Cara cerita sampai ke pembaca
Salah satu titik fokus yang saya perhatikan saat membaca novel, cerpen, atau karya fiksi lain adalah SIAPA yang sedang bercerita? Perempuan di Titik Nol bisa jadi contoh bagus bagaimana cerita milik tokoh sampai kepada pembaca. Pembahasan saya akan mengundung spoiler. Sila lanjutkan membaca jika kamu tidak keberatan.
Buku ini terbagi dalam tiga bab saja, dan menurut saya pembagian bab tersebut berhubungan untuk menunjukkan siapa yang bercerita dalam novel ini. Berikut adalah foto paragraf pembuka dari bab pertama dan bab kedua. Perhatikan pembukaan kedua bab ini.
Cara cerita disampaikan dalam Perempuan di Titik Nol amat sederhana. Bisa dilihat dari paragraf pembuka masing-masing bab kalau ada dua tokoh berbeda yang jadi juru cerita. Pada bab pertama juru cerita adalah seorang psikiater yang ingin menemui seorang wanita bernama Firdaus di sebuah penjara. Bab kedua Firdaus bercerita kepada si psikiater. Bab ketiga juru cerita kembali dipegang psikiater sampai akhir buku.
Kita—pembaca—tidak mendengar cerita Firdaus secara langsung karena Firdaus sebenarnya bercerita hanya kepada si psikiater yang menemuinya di penjara. Pembaca membaca cerita Firdaus, tapi sebenarnya kita mendengarkan cerita Firdaus kepada si psikiater. Seandainya tokoh psikiater tidak menyampaikan cerita pertemuannya dengan Firdaus, kita tidak akan tahu cerita hidup Firdaus. Sementara, isi cerita si psikiater adalah ia berusaha agar Firdaus berkenan menemuinya, dan berakhir dengan Firdaus bersedia menemui si psikiater di penjara tepat sebelum Firdaus dieksekusi. Buku yang sudah tipis ini bakal lebih tipis lagi kalau bab dua—bab yang menjadi seluruh cerita Firdaus—dihilangkan.
© 2025 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Mari berandai-andai lagi. Kenapa penulis memilih penjara sebagai tempat Firdaus menyampaikan ceritanya kepada si psikiater? Padahal cara penyampaian cerita seperti itu bisa dilakukan di mana pun. Bayangkan Firdaus dan si psikiater bertemu di kafe estetik dengan penerangan benderang, lalu saling mengobrol. Atau mungkin di tepi laut dengan angin sepoi-sepoi, dan siraman cahaya matahari? Di sinilah pemilihan latar cerita disampaikan jadi penting karena nuansa cerita di penjara dan di kafe estetik atau di laut akan berbeda. Ditambah lagi pemilihan waktu Firdaus bersedia menemui si psikiater: sebelum dirinya dieksekusi dan cerita hidupnya menjadi tiada. Efek yang diterima pembaca saat membaca cerita jadi berbeda.
Salah satu efek yang saya perhatikan dalam Perempuan di Titik Nol adalah cara Firdaus menyampaikan cerita. Perhatikan bab dua dimulai dengan kalimat:
Biarkan saya berbicara, jangan memotong pembicaraan saya.
Satu kalimat ini berhasil mengendalikan seluruh naratif cerita menjadi milik Firdaus. Dalam keseluruhan cerita Perempuan di Titik Nol, cerita hidup Firdaus sebagian besar berada di bawah kuasa pihak laki-laki dan Firdaus tidak punya kendali menentukan jalan hidupnya sendiri. Meski cerita hidup Firdaus digambarkan berada di bawah kuasa pihak lain, dengan satu kalimat pembuka tersebut saya mendapat kesan Firdaus mengendalikan ceritanya sendiri dan tidak ada yang berhak menyampaikan cerita ini selain dirinya sendiri. Secara keseluruhan, pemilihan tempat cerita disampaikan, waktu penyampaian cerita, dan cara Firdaus bercerita menunjukkan kelihaian penulis untuk memberikan efek yang tepat dalam menyampaikan cerita hidup Firdaus.