Jumlah kata: 939 kata
Saya ingin menutup akhir tahun dengan tulisan ringan. Sepertinya ini tulisan saya yang paling klise. Tentu saja tentang cinta 😂
Aku tidak tahu mana yang mulai lebih dulu: patah hati atau jatuh cinta. Bagiku keduanya seperti siklus cuaca. Musim-musim yang berganti-ganti tanpa tahu kapan tepatnya semua dimulai.
Aku selalu memulai cerita ini dari fase (musim) patah hati. Seperti melihat tanda-tanda kedatangan musim hujan, aku bisa melihat tanda-tanda ketika kekasihku tidak jatuh cinta lagi padaku. Tanda-tanda musim hujan makin dekat yang paling jelas bagiku adalah makin sering melihat kecoak, atau serangga lain, di dalam rumah, udara makin gerah tapi hujan tidak turun-turun. Lalu tanpa kusadari musim sudah berganti jadi musim hujan dan aku belum bersiap. Sampai-sampai tidak pernah sempat menyediakan payung lipat tiap hendak pergi keluar atau memakai sandal jepit murah supaya sepatu yang lebih mahal tidak cepat kotor karena terlalu banyak genangan di musim ini. Sementara tanda-tanda kekasihku tidak jatuh cinta lagi padaku adalah pesan-pesan singkat yang benar-benar singkat (yang biasanya ia bisa mengirim pesan sampai seratus kata di tiap pesannya, makin berkurang hingga hanya tidak lebih dari lima kata). Jika kuajak bertemu ia selalu beralasan ada urusan lain.
Dan BAM! ketika kami bertemu tiba-tiba dia bilang dia ingin mengakhiri hubungan kami. Seperti musim hujan, bukan? Entah kapan musim berganti dan tiba-tiba genangan air sudah begitu lebar dan dalam. Di situs berita daring akan ditulis: ‘Ini Dia 5 Penyebab Banjir di Jalan K!’. Padahal penyebabnya lebih dari lima dan itu pun masih perlu diteliti lebih lanjut.
Akibatnya tidak selalu langsung kurasakan saat itu juga. Efeknya lebih terasa ketika aku sudah sendirian. Kenapa? Sejak kapan? Apa hubungan ini sudah keliru sejak awal? Apa ada orang lain yang lebih menarik? Pikiranku tidak fokus dan justru terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Masih dalam fase patah hati, aku mencoba mengungkapkannya menjadi ‘sesuatu’ karena aku tidak mau terus-terusan memendam pertanyaan-pertanyaan itu. Ada banyak pilihan ‘sesuatu’ yang bisa kubuat: jadi ratapan, teriakan, coretan, sajak, tulisan, masakan. Bisa juga kujadikan candaan atau jalan-jalan dengan teman, tapi yang dua ini cukup sulit bagiku.
Biasanya ketika patah hati itu sudah berubah wujud jadi ‘sesuatu’, semua kebingunganku itu akan segera berlalu. Biasanya. Pernah juga aku sudah membuat banyak ‘sesuatu’ tapi kebingunganku masih belum hilang. Lalu aku bisa apa?
Aku tidak bisa apa-apa. Terus saja kubuat ‘sesuatu’ untuk menghilangkan kebingunganku. Lebih lama dari durasi musim hujan, tapi patah hatiku akan berubah di musim yang tepat, ketika aku akhirnya jenuh meratap, berteriak, membuat coret-coret sajak sedih, memasak dan makan sendirian.
Tentu musim patah hati itu tidak langsung berubah. Ada masa-masa ketika aku tidak bisa membedakan apakah saat ini sedang musim hujan atau musim kemarau. Hujan masih suka turun dan matahari juga tidak mau mengalah pada awan hujan. Aku sudah tidak berada dalam fase patah hati, tapi belum berada dalam fase jatuh cinta. Pada waktunya nanti aku akan jatuh cinta lagi, mungkin pada orang yang sama, mungkin pada orang yang berbeda. Tapi saat ini aku tidak melakukan apa pun. Biarkan saja menunggu musim berikutnya.
Tanda pertama yang paling mudah kukenali dari musim jatuh cinta adalah rasa penasaran. Siapa orang ini? Kenapa aku baru bertemu dengannya sekarang? Aku akan berusaha mencari tahu sebanyak mungkin tentang dia.
Aku akan berusaha menghubunginya sesering mungkin, tapi tidak keseringan agar ia tidak merasa terganggu. Menanyakan kabarnya setiap beberapa hari sekali, rencananya di akhir minggu, dan kalau dia luang tentu saja itu peluang untuk bertemu dengannya. Kalau jarak kami cukup jauh, ya, terpaksa hanya berhubungan lewat semua jalur komunikasi yang tersedia. Di masa sekarang harusnya banyak pilihannya. Terlalu banyak malah dan kadang membuat rumit.
Inilah pergantian musim. Daftar putar lagu yang kudengar bukan lagi tentang patah hati, perpisahan, atau hujan, melainkan tentang jatuh cinta, harapan, rindu dengan keyakinan kalau dia juga memikirkanku. Aku paling menikmati masa-masa ini dibandingkan masa-masa yang lain.
Aku tidak puas hanya memikirkannya sendirian. Aku juga ingin tahu apa yang dia pikirkan. Menikmati masa-masa ini sendirian ternyata tidak cukup memuaskan. Aku ingin memastikan kalau aku tetap ada di masa-masa hidup dia nanti. Kumulailah skenario-skenario agar dia menerimaku dalam hidupnya. Aku tidak sadar aku sudah menanamkan skenario itu sejak penasaran siapa dirinya sebenarnya. Layaknya matahari tidak sadar kalau dialah penyebab air menguap sampai jadi awan hujan.
Kemudian, kunyatakan perasaan itu. Bahwa aku menyukainya. Tentu ada dua kemungkinan. Dia tidak punya perasaan yang sama denganku atau dia punya perasaan yang sama denganku.
❈❈❈
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Kemungkinan Satu
Musim hujan datang dengan tiba-tiba. Tanpa didahului rintik dan gerimis, langsung badai yang datang. Aku sudah melihat pertandanya! Bagaimana bisa aku keliru? Musim panas yang sejuk berakhir dalam badai. Siklusku berganti karena aku salah membaca pertanda. Dia ternyata tidak punya perasaan yang sama sepertiku.
Tapi, ini bukan akhir dari siklus karena siklus tidak berakhir. Aku kembali berada dalam fase (musim) patah hati.
Mungkin juga ini adalah akhir dari siklusku. Karena terlalu jenuh berputar-putar dalam siklus yang sama, aku pun memutuskan mengakhirinya. Aku tidak berusaha mempunyai hubungan percintaan lagi hingga aku mati.
Kemungkinan Dua
Musim panas berjalan lebih panjang dari yang diperkirakan dan aku tidak keberatan meski udara lebih panas. Ini musim yang hangat.
Dia juga punya perasaan yang sama denganku. Kami sama-sama ingin ada di hidup yang lain di musim-musim berikutnya. Butuh upaya yang seimbang dari kami masing-masing. Semakin lama kami mengupayakan hubungan ini, semakin banyak musim-musim yang bisa kami lalui bersama.
Suatu saat nanti mungkin fase ini akan berubah jadi fase (musim) patah hati. Entah apa penyebabnya karena seperti yang sudah-sudah. Penyebabnya bisa jadi lebih dari lima dan masih perlu kudalami jika aku ingin mengetahui penyebab sebenarnya.
Tapi selalu ada kemungkinan inilah akhir dari siklus percintaanku. Aku baru akan mengetahuinya nanti, ketika aku meninggal dan aku masih bersamanya.
Desember 2021
Des 2021
Sebuah dumelan tentang kota kelahiran saya.
Jul 2021
Dicuri dengar pada 29 Juli 2021.
Cerita Jani_