ulasan buku

Aki

karya Idrus

Juli 2023

Aki
Sampul Aki edisi terbitan Balai Pustaka tahun 2018.

❝Aki mengenakan pakaiannya yang terbagus, seperti orang hendak pergi melancong. Pipinya merah tanda sehat. Setiap orang yang melihat dia, pasti tak akan menyangka bahwa Aki berapa jam lagi akan mati. Ia mengenakan pakaiannya yang terbagus itu, karena ia akan menyambut tamu dari jauh, malaikatmaut dari langit.❞

– halaman 45, Aki
oleh Idrus

Apa kamu tahu kapan kamu mati?

Seseorang di twitter merekomendasikan Aki pada saya. Saya tidak ingat pertanyaan apa yang saya lontarkan hingga mendapat rekomendasi buku ini. Untungnya saya menemukan Aki di perpustakaan dengan terbitan yang relatif baru. Saya ingat pernah menemukan Aki edisi lama di sebuah toko buku kecil. Waktu itu saya tidak membelinya, hanya merasa sepertinya ini buku yang menarik. Saya lupa apa yang membuat saya merasa seperti itu padahal saya hanya melihat sampulnya.

Dan ternyata buku ini memang menarik. Aki menceritakan seorang pria bernama Aki yang tahu kapan dirinya akan meninggal. Awalnya diceritakan Aki sudah sakit-sakitan dan begitu dirinya tahu kapan akan meninggal, tubuh Aki menjadi sehat. Ia menjalani hari-hari terakhirnya bersama istrinya, dalam keadaan bugar.

Teman-teman Aki yang tahu Aki sakit-sakitan heran melihat Aki menjadi sehat. Aki memberi tahu mereka kalau dirinya akan meninggal. Pada hari yang disebutkan oleh Aki–hari yang bisa dibilang ‘keramat’ untuk bangsa ini–teman-temannya berkumpul di rumah Aki, menunggu apakah Aki benar-benar akan mati.

Apakah Aki memang mati pada hari yang dikatakannya? Setelah Aki mati, apa yang terjadi? Apa istri dan teman-temannya sedih karena Aki akan mati? Kematian dalam Aki bukan kematian yang menyedihkan. Kematian dijadikan perayaan, kehidupan dijadikan permainan sebelum perayaan kematian.

Buku ini tipis, kurang dari 100 halaman. Saya menghabiskannya dalam sekali duduk di perpustakaan. Mungkin hanya butuh waktu sekitar 1-2 jam untuk membacanya. Singkat, tapi ceritanya cukup membekas.