Jani Hakim

by Jani Hakim

Menyulam cerita

Coba Lagi, Besok

Jumlah kata: 853 kata

Saya selalu ingin membuat narasi berdasarkan suatu foto. Jadi, kenapa tidak dicoba? Mulai dari yang paling dekat: tempat tinggal saya saat ini.

Peringatan: setelah saya baca ulang sebelum saya unggah, tulisan ini sepertinya cuma dumelan saya 😮‍💨


Saya lahir dan menghabiskan masa sekolah saya di kota ini, tapi setiap kali keluar rumah saya merasa kota ini adalah kota yang asing buat saya. Bagaimana jalan itu bisa sampai berlubang? Kapan gedung itu dibangun? Kenapa para pengendara kendaraan tidak pernah saling memberi jarak satu sama lain? Bagaimana bisa jalan layang bisa sampai saling-silang, tumpuk-tumpukan begitu? Saya tidak pernah merasa punya memori yang melekat tentang kota kelahiran saya. Mungkin ada, tapi memori itu dengan cepat ditimpa dengan perubahan di kota ini.

Bagi saya kota ini adalah kota yang aneh. Perubahannya terlalu cepat di beberapa bagian, tapi juga ada tempat-tempat yang tidak pernah berubah. Sewaktu sekolah dulu saya dan kawan-kawan sering berangan-angan betapa kerennya kalau di sini sampai dibangun kereta bawah tanah macam di negara maju. Belasan tahun kemudian gurauan itu jadi kenyataan. Kereta bawah tanah itu memang keren, tapi kota ini ternyata tetap menyebalkan. Mobil tidak berkurang karena jalan raya tidak berkurang. Pedestrian yang nyaman untuk berjalan kaki tambah banyak, tapi banyak juga tempat-tempat yang tidak menyenangkan untuk jalan kaki. Dalam diri, saya meyakini serta mengamini kalau saya tidak akan bisa mencintai kota ini sepenuhnya. Bangun dan mendapati saya masih di kota yang sama membuat saya sesak.

Saya pernah tinggal di kota berbeda selama beberapa tahun, juga pergi ke kota-kota lain meski hanya kunjungan singkat satu-dua hari. Tiap kali berada di tempat selain ibu kota, saya merasa lebih bahagia. Bangun pagi hari dengan lebih segar dan pikiran lebih jernih. Lebih sering dapat senyum pula dari orang lain. Bukan berarti di kota kelahiran saya itu, tidak pernah ada yang tersenyum pada saya. Saya beri garis bawah: lebih sering.

Sering saya memberi tahu teman-teman saya kalau saya tidak betah dan ingin keluar dari kota ini, tapi keinginan itu belum terjadi. Padahal dengan mudahnya saya bisa segera pergi. Cukup naik kendaraan umum apa pun yang tersedia dan dalam satu jam saja saya sudah berada di tempat lain. Satu-satunya yang mengikat saya dengan kota ini adalah semua keluarga saya ada di sini. Baik keluarga inti atau keluarga besar. Malah sedikit sekali keluarga saya yang ada di luar kota.

“Duit itu muternya di sini.” Seorang teman pernah berkata seperti itu pada saya. Sama seperti saya, dia juga sebenarnya tidak suka dengan kota ini, dan tiap kali kami bertemu kami mengeluhkan hal-hal yang sama. Teman saya ini sama seperti saya, dari lahir, sekolah, dan bekerja masih tetap di kota ini.

© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Saya baru menyadari daya tarik kota ini ketika seorang teman dari luar kota datang berkunjung. Bagi teman saya ini, banyaknya gedung tinggi yang saling berdekatan adalah hal yang menakjubkan. Begitu juga dengan pilihan transportasi umum yang begitu banyak dibandingkan di kota asalnya. Banyaknya pilihan hiburan di kota ini sampai dia mengira tidak mungkin ada yang sedih di sini. Mendengar dia dengan semangat bertanya ini-itu pada saya tentang kota ini membuat saya berpikir ulang. Oh, ternyata hal-hal yang menyesakkan bagi saya, menarik bagi teman saya ini. Saya turut senang karena ternyata ada hal menyenangkan yang bisa saya bagi dari kota ini bersama dia.

Sayangnya, takjubnya teman saya itu tidak bertahan lama. Dua tahun kemudian dia berkata pada saya, “Sekarang aku paham kenapa kamu memilih tidak pulang untuk waktu yang lama.” Saya hanya bisa tertawa mendengarnya. Tidak lama setelah pembicaraan itu, dia memutuskan pindah ke kota lain.

Ada lagi teman saya yang pernah merasakan kesesakan yang sama seperti saya, tapi dia mengatakan hal yang membuat saya tergelitik.

“Keindahan kota itu bukan terletak di gedung-gedung atau pemandangan. Kalau dari segi landscape keindahannya ada ketika malam hari, tapi kalau dari segi kultural, keindahan kota itu ada pada manusia-manusia murni yang ada di dalamnya: mereka yang tidak menggadaikan identitas dan mereka yang bertahan memperjuangkan harapan.”

Bah. Pernyataan dia langsung saya balas dengan, “Kamu suka pemandangan malam kota ini dengan lampu-lampunya itu? Buatku itu bukti manusia yang diperbudak dan nggak bisa istirahat. Bayangkan berapa banyak energi yang dihabiskan semua lampu itu. Belum lagi kalo ngebayangin di dalam gedung-gedung yang lampunya nyala itu ada manusia-manusia yang masih lembur, merelakan waktu sama keluarga mereka. Dan karena lampu-lampu itu juga bintang jadi nggak keliatan. Meski aku setuju, aku juga kagum dengan orang-orang yang berjuang itu.”

Memang, teman saya itu terlalu optimis dan saya terlalu pesimis. Kami tidak pernah membahasnya lagi.

Setelah selama dua tahun ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, saya melakukan hal paling menyenangkan buat saya di kota ini: naik kereta listrik yang mengelilingi kota ini dan kota-kota penunjang di sekitarnya. Saya turun di tengah kota dan berjalan kaki sedikit, lalu kembali ke stasiun ketika sudah gelap dan naik kereta lagi.

Lagi-lagi, saya merasakan itu: ketidaksukaan saya dengan kota ini. Keheranan saya pada orang-orang yang bertahan di sini entah karena terpaksa atau alasan-alasan lain. Keengganan saya untuk berusaha menyukai kota ini sedikit saja.

Ya, ini hanya tulisan untuk mengungkapkan betapa tidak sukanya saya dengan Jakarta. Mungkin besok-besok saya akan mencoba lagi untuk suka dengan Jakarta.

Desember 2021


Judul-judulan (1)

Jul 2021

Dicuri dengar pada 29 Juli 2021.

Menambah Rasa Hambar

Mei 2021

Apa rasamu?

Cerita Jani_