Jumlah kata: 1.102 kata
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba esai bertema krisis seperempat abad atau bahasa Inggrisnya quarter life crisis. Tentu saja tulisan ini tidak menang, karena itu pengarang mengunggahnya di blog ini. đ
Menuliskan hal ini seperti menulis cerita bertema pandemi. Ingin memberikan akhir yang bahagia, namun akan dihiasi banyak kehilangan. Ditambah lagi ketidakpastian di masa depan.
Krisis ini sering menguasai pikiran mereka yang baru jadi dewasa. Masa sekolah sudah selesai dan saatnya masuk bermasyarakat. Tidak ada lagi menyalin PR teman yang lebih pintar, ketemu teman sekelas yang itu-itu saja setiap hari, jadwal pelajaran yang berulang dalam siklus satu minggu, ketemu guru yang sama tiap minggu kecuali gurunya tidak masuk kelas dan digantikan guru lainâini kenangan penulis saat SMA dulu. Katanya hidup baru akan dimulai.
Memang di masa-masa sekolah itu kita nggak hidup?
Bukan begitu. Di usia dewasa ini, kita akan mulai menjalani hidup kita masing-masing. Setiap pilihan yang kita ambil, kita yang akan menanggung risikonya. Dari dependent pada orang yang lebih dewasa menjadi independent.
Coba kita simak cerita berikut:
Di usia sembilan belas kamu menjalin hubungan mesra dengan sebut saja V. Kalian kuliah di kampus yang sama. Pindah kos sebelah-sebelahan, bisa saling bantu angkat jemuran kalau tiba-tiba hujan. Kalian selalu saling dukung dan yakin kalau kalian akan terus bersama-sama.
Kemudian di usia dua puluh dua tahun, kebetulan V lulus lebih dulu dari kamu. Dengan ijazah yang masih wangi dia melamar kerja ke berbagai perusahaan dan diterima. Tapi ternyata perusahaan ini berada di pulau yang berbeda. Kalian akan terpisah. Kosan kalian tidak hanya beda kelurahan, tapi beda pulau!
Kamu menyesal karena selama V tekun mengerjakan skripsinya, kamu sibuk dengan usaha sate padang kekinian yang kamu rintis bersama teman-teman kamu yang lain. Kamu tahu V ingin lulus kuliah tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih cepat lebih baik, karena V punya lima adik dan ingin membantu orangtuanya membiayai adiknya yang lain. Awalnya kamu membuka usaha karena ingin mencukupi biaya hidup kamu selama kuliah tapi keterusan karena ternyata banyak yang suka dengan sate padang kamu.
Apakah hidup kamu berakhir? Tentu tidak. Cerita kamu dan V masih bersambung.
Jemuran kamu jadi lebih sering kehujanan karena tidak ada yang mengangkat kalau kamu sedang tidak di kos. Kalian tidak mengakhiri hubungan kalian karena percaya cinta bisa mengalahkan jarak.
Kalian kini berada di pulau yang berbeda. Kamu ingin mengirimkan barang pada V supaya dia tahu kamu selalu memikirkan dia. Tapi ongkos kirim beda pulau ternyata lebih mahal dari harga barang yang ingin kamu kirim. V sedikit kecewa, tapi dia mengerti. Toh hubungan kalian tidak diukur dari barang.
Usaha sate padang kamu yang mulanya terlihat menjanjikan belakangan tersaingi oleh usaha sate padang yang sejenis. Rekan usaha kamu membawa lari uang yang harusnya diberikan untuk pemasok ketupat. Kamu masih optimis meskipun kini kesibukan kamu bertambah karena harus mengejar skripsimu.
Kamu hanya bisa menghubungi V di jam-jam tertentu karena dia ditugaskan di site yang belum terjangkau sinyal komunikasi. Kamu ingin curhat tentang usaha, skripsi, dan jemuran kamu, tapi kamu harus menunggu V yang akan menghubungi kamu lebih dulu. Akhirnya cerita yang kamu simpan-simpan di dalam kepala kamu keburu lupa dan hilang. Ketika V akhirnya menghubungi kamu, kamu hanya menceritakan hal-hal yang menyenangkan.
V pikir hidup kamu baik-baik saja tanpa kehadiran dia karena kamu selalu senang tiap kalian sedang saling meneleponâsinyal komunikasi tidak cukup kuat mengunduh data video. V semakin jarang menghubungi kamu.
Apakah ceritamu dan V sudah tamat? Ya, cerita kamu dan V sampai di sini. Kamu tidak pernah lagi berhubungan dengan V.
Apakah hidup kamu berakhir di sini? Tentu tidak. Hidup kamu masih akan bersambung.
Kamu tidak bisa membagi waktu kamu. Akhirnya kamu lebih memilih mengembangkan usaha kamu dan mengabaikan skripsimu. Keluarga kamu muntab. Kamu mencoba memberikan pengertian pada mereka, membawakan sate padang untuk membujuk mereka. Tapi mereka hanya bisa dibujuk dengan ijazah sarjana. Kamu memilih menjauh dari mereka untuk sementara.
Apakah akhirnya hidup kamu tamat? Masih belum.
Selama lima tahun kamu fokus dengan usaha sate padang kamu. Kamu sengaja hanya membuka kedai di satu tempat sehingga sate padang kamu hanya ada satu-satunya di penjuru negeri. Kedai sate padang kamu menjadi tujuan wisata kuliner para turis.
Orangtuamu masih belum menerima pilihan hidupmu. Padahal kamu mengirimkan sate padang untuk mereka setiap bulanâyang akhirnya justru disantap kakak kamu yang tinggal bersama mereka. Tapi setidaknya kamu sudah berani pulang ke rumah mereka sesekali saat ada hari libur.
Di usia dua puluh tujuh tahun, kamu ingin membuka usaha lain selain sate padang. Relasi kamu semakin luas. Ilmu bisnis kamu makin terasah. Kamu membuka bisnis ekspedisi antarpulau dengan harga terjangkau. Kamu tidak ingin orang lain bernasib seperti kamu dan V dulu.
Apakah hidup kamu akhirnya dimulai di titik ini? Ketika kamu sudah sukses? Tidak. Hidup kamu sudah dimulai jauh sebelumnya.
Ini versi cerita yang cukup bahagia. Tentu ada kemungkinan lain di mana kamu terlilit utang atau mungkin kamu akhirnya menikah dengan V tapi kalian bercerai di usia empat puluh empat tahun.
Cerita ini bukan pengalaman pribadi penulis, tapi penulis merasakan hal yang mirip. Penulis mengira hidupnya sudah selesai ketika lulus SMA dan berkuliah di luar kota kelahiran penulis. Ternyata hidup penulis bukan tamat, melainkan menambah episode baru. Pun setelah kuliah, penulis kembali ke kota kelahiran dan mengira hidupnya telah selesai. Ternyata tidak juga. Penulis masih harus menjalani jalan hidup yang dipilihnya.
Ketika libur natal tahun lalu, penulis menonton film Soul keluaran studio animasi Pixar. Diceritakan tokoh utama film itu bercita-cita sebagai pianis jazz. Hidupnya sederhana dan dia hanya memikirkan tentang jazz. Di hari dia mendapat kesempatan untuk manggung bersama musisi jazz terkenal, dia justru tewasâbagi yang belum menonton fimnya, jangan membayangkan penyebab kematian tokoh utama ini misterius atau penuh kekejaman.
Roh si tokoh utama yang sudah mati mengembara di dunia astral, berusaha kembali ke tubuhnya sebelum waktu pertunjukkan dimulai. Singkat cerita tokoh utama berhasil manggung bersama musisi jazz yang lain.
Tapi setelah itu ia justru merasakan kegamangan. Setelah ini apa?
© 2021 Cerita Jani_ oleh Jani Hakim. Sumber: ceritajani titik denganjudul titik page.
Penulis berpendapat kegamangan inilah penyebab utama krisis ini. Ketidaktahuan tentang banyak hal karena tidak ada yang bisa mengajari hal-hal ini. Kalaupun ada, setiap dari kita berbeda sehingga hidup pun akan berbeda. Bahkan anak kembar sekali pun yang dilahirkan di keluarga yang sama dan tumbuh di lingkungan yang sama. Apakah ada orang dewasa yang benar-benar menguasai ilmu kedewasaan?
Belajar kembali, menyesuaikan diri lagi, mencari tempat yang benar-benar sesuai dengan kita. Ketidakpastian selalu bisa muncul kapan saja. Kehilangan adalah keniscayaan. Rasa takut selalu ada setiap kali kita membuat pilihan. Berharap pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang tepat karena kita sendiri yang akan bertanggung jawab pada pilihan ini.
Dan ketika kita menunggu pilihan kita membuahkan hasil yang kita harapkan, kita baru sadar kalau kita sedang menjalani hidup.
Mei 2021
Cerita Jani_