by Jani Hakim

Menyulam cerita

Turunan-Turunan Raja

Jumlah kata: 528 kata

Saya punya titik lemah pada cerita bergenre sports drama. Genre ini selalu bisa membuat emosi saya naik-turun. Melihat sehari-hari atlet latihan untuk kompetisi jadi terpacu untuk ikut olahraga (meski semangat itu seringkali tidak awet), tapi saya juga bisa menangis haru menonton hari-hari latihan atlet yang bisa makan waktu tahunan demi pertandingan beberapa jam, dan emosi-emosi lain dalam usaha menyeimbangkan porsi latihan dan kehidupan pribadi.

Minggu lalu saya menonton film King Richard, sports drama berdasarkan biografi Richard Williams. Jujur, ketika membaca judulnya saya pikir ini film tentang Raja Richard kepala monarki Inggris pada abad lampau ✌🏿

Untuk ukuran sports drama King Richard ini unik dari segi cerita dan tokoh yang diambil. Protagonis adalah Richard Williams, ayah Venus dan Serena Williams. Dalam film digambarkan kalau Richard membuat rencana untuk dua putrinya menjadi petenis profesional bahkan dari sebelum mereka lahir. Di film tidak digambarkan apa motivasi Richard begitu ngotot anak-anaknya pasti bisa menjadi petenis profesional dan bukan olahraga lain. Selesai menonton film dan membaca-baca artikel di internet, ternyata Richard memang punya latar belakang tenis.

Hal yang paling menarik buat saya (dan saya rasa masih membuat penasaran dunia tenis) tentu keputusan dia untuk tidak mengikutkan anak-anaknya dalam turnamen junior meski sebelumnya Venus punya rekor yang mencengangkan. Alasannya pun, ya, tidak umum untuk atlet yang mengincar karir profesional di masa itu. Dia ingin anak-anaknya merasakan masa anak-anak mereka dan tidak memikirkan kompetisi. Dia juga ingin anak-anaknya tetap mengutamakan edukasi. Padahal dari awal tujuan Richard jelas: ia merencanakan anak-anaknya jadi pemain profesional. Di sisi lain ia selalu menekankan untuk bersenang-senang di tiap turnamen dan juga kompetisi sehat.

Saya paling senang adegan ketika Venus kalah dari Sanchez di West Bank Tournament lalu dia sedih dengan kekalahannya. Richard dan Oracene menghampiri Venus selesai pertandingan, lalu Venus mengungkapkan rasa sedihnya kalau dia kalah keluarga mereka akan kehilangan sponsor dan sumber duit lainnya yang jadi tujuan Richard selama ini. Bahwa dia sudah mengecewakan ayahnya yang menggantungkan harapannya pada dia. Tapi, Richard dan Oracene bilang pada Venus dengan bilang dia tetap bangga dengan Venus, dan Venus harus bangga pada dirinya sendiri karena dia berhasil bikin Sanchez, pemain nomor satu saat itu kewalahan melawan dia sampai dua jam.

Film diakhiri dengan pencapaian Venus dan Serena di dunia tenis serta rekaman-rekaman asli video keduanya bersama Richard ketika mereka masih kecil. Apakah keberhasilan keduanya karena keputusan Richard mengambil jeda dari kompetisi sewaktu mereka masih kecil?

© 2022 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.

Richard tidak digambarkan sebagai sosok sempurna. Ada adegan-adegan yang menggambarkan ketidaksempurnaan Richard. Hanya sekelumit dibandingkan gambaran dia sebagai coach dan ayah yang siap melindungi keluarga dan bekerja keras agar anak-anaknya keluar dari situasi mereka yang tertekan secara rasial.

King Richard tidak seperti film sports drama lain yang pernah saya tonton. Film ini tidak seperti Haikyuu!! yang berapi-api dan diisi kerja keras, Moneyball yang penuh taktik dan statistik, The Blind Side yang haru dan hangat, atau Slam Dunk yang banyak rivalitas antarkarakter dan antartim. Buat saya, emosi film King Richard terasa amat personal—Venus dan Serena juga diberi kredit sebagai eksekutif produser film ini. Film ini tidak terasa tentang pelatih Venus dan Serena. Lebih seperti film tentang mimpi, harapan, dan kerja keras seorang ayah pada putri-putrinya.

Mei 2022


Manusia Kelelawar dan Manusia Badut

Mar 2022

Buat saya, hubungan antarkarakter paling sempurna adalah hubungan antara Batman dan Joker.

Dengan Buku*

Jan 2022

Buku-buku yang membuat saya senang pada tahun 2021.

Cerita Jani_