku berduka di depan Rini.

Dia tak melepaskan pelukannya sampai aku benar-benar berhenti menangis. Ketika sudah berhenti, aku berkata pada Rini, “Aku mau ke taman.”

Rini mengangguk. “Kutemani.” Rini menutup pintu rumah lalu menggamit lenganku. Dia tak melepaskan tangannya sepanjang perjalanan kami menuju taman.

Tentu tak ada orang di taman. Seakan bisa melihat dalam gelap, Rini terus berjalan ke dalam. Tanpa menjelaskan, aku tahu kami menuju ayunan. Aku membiarkan Rini mendudukkanku di ayunan. Engsel berdecit pelan. Rini menggoyangkan rantai ayunan. Berayun di ayunan itu membuatku tenang. “Terima kasih, Rin.”

Aku tak mendengar Rini bersuara. Mungkin dia mengangguk. Entahlah. Dia menghentikan ayunan dan berjongkok di depanku. Tangannya menggenggam tanganku. “Waktu kita kecil, aku sering berpikir aku ingin dikubur di taman ini kalau aku sudah mati,” ujarnya.

“Kenapa?”

Tangan Rini bergerak di tanganku. “Entahlah. Aku tak ingat apa yang kupikirkan waktu itu. Aku tak suka anak-anak lain main di ayunan. Aku membayangkan mereka sedang menginjak-injak kuburanku.”

“Kau ingin dikubur di sini? Di bawah ayunan ini?”

“Ya.”

“Kau melarang anak-anak lain main di ayunan, tapi kau tak pernah merebut ayunan kalau aku sedang main.”

Rini tak bersuara. Mungkin dia tersenyum. Mungkin dia menangis dalam diam. Entahlah.

“Kau masih ingin dikubur di sini, Rin?” tanyaku.

Rini terkekeh. “Kalau ada orang dikubur di sini bisa-bisa taman ini makin sepi.”

Aku menatap ke sekeliling taman. Tidak ada orang satu pun. Begitu pun di luar taman. Tidak ada kendaraan yang lewat, tidak ada orang duduk di teras rumah mereka. Hanya ada kami berdua. “Tak mungkin bisa lebih sepi dari ini, Rin.”

Rini terkekeh. “Aku senang bertemu lagi denganmu.”

Aku ikut terkekeh. “Bagaimana kalau kita buat perjanjian? Siapa pun yang mati duluan antara kita harus mengubur yang lain di sini.” Aku membelai pipi Rini.

Taman itu masih gelap. Cahaya paling dekat adalah lampu-lampu teras rumah. Tapi, aku bisa melihat Rini tersenyum. Dia menangkap tanganku di pipinya. “Janji?”

“Janji.”

Januari 2023


Koran Ini Berhenti Terbit Besok

Okt 2022

Sebuah koran ternama dengan reputasi baik mengumumkan besok mereka akan menerbitkan edisi terakhir koran mereka. Generasi sebelumnya, yang tumbuh besar membaca koran tersebut, menyayangkan keputusan ini. Koran ini bukan koran pertama yang berhenti cetak.

Harmoni Dua Musim

Mei 2022

Nup melangkah keluar rumah. Langit berwarna biru cerah tanpa ada awan. Langit seperti inilah yang sudah ia tunggu-tunggu. Kemarin langit juga berwarna biru, namun masih ada semburat awan tipis di sana-sini. Nup mengangkat tangannya dan seketika itu juga langit runtuh. Warna biru digantikan oleh abu-abu gelap.

Cerita Jani_