ulasan buku

Coming Up for Air

karya George Orwell

Juli 2023

Coming Up for Air
Sampul Coming Up for Air edisi terjemahan Bahasa Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama. Foto diambil dari situs web penerbit.

Namun aku tetap melaju ke barat. Aku bagaikan buronan yang sedang kabur. Anehnya, begitu mobilku memasuki jalur Oxford, aku yakin mereka mengetahui rencanaku. Yang kumaksud dengan mereka adalah orang-orang yang tidak akan menyetujui perjalanan ini dan akan menghentikanku kalau mereka bisa–yaitu, hampir semua orang.
Aku bahkan merasa mereka sudah mulai mengejarku. Mereka semua! Semua orang yang tidak akan mengerti mengapa seorang pria separuh baya bergigi palsu tiba-tiba diam-diam mencari ketenangan selama sepekan di tempatnya menghabiskan masa kecil. Dan semua bajiangan berotak miring yang bisa mengerti, dan siap menjungkirbalikkan dunia dan akhirat untuk mencegahnya. Mereka semua tengah memburuku. Aku merasa seperti dikejar sepasukan tentara.

– halaman 235

Sentimentil, katamu? Antisosial? Lebih memihak pepohonan daripada manusia? Menurutku, ini tergantung pada jenis pohon dan manusianya.

– halaman 292
Coming up for Air oleh George Orwell

Bagai memancing di air keruh

Saya pertama kali kenal Orwell ketika menonton serial animasi PSYCHO-PASS. Makishima Shougo, salah satu tokoh utama dalam serial itu adalah penggemar Orwell dan animasi itu sendiri disebut-sebut mengambil dunia seperti dalam 1984. Coming Up for Air adalah buku Orwell kedua yang saya baca.

Narator cerita adalah George Bowling, seorang suami, ayah dua anak, yang bekerja sebagai agen asuransi. Diceritakan George punya kelebihan uang yang tidak diketahui Hilda, istrinya, dan hendak menghabiskan uang itu tanpa sepengetahuan Hilda. Sambil menentukan akan ia gunakan untuk apa lebihan uang itu, George bernostalgia membayangkan masa-masa hidupnya dari kecil hingga akhirnya menjadi agen asuransi.

George sebagai narator adalah pengamat yang mumpuni. Ia bisa menggambarkan perubahan-perubahan dari dunia tempat tinggalnya, cara hidupnya yang berganti-ganti dari masa ke masa, sambil menyelipkan pandangan-pandangannya dan orang-orang yang berhubungan dengannya pada keadaan di sekitar mereka.

Narasinya panjang, tapi saya menikmati ‘disetiri’ oleh George. Rasanya seperti perjalanan jauh naik mobil dengan penyetir andal. Perjalanan jauh jadi tidak terasa melelahkan dengan sopir seperti itu, kan? Setiap titik-titik perjalanan punya ritme yang menyenangkan. Mulai dari masa kecil George, masa remaja, perang, hidup George pasca perang, sampai ke hidup George yang sekarang.

Bagian paling menyenangkan buat saya adalah ketika George mendeskripsikan tentang Hilda yang suka menggerutu dan mengirit. Mulai dari pertemuan mereka, bagaimana mereka bisa menikah, sampai kebiasaan-kebiasaan Hilda setelah mereka menikah, hidup bersama, sampai bertahun-tahun hidup bersama Hilda. Entah mengapa, saya bisa dengan mudah membayangkan hubungan George dan Hilda dalam pasangan-pasangan kelas menengah di Indonesia. Sudut pandang George tentang perang dan kehidupan pasca perang juga menarik. Sebagai kelas menengah, George punya pandangan yang begitu sinis tentang perang. Dan ini sesuatu yang logis dalam novel ini karena George pernah turun di medan perang dan mengalami banyak perubahan setelah pulang dari perang. Kata George saat perang hampir menjelang lagi dalam hidupnya, “Aku bisa melihat perang yang akan datang dan keadaan sesudahnya, antrean makanan, agen polisi rahasia, dan pengeras suara yang mengatur-atur pikiranmu. Padahal aku bukan pakar. Ada jutaan orang seperti aku, orang biasa yang bisa ditemukan di mana-mana–pengunjung pub, sopir bus, dan agen pemasaran untuk firma peralatan berat–yang mendapatkan firasat bahwa dunia tengah berada di jalur yang salah.” (hlmn. 215). Pun, saya bisa merasakan kesenangan George untuk memancing dan memang kesenangannya itu yang menggerakkan George dalam novel ini.

Sayangnya, saya tidak bisa membedakan suara Bowling dan Orwell–novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Rasanya sulit memisahkan pandangan-pandangan keduanya, terutama tentang perang dan perubahan dari kehidupan rural ke industrial, ditambah dengan kesamaan nama depan mereka. Namun, saya tetap menyukai narasi Bowling. Jika bisa, suatu saat nanti saya ingin membuat narator seperti George. Sungguh pengalaman membaca yang menyenangkan bersama George (Orwell ataupun Bowling).

Dia memiliki jenis suara yang sepertinya bisa berkumandang tanpa jeda semalaman. Menyebalkan sekali, sebenarnya, disembur propaganda dari kerongkongan manusia lain selama berjam-jam. Lagu lama yang terus diulang-ulang. Benci, benci, benci. Mari kita berkumpul agar bisa mengungkapkan kebencian sampai puas. Lagi dan lagi. Rasanya sesuatu menyelusup ke kepalamu dan memukuli otakmu. (203)

Saking takut pada masa depan, mereka justru menerjangnya bagaikan kelinci yang masuk ke mulut ular boa pembelit (205)

“Kawanku! Tidak ada yang baru di bawah matahari.”
Tentu saja, itu pepatah kesukaan si tua Porteous. Dia enggan mengakui keberadaan hal baru. Setiap mendengar tentang sesuatu yang terjadi pada masa ini, dia akan bercerita tentang hal yang sama persis, yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Ini atau Itu. Bahkan untuk benda-benda semacam pesawat terbang pun dia akan mengatakan bahwa orang Kreta, atau Mykenai, atau apa pun itu, mungkin memilikinya. (214)

Hal yang benar-benar mengubahku, yang meninggalkan kesan mendalam pada diriku, justru bukan buku-buku yang kubaca, melainkan ketiadaan makna dalam kehidupan yang tengah kujalani. (167)

Setiap kota baru menempatkan kuburan di wilayah pinggiran. Gusur terus–jangan sampai kelihatan! Mereka tidak mau diingatkan pada kematian. (243)